Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Orde Perut Buncit Indonesia Mulai Berkuasa

Data Riskesdas terbaru menunjukkan, 21,8% penduduk Indonesia obesitas. Peningkatan luar biasa dari Riskesdas 2007 dan 2013. Selain kurang aktivitas fisik, juga dipengaruhi makanan yang kurang serat dan kurang menyantap ikan.

Tubuh gemuk pertanda makmur? Tidak juga. Bahkan bisa terjadi sebaliknya, banyak penyakit bakal hinggap di tubuh gara-gara obesitas alias kelebihan berat badan. Itulah yang terjadi pada Mula Akmal, 28 tahun. Bobot pria ini telah mencapai 146 kilogram. Dokter telah menggolongkannya pada obesitas tipe III.

Warga Parungpanjang, Bogor, ini mengaku punya pola makan yang buruk: gemar menyantap masakan padang porsi besar dilanjutkan dengan minum air dingin. “Saya bisa minum air dingin lebih dari 5 liter dari pagi hingga larut malam,” katanya kepada GATRA pada Selasa lalu.

Tentu, di sela-sela waktu, Akmal masih ngemil makanan ringan ketimbang makanan berserat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan keripik dan kue-kue manis lebih dari tiga kali. Pekerja media ini sebenarnya sudah berjuang melangsingkan tubuh dengan mengurangi asupan karbohidrat, berpuasa, dan berolahraga secara teratur. Tapi berat badannya tidak turun secara signifikan.

Ironisnya, jumlah kaum obesitas Indonesia seperti Akmal terus meningkat. Coba tengok hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Penelitian yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) itu menunjukkan data mengejutkan. Obesitas pada kelompok dewasa yang pada Riskesdas 2007 berada pada angka 10,5%, dan meningkat jadi 14,8% pada 2013. Hasil Riskesdas terbaru, 2018, malah menunjukkan angka 21,8%.

Riskesdas kali ini, kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes, Siswanto, terintegrasi dengan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS). “Pengambilan sampel sesuai dengan apa yang ada di Susenas tahun 2018,” ujarnya. Survei dilakukan dari April hingga Mei 2018.

Yang menarik, Riskesdas 2018 ini juga mengungkap ada angka “obesitas sentral” alias perut buncit yang memprihatinkan. Pada Riskesdas tahun ini angkanya 31%. Padahal dalam dua Riskesdas sebelumnya, masih berada di 18,8% (2007) dan 26,6% (2013). Dengan persentase sebesar itu, berarti 1 dari 5 orang Indonesia menderita obesitas. “Itu loh, lipatan perut tolong dikurangi. Jangan sampai berlebih,” kata Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek, kepada pers, Ahad pekan lalu.

Lantas apa yang menjadi biang keladinya? Para ahli menilai, ini tak lain terkait erat dengan pola makan yang salah. Sebab, hasil riset Riskesdas, angka balita yang gemuk justru turun dari 11,8% pada 2013 menjadi 8% pada 2018. Artinya, dalam pertumbuhan hingga remaja dan dewasa, mereka menjalani pola hidup yang salah dari mulai kurang aktivitas fisik dan kurang mengonsumsi makanan berserat.

“Kelihatannya kalau saya lihat angka, penyakit tidak menular harus mendapat perhatian. Terlalu enak makan, diabetes naik, hipertensi naik, obesitas naik,” kata Nila dalam jumpa pers yang digelar di Kementerian Kesehatan, Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu.

Nila melihat banyak orang menyukai makanan yang enak-enak tanpa memperhatikan pengaruhnya pada tubuh. Selain itu, mereka juga kurang bergerak. Maka, “Sampai lanjut usia kita harus tetap produktif, jangan diam saja,” ujarnya.

“Makanan enak” yang dimaksud adalah makanan yang cepat saji dan cenderung junk food. Makanan cepat saji memang menyumbangkan angka obesitas. Lihat saja penduduk Amerika Serikat yang kerap mengonsumsi makanan cepat saji, seperti burger, piza, daging, dan sebagainya. Akibatnya, angka obesitas di “negeri Paman Sam” meningkat menjadi 40%. Padahal pada 1980-an, angka obesitas di sana baru 15,1%.

Bandingkan dengan Jepang, yang angka obesitasnya cuma 3,3%. Tak mengherankan, Jepang menempati posisi ketujuh dari 10 negara yang penduduknya tersehat di dunia. Ini tentu tidak lepas dari kebiasaan makan orang Jepang lebih banyak mengandalkan makanan dari laut. Perlu diketahui, konsumsi ikan di “negeri matahari terbit” mencapai 86 kilogram per kapita per tahun.

Bagaimana dengan Indonesia? Tingkat konsumsi ikan di sini baru 40 kilogram per kapita berdasarkan data 2016. Meskipun masih kecil, terjadi peningkatan karena sebelumnya konsumsi ikan baru sebesar 36 kilogram (2014), dan 41 kilogram per kapita (2015).

Perhatian Menteri Nila terhadap obesitas cukup beralasan. Ini lantaran obesitas kini dianggap sebagai penyakit sindrom metabolik, yang bila dibiarkan akan menimbulkan beberapa penyakit lain, seperti diabetes melitus, hipertensi, strok, kanker, dan gagal ginjal kronik. Masalahnya, penyakit-penyakit tersebut juga bertambah jumlah penderitanya, seperti terlihat dari hasil Riskesdas 2018.

