Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Berbagai Cara Melawan Obesitas

Angka obesitas dunia terus meningkat. Mendorong WHO mengeluarkan rekomendasi soal asupan makanan dan aktivitas fisik. Sejumlah negara bahkan menerapkan pengenaan pajak yang berkaitan dengan risiko obesitas.

Ancaman tumpukan lemak obesitas makin memprihatinkan dunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 39% pria dan wanita berusia di atas 17 tahun menderita obesitas. Itu berdasarkan data pada 2016. Sebagian besar dari angka itu menggambarkan kondisi di sejumlah negara maju, seperti Kanada, Australia, Amerika Serikat, beberapa negara Afrika Utara dan Timur Tengah.

Berdasarkan grafik yang ditampilkan situs who.int, negara-negara tersebut memiliki indeks massa tubuh (IMT) 30 dan kelebihan berat badan (IMT 25-29,9). Padahal normalnya adalah 18-24,9. IMT diukur dari berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter persegi.

Hampir semua negara mengalami lonjakan obesitas. Persentase obesitas di Kanada 64%, naik dari 58,5% pada tahun sebelumnya. Kemudian Amerika Serikat 67,9%, pun meningkat dari 67,4%. Begitu pula beberapa negara lain, seperti Arab Saudi (69,7%), Turki (66,8%), Australia (64,5%), Kuwait (73,4%), Spanyol (61,6%), Mesir (63,4%), Iran (61,6%), dan Kepulauan Nauru (88,5%).

Kondisi tersebut membuat WHO merasa perlu mengambil langkah-langkah preventif. WHO menilai makanan yang tidak sehat dan aktivitas fisik merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kronis, termasuk obesitas. Untuk itu setiap orang harus berdiet , yang antara lain dengan membatasi asupan energi dari total lemak dan mengalihkannya dengan mengonsumsi makanan yang mengandung lemak tak jenuh. Lantas mengurangi konsumsi gula serta garam yang tak beryodium, dan meningkatkan konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Anak-anak dan remaja diminta untuk mengurangi makanan cepat saji atau junk food. Makanan-makanan itu dituding sebagai penyebab obesitas yang dapat memicu terjadinya penyakit tak menular, seperti kanker, hipertensi, strok, penyakit jantung, diabetes melitus, dan gagal ginjal kronik.

Selain itu, WHO mengeluarkan rekomendasi yang berjudul “Global Strategy on Diet, Physical Activity and Health”. Di situ disebutkan, orang berusia 18-64 tahun dianjurkan berolahraga aerobik minimal 150 menit per pekan atau 30 menit selama lima hari sepekan, dengan intensitas sedang. Aktivitas aerobik dilakukan selama 10 menit, kemudian istirahat dan dilanjutkan kembali semampunya. Sedangkan aktivitas penguatan otot sebaiknya dilakukan berkelompok dua hari sepekan.

WHO juga menyarankan untuk menjaga tubuh tetap prima sekaligus mencegah obesitas. Setiap orang dewasa dianjurkan untuk berjalan kaki sebanyak 10.000 langkah setiap hari. Ini dimaksudkan untuk membuang kalori dan lemak di dalam tubuh. Untuk memantau berapa langkah yang sudah ditempuh, industri kesehatan telah menciptakan berbagai gawai, dari smartwatch, aplikasi di telepon seluler, hingga kalung pemindai.

Berbagai rekomendasi WHO itu memang telah diterapkan sejumlah negara. Salah satunya Indonesia sendiri. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Ada tujuh langkah yang dituangkan dalam Germas, di antaranya, melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga, mengonsumsi buah dan sayur, tidak merokok, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga kebersihan lingkungan, dan menggunakan jamban.

Poin pertama adalah bisa dilakukan dengan senam pagi, seperti gerakan aerobik, termasuk melenturkan otot selama 30 menit setiap hari. Ini merupakan tindak lanjut dari Senam Kesehatan Jasmani yang pernah diterapkan pemerintah pada 1988. Lanjut pada poin kedua, sangat jelas terlihat bahwa menyantap buah dan sayur lebih sehat dan bermanfaat dibandingkan dengan mengonsumsi junk food dan minuman bersoda.

