Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Menteri Kesehatan RI, Nila Djuwita Faried Moeloek: Integrasi Survei Demi Efisiensi

Kementerian Kesehatan RI telah merampungkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Data Riskesdas ini terintegrasi dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis BPS pada Maret 2018. Ini yang membedakan hasil Riskesdas tahun-tahun sebelumnya, karena Riskedas 2018 menggunakan sampel yang sama dengan Susenas 2018.

Strategi integrasi ini diklaim mampu mengefisienkan anggaran dalam pengumpulan data. Di sisi lain, data yang diperoleh juga lebih lengkap dan data kondisi kesehatan nasional dapat dikaitkan dengan kondisi ekonomi masyarakat.

Bentuk integrasi Riskesdas 2018 lainnya dapat dilihat dari indikator kegiatan. Ada dua indikator Riskesdas 2018. Pertama, indikator spesifik kesehatan terperinci dikumpulkan oleh Kemenkes. Kedua, indikator umum kesehatan, perumahan, pengeluaran rumah tangga, dikumpulkan BPS. Riskesdas 2018 menggunakan 300.000 sampel rumah tangga atau 1,2 juta orang. Mencakup 34 provinsi, 416 kabupaten dan 98 kota.

Dari hasil Riskesdas diperoleh data dan informasi mencakup status gizi, kesehatan ibu, kesehatan anak, penyakit menular, penyakit tidak menular, kesehatan jiwa, kesehatan gigi dan mulut, disabilitas dan cedera, kesehatan lingkungan, akses pelayanan kesehatan, serta pelayanan kesehatan tradisional.

Data Riskesdas ini menjadi acuan untuk menghitung Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Riset yang dulunya bernama Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) ini diharapkan mampu menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kesehatan di tingkat daerah maupun maupun nasional. “Itu akan ditentukan oleh Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM),” kata Menteri Kesehatan RI, Nila Djuwita Faried Moeloek.

Lebih lanjut, Nila menjelaskan kepada wartawan GATRA Annisa Setya Hutami mengenai Riskesdas 2018 di Gedung Kementerian Kesehatan, Jumat pekan lalu. Berikut petikannya:

Dari hasil Riskesdas 2018, jenis penyakit apa yang membutuhkan penanganan serius?
Kelihatannya kalau melihat angka, terbesar pada penyakit tidak menular (PTM). Ini terjadi karena kita terlalu enak makan. Akibatnya, angka penderita diabetes dan hipertensi naik. Meski obesitas pada anak mulai menurun, pada dewasa malah meningkat. Ini bukan berarti anak-anak mengerti diet sehingga menjadi kurus. Ini lebih dikarenakan angka stunting turun. Efeknya memang menjadi tidak terkena obesitas. Meskipun begitu, perlu difokuskan pada kelompok dewasa yang meningkat sekitar 10% dari Riskesdas 2013.

Perilaku apa saja yang perlu diubah agar angka penderita PTM menurun?
Kalau melihat angka kesakitan (morbilitas) itu di hilir. Kita mesti bertanya pada diri sendiri kenapa kita sakit. Kalau ditarik ke hulu, salah satu yang paling berat adalah perilaku. Kita mesti mengubah mindset kita. Kita harus mengubahnya menjadi paradigma sehat. Ini yang harus kita terapkan.

Bagaimana efektivitas program Pendekatan Keluarga Indonesia Sehat dalam pencegahan PTM?
Fokuskan pada perilaku. Untuk mengubah perilaku, kita garis bawahi betul. Kita buat program. Kita harus ke masing-masing keluarga. Kita berikan edukasi, informasi, dan dorong untuk berobat.

Berarti hasil Riskesdas 2018 menunjukkan, program kesehatan pemerintah tidak berjalan?
Kita sudah menerapkan program 1.000 Hari Kehidupan Remaja, mulai ada perubahan. Mereka memiliki motivasi untuk kurus. Ini animonya tinggi. Merencanakan dengan ini. Namun untuk Germas masih rendah. Kita seharusnya mencegah penyakit dengan rutin berolahraga dan mengatur pola makan.

Bagaimana dengan hasil kesehatan tiap-tiap daerah?
Itu akan ditentukan oleh Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di masing-masing kabupaten/ kota. Namun belum ditentukan IPKM-nya. Nanti dihitung berdasarkan data ini. Namun yang jelas, antar-daerah akan berbeda.

Daerah mana saja yang terlihat perbedaannya?
Kita melihat Jakarta berbeda dengan Nusa Tenggara Timur. Nanti Nusa Tenggara Timur dilihat intervensinya akan berbeda. Dalam hal air bersih, di Jakarta kita memiliki akses air bersih namun mutunya masih dipertanyakan. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, air bersih sulit didapat. Selain itu, juga mengamati permasalahan kurang gizi.

Daerah mana yang rentan dengan masalah kesehatan?
Karena ke timur geografisnya susah. Bukan gizi buruknya. Maluku daerah laut kepulauan. Pangannya akan kurang dibandingkan dengan di Pulau Jawa. Semestinya pemerintah memperhatikan ketahanan pangan di daerah Nusa Tenggara Timur supaya lebih ditingkatkan.

PTM seperti diabetes juga memengaruhi kesehatan mata seperti katarak. Bagaimana Anda melihat hal tersebut?
Yang tidak dapat diperbaiki mengenai kecelakaan. Penyakit tidak menular akibat kecelakaan. Tekanan yang meningkat dan sebagainya. Selain itu juga pada kanker, katarak, dan glukoma. Terdapat 1 juta penderita katarak yang harus kita tolong. Bukan hanya akses melainkan juga memperhatikan masyarakat yang tidak mampu.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.2 / Tahun XXV / 8 - 14 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com