Kasus strok, misalnya, meningkat dari 8,3 per mil (2007), 12,1 per mil (2013), menjadi 1,8 per mil. Kemudian, hipertensi kini sudah mencapai 34,1% dari sebelumnya 25,8% (2007), dan 31,7% pada 2013. Begitu pula berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6,9% pada Riskesdas 2013 menjadi 8,5% pada 2018.

Melonjaknya kasus obesitas memang bisa dimaklumi. Sebab selain pola makan jelek, gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia juga tidak sehat. Data Riskesdas 2018 juga menggambarkan jumlah aktivitas fisik dilakukan masyarakat Indonesia sangat kurang. Persentase kekurangannya cenderung bertambah dari 26,1% pada Riskesdas 2013 menjadi 33,8% pada Riskesdas tahun ini.

Dalam soal ini, DKI Jakarta menempati urutan pertama dengan angka kurang aktivitasnya mencapai 47,8%. Ini mungkin diakibatkan oleh berbagai moda transportasi yang relatif lebih lengkap dibandingkan dengan provinsi lain. Di samping, tentunya, kemampuan ekonomi kebanyakan penduduk Jakarta lebih baik, minimal mampu membeli sepeda motor. Selain kurang aktivitas fisik, asupan porsi makanan berserat juga makin rendah.

Menanggapi hasil riset yang diselenggarakan Kemenkes, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Profesor Hardinsyah, mengatakan obesitas memang terkait dengan beberapa penyakit. Ini karena obesiats menimbulkan gangguan hormon, kolesterol, tekanan darah, dan sistem imun. Obesitas yang diteliti Riskesdas ini menunjukkan kelebihan lemak tubuh menjadi intemediate vector bagi penyakit-penyakit seperti hipertensi, stroke, gagal ginjal, penyakit jantung, dan diabetes.

Salah satu keterkaitannya adalah hubungan obesitas dengan hipertensi. Peneliti pada Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Delmi Sulastri, membuktikannya lewat riset terhadap 204 orang di delapan kelurahan di Kota Padang. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari separo penderita hipertensi mengalami obesitas (56,6%) dan obesitas sentral (54,9%).

Selanjutnya, keterkaitannya dengan diabetes tipe 2 terlihat dari kerja insulin. Zat ini tidak dapat bekerja maksimal membantu sel-sel tubuh menyerap gula darah, karena terganggu oleh komplikasi-komplikasi obesitas. Kalenjar pankreas berusaha menghasilkan lebih banyak insulin. Pankreas dipaksa menghasilkan insulin secara berlebihan secara terus-menerus. Akibatnya, kemampuan pankreas untuk menghasilkan insulin semakin berkurang. Kondisi ini disebut resistensi insulin. Resistensi insulin merupakan faktor risiko seseorang untuk dapat terkena diabetes tipe 2.

Obesitas, menurut Hardinsyah, karena pola makan yang salah. Seperti hasil Riskesdas 2018, Ketua Perhimpunan Gizi dan Pangan itu mengatakan, banyak orang sekarang tak menyantap banyak makanan yang sehat dan kurang olahraga. “Kalaupun berolahraga rutin, makanannya tetap tak sehat. Jadi sama saja,” ujarnya. Ia melihat contoh car free day, yang di sepanjang jalan banyak dijual makanan tak menyehatkan.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Em Yunir, mengatakan pihaknya sudah memprediksi peningkatan angka obesitas seperti yang muncul hasil Riskesdas 2018. Hal ini ditandai dengan tidak adanya perubahan yang signifikan pada gaya hidup masyarakat –yang terjadi tidak hanya di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia.

“Sebenarnya data-data itu sudah kita prediksi dari lima tahun yang lalu, pasti akan begini (meningkat),” kata Em Yunir, yang juga Sekretaris Jenderal Perhimpunan Endokrinologi Indonesia, kepada GATRA. Jadi, perubahan gaya hidup, perubahan kemajuan zaman, perubahan teknologi menggiring orang Indonesia ke arah gaya hidup yang tidak sehat. Biang kerok semua itu adalah resistensi insulin. Sedangkan penyebab resistensi insulin itu, kata Em Yunir, ada tiga macam: kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan berkalori tinggi, dan faktor keturunan.

Pengajar ilmu gizi Departemen Ilmu Nutrisi sekaligus Kepala Laboratorium Gizi Universitas Diponegoro, Semarang, Adriyan Pramono, mengatakan memang ada kaitan kuat antara obesitas dan hipertensi, diabetes tipe 2, serta penyakit-penyakit tidak menular lain. Menurut Adriyan, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi dan aktivitas fisik. “Hal itu kemungkinan bisa dari pola konsumsi yang ada di masyarakat, yang mungkin telah telah terjadi transisi ke pola makan yg serba cepat saji,” ujarnya.

Selain itu, kurang proporsional antara bahan makanan sumber karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah-buahan, serta kurangnya aktivitas fisik. Ia mengambil contoh, untuk mencapai toko yang berjarak 300 meter, orang banyak menggunakan fasilitas kendaraan bermotor daripada jalan kaki.

Aries Kelana, Annisa Setya Hutami, Dara Purnama, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

****

Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan Indeks Masa Tubuh
Klasifikasi IMT (kg/m2)
Normal 18,5-24,99
Kelebihan berat badan 25,0-29,99
Obese Tipe I 30,0-34,99
Obese Tipe II 35,0-39,99
Obese Tipe III 40,0 ke atas
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.2 / Tahun XXV / 8 - 14 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com