Germas sebenarnya telah diluncurkan pada 15 November 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-52. Meskipun sudah berlangsung selama hampir dua tahun, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengaku program tersebut kurang menyentuh masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat.

Nila menuturkan, potensinya masih kecil dan perlu ditingkatkan lagi. “Partisipasi Germas masih rendah. Hanya 16% masyarakat yang sadar akan kesehatan. Kita harus tetap menekankan betul. Padahal ini Inpres Nomor 1 Tahun 2017 sebenarnya tidak hanya pada Kementerian Kesehatan saja. Kami mengharapkan, di dalam Germas ada antar-kementerian,” ucap Nila.

Menurutnya, perlu peran serta lintas sektor untuk mengoptimalkan Germas. Terdapat 21 kementerian yang dapat diajak untuk membantu kegiatan tersebut. Setiap sektor akan saling terkait dan memengaruhi satu dengan lainnya. “Jadi semisal kita kurang gizi, kita harus lihat ketahanan pangannya bagaimana. Itu ranah Kementerian Pertanian. Bila tidak pernah cuci tangan dan akhirnya cacingan, kita perlu ke Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat),” kata Menkes. Keterlibatan Kementerian PUPR diperlukan untuk membangun fasilitas jamban dan air bersih.

Nila mengatakan, untuk menjadi sehat memerlukan lingkungan sehat. “Intervensi kita spesifik seperti memberikan makanan tambahan dan zat besi. Itu kita lakukan. Tetapi yang sensitif adalah mengenai akses air bersih dan lingkungan bersih,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah negara melakukan kebijakan lain untuk berperang melawan obesitas. Jepang, misalnya, menerapkan ukuran pinggang maksimal untuk warganya yang berumur 40 tahun ke atas adalah 85 sentimeter untuk laki-laki, dan 90 sentimeter untuk perempuan. Warganya yang ukuran pinggangnya melebihi batas ukuran tersebut harus segera berkonsultasi ke dokter gizi, untuk menjalani diet.

Bahkan, perusahaan di sana wajib menyediakan sejenis kartu diskon untuk gymn bagi karyawannya. Tujuannya, untuk membantu program pemerintah dalam mencegah kegemukan. Setiap perusahaan juga harus bisa menurunkan tingkat kegemukan bagi karyawannya sebesar 10% pada 2012, dan 25% pada 2015. Jika tidak, mereka harus membantu Pemerintah Jepang secara finansial dalam program kesehatan bagi para orang tua di Jepang.

Begitu pula di Jerman. Pemerintah Berlin mengharuskan warganya yang obesitas untuk membayar pajak lebih mahal, untuk dialokasikan dalam program kesehatan negara itu. Maklum, setiap tahun Jerman telah menghabiskan duit 16 trilyun euro untuk program jaminan kesehatan.

Denmark menerapkan aturan lain lagi. Setiap orang yang membeli produk apa pun yang mengandung kadar lemak tinggi dikenai pajak yang lebih tinggi. Misalnya, mentega, keju, susu, minyak, daging, dan piza, yang mengandung lemak berkadar lebih dari 2,3%. Sedangkan Pemerintah Amerika Serikat menerapkan aturan di mana perusahaan makanan harus mencantumkan kandungan zat gizinya setiap makanan, agar para calon konsumen bisa mengetahuinya sebelum memesan makanan.

Hungaria malah memberlakukan pajak lemak. Mereka yang menjalani hidup tidak sehat wajib membayar pajak lebih tinggi untuk menanggung biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah di sana. Pemerintah Malaysia punya cara lain, yaitu mengukur berat badan dan tinggi siswa yang rutin dilakukan setiap hari. Ini dimaksudkan untuk menentukan apakah siswa merasa kelebihan berat badan atau obesitas. Jika kelebihan, para siswa akan termotivasi untuk menguranginya, dengan cara mengurangi asupan gula dan lemak, misalnya.

Aries Kelana dan Annisa Setya Hutami
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.2 / Tahun XXV / 8 - 14 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com