Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Nasib Saudi Setelah Pembunuhan Khashoggi

Arab Saudi mengakui pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Kelanjutan Mohammed bin Salman sebagai pewaris tahta kerajaan jadi tidak pasti.

Butuh 18 hari bagi Arab Saudi untuk mengakui bahwa jurnalis Jamal Khashoggi dibunuh di kantor Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul Turki, 2 Oktober silam. Pengakuan itu mengemuka pada 21 Oktober lalu, saat Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, diwawancarai oleh stasiun televisi Fox News. “Kami bertekad mencari tahu semua faktanya. Dan kami juga bertekad untuk menghukum semua yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” kata Adel.

Menurut Adel, pihak yang melakukan pembunuhan terhadap Khashoggi telah melakukan operasi liar dan bertindak di luar kewenangan, Ia bahkan memastikan bahwa pemimpin tertinggi dari badan intelejen Arab Saudi tidak mengetahui skenario pembunuhan tersebut. “Jelas ada kesalahan besar di sini. Dan yang membuatnya makin parah adalah ada upaya untuk menutup-nutupinya,”ujarnya.

Kendati sudah ada pengakuan mengenai pembunuhan Khashoggi, Adel tidak lantas mengakui adanya keterlibatan Pangeran Mohammed bin Salman seperti yang sejauh ini dituduhkan.

Namun, tidak semua pihak ragu mengenai keterlibatan sang pangeran. Yeni Safak, media harian yang dianggap punya kedekatan dengan Pemerintah Turki, mengabarkan bahwa mereka punya informasi yang menunjukkan bahwa kantor Pangeran Mohammed bin Salman mendapat empat kali panggilan telepon dari konsulat setelah Khashoggi dianggap tewas.

Surat kabar Yeni Safak sudah beberapa kali membocorkan hasil investigasi Turki di kasus kematian Khashoggi. Contohnya informasi mengenai salah satu staf konsulat, Maher Mutreb, yang menggunakan telepon seluler pribadinya untuk menghubungi kantor P:angeran Mohammed bin Salman. Selain itu, ada juga nomor dari Amerika Serikat yang diduga kepunyaan Pangeran Khaled bin Salman, adik Mohammed bin Salman. Khaled sendiri dikabarkan pergi meninggalkan Amerika Serikat setelah Khashoggi menghilang.

Setelah ada pengakuan resmi dari Kerajaan mengenai pembunuhan Khashoggi, beredar kabar bahwa putra mahkota Muhammad bin Salman dicopot dari statusnya sebagai pengganti Raja Salman. Kabar yang dikutip dari Saudi Press Agency dan dilansir oleh Elwatannews itu mengatakan, posisi sebagai putra kahkota akan diisi oleh Pangeran Khalid bin Salman, adik Mohammed bin Salman.

Sebelumnya, Pangeran Khalid bin Salman adalah Duta Besar Arab Saudi di Amerika Serikat. Ia berkantor di Washington DC sejak Juli 2017 lalu. Penempatan anak raja di Amerika Serikat itu pernah dianggap sebagai upaya Arab Saudi untuk memperbaiki hubungan dengan AS. Karena ada perwakilan langsung dari Raja Arab di dekat Donald Trump.

Kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington juga sebenarnya tidak terlalu asing bagi pangeran Khalid. Karena ia pernah menjadi penasihat di kedutaan itu. Ia juga punya rekam jejak di militer Saudi. Ia pernah menjadi penasihat di Kementerian Pertahanan Arab Saudi, bahkan pernah menerbangkan pesawat tempur F-15 dan bertugas dalam misi tempur Arab Saudi di Yaman dan Suriah.

Dalam kasus terbunuhnya Khashoggi, sebenarnya posisi Khalid tidak bersih-bersih amat. Ia sebelumnya pernah mengeluarkan pengumuman resmi yang menyangkal tentang tewasnya sang jurnalis. Delapan Oktober lalu, atau lima hari setelah Khashoggi menghilang, Khalid menyatakan bahwa kabar kematian itu adalah bohong dan tidak berdasar.

Menurut keterangan yang dilansir oleh kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di AS, Jamal Khashoggi adalah warga negara Arab Saudi yang menghilang setelah meninggalkan gedung konsulat mereka di Istanbul, Turki.
“Setelah otoritas Turki dan media massa diperbolehkan memeriksa keseluruhan gedung konsulat, tuduhan itu berubah. Bahwa Khashoggi dibunuh, di gedung konsulat, saat jam kerja, dengan lusinan staf dan tamu masih di dalam gedung,” kata Khalid, seperti dikutip dari BBC. “Saya tidak tahu siapa di balik tuduhan itu maupun maksudnya. Tapi saya tidak peduli,” ia melanjutkan.

Penyangkalan Arab Saudi itu pun sempat dipercayai oleh Presiden AS Donald Trump. Seusai menelepon Raja Salman, Trump menyampaikan kepada wartawan bahwa pimpinan tertinggi di Arab Saudi itu tidak tahu apa pun tentang hilangnya Khashoggi. “Pengakuan itu terdengar sangat tegas,” kata Trump.

Indikasi Arab Saudi mulai mengakui bahwa Khashoggi tewas di kantor konsulat Istanbul muncul pada 20 Oktober kemarin. Kejaksaan Agung Arab Saudi melansir siaran pers temuan penyelidikan awal mereka. Isinya, Khashoggi berkelahi dengan seseorang yang ditemuinya di gedung konsulat. “Pertengkaran itu mengakibatkan kematiannya [Khashoggi],” demikian bunyi keterangan pers tersebut.

Sebagai bukti keseriusan dan upaya pertanggungjawaban, Pemerintah Arab Saudi mengatakan bahwa mereka telah menahan 18 orang, memecat dua ajudan pangeran Mohammed bin Salman, dan mendirikan badan khusus untuk mengawasi aktivitas intelijen. Sedangkan tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz, kini diberi perlindungan polisi selama 24 jam.

Berikutnya, Raja Salman dan Pangeran Mohammed bin Salman menelepon Salah, putra Khashoggi, untuk menyatakan duka citanya atas kematian ayahnya. Menurut berita dari harian The Wall Street Journal, Salah berdomisili di Arab Saudi. Ia dilarang bepergian ke luar negeri untuk mengunjungi ayahnya yang ada di Amerika Serikat.

Trump, yang awalnya terdengar percaya dengan penjelasan Arab Saudi, kini berubah posisi. Seperti disampaikannya kepada harian The Washington Post, Trump menyebut ada penyesatan dan kebohongan dalam penjelasan dari pihak Arab Saudi. “Saya akan senang bila putra mahkota bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut,” ujar Trump.

Namun agak di luar kebiasaan, pernyataan sikap Trump yang keras terkait pembunuhan Khashoggi kali ini tidak lantas diikuti dengan tindakan atau sanksi tegas terhadap sekutunya di Timur Tengah itu. “Ada kemungkinan memberikan sanksi. Tapi menunda perjanjian perdagangan senjata dengan Arab akan lebih merugikan kita ketimbang mereka,” kata Trump.

Cavin R. Manuputty

Cover Majalah GATRA edisi No.52 / Tahun XXIV / 25 - 31 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Mukadimah
Nasional
Olahraga
Pariwara
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com