Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PENDIDIKAN

Kelas Pintar Menyonsong Revolusi Indistri 4.0

Kampus-kampus di Indonesia mulai menerapkan smart classroom dan smart laboratory. Tidak perku izin pemerintah. Kemenristek Dikti hanya berfungsi sebagai pengawas.

Tangan Suliestyah tampak kagok saat mencampur bahan alkohol dengan magnesium. Praktik semacam itu sebenarnya urusan biasa buat dosen mata kuliah kimia di Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Trisakti, Jakarta, tersebut. Tapi yang bikin dia kagok kali ini, praktik dilakukan di laboratorium virtual dengan memakai teknologi VR (virtual reality).
Dengan berbekal kacamata 3D khas perkakas VR, tidak ada senyawa sungguhan yang disentuhnya di dunia nyata. Namun di layar panel terlihat bahwa aktivitas virtual pencampuran dua senyawa kimia itu memunculkan efek pembakaran sebagaimana lazimnya. “Ini kayak game tapi sungguhan,” ujarnya.

VR adalah teknologi yang memungkinkan seseorang dapat berinteraksi dengan objek imajinasi menggunakan medium komputer yang membawanya ke dalam suasana tiga dimensi (3D).Teknologi tersebut menjadi proyek internasional pertama yang dikembangkan Universitas Trisakti bekerja sama dengan Institute for Information Industry, Taiwan, yang diresmikan pada awal Oktober lalu.

Ruang yang menjadi praktek teknologi VR tersebut dinamai Trisakti Smart Classroom (TSC). Dalam ruang kelas seluas 142 meter persegi itu tersaji alat perkuliahan digital yang terdiri dari papan elektronik interaktif (touch panel), platform desain buku digital, beserta alat bantu rekam visual. Implementasi pertama untuk layanan TSC di kampus Trisakti tersebut meliputi learning management system (LMS), penilaian tenaga pengajar, serta virtual reality (VR) untuk laboratorium kimia, fisika, dan teknik.

Rektor Universitas Trisakti Ali Ghufron Mukti mengatakan fasilitas laboratorium cerdas yang digagas pihaknya dilatarbelakangi perkembangan teknologi global yang amat pesat. Di era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, menurut Ghufron perguruan tinggi mesti berbenah diri menyesuaikan konsep pembelajaran mutakhir dan koheren dengan perkembangan zaman.

Trisakti Smart Classroom (TSC) dilengkapi peralatan canggih berbasis teknologi seperti internet of things, virtual reality dan artificial intelligence (kecerdasan buatan). Karena berbasis teknologi itulah, ketika praktikum berlangsung dosen dan mahasiswa diharuskan menggunakan kacamata khusus tiga dimensi (3D). “Dapat digunakan untuk praktik mata kuliah kimia, fisika, kedokteran, atau mata kuliah lain yang menuntut praktik,” kata Ghufron kepada Riana Astuti dari GATRA.

Saat ini, implementasi kelas pintar di Trisakti memasuki tahap pelatihan untuk para staf pengajar. Contohnya, pelatihan penggunaan teknologi VR yang diikuti Suliestyah dan dosen-dosen lainnya. Itu diperlukan, karena, menurut Ghufron, 60% dosen di Indonesia berusia di atas 40 tahun –yang umumnya belum menguasai perkembangan teknologi secara baik.

Sebelum Universitas Trisakti, pada Mei tahun lalu, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB), Malang, Jawa Timur, telah menggunakan metode smart clasroom bernama Multimedia Auto Recording Smart Hybrid (MASH) Classroom.

Teknologi mutakhir yang diinstal di MASH Classroom ini hanya memungkinkan proses pembelajaran di suatu tempat dapat diikuti oleh peserta di tempat yang berbeda secara interaktif. Dilengkapi dengan perkakas intelligent auto recording, aktivitas pembelajaran terekam dengan pengambilan fokus yang tepat dan teredit dengan baik secara otomatis. Lalu ada intelligent tracking, yang memungkinkan kamera secara otomatis mengarahkan fokusnya pada pergerakan orang di kelas.

Rekaman video aktivitas pembelajaran di kelas dapat diakses melalui portal yang telah disediakan, sehingga mahasiswa dapat mengakses live teaching dimana saja secara streaming. MASH Classroom juga dapat memudahkan pengajar dalam memasukkan konten multimedia seperti 3D interaktif atau berbagai teknologi pendukung presentasi untuk menampilkan, misalnya e-journal dan perpustakaan digital.

Teknologi ini telah terpasang di lima kelas yang ada di Filkom UB. Dua ruangan berfungsi sebagai master classroom, tempat perekaman dosen saat menyampaikan materi kuliah. Dan tiga lainnya adalah remote classroom yang berisi mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang disampaikan dosen yang sama.

Dalam website Filkom UB, disebutkan bahwa fakultas tersebut termasuk yang memilik banyak mahasiswa. Setiap tahun, Filkom UB membuka sekitar 30 kelas paralel untuk mahasiswa baru. Sehingga ada beberapa mata kuliah sama yang harus diajarkan di 30 kelas berbeda. Karena dosen masih sedikit, maka beban dosen semakin tinggi. Dengan MASH Classroom, beban itu akan terkurangi karena seorang dosen bisa mengajar satu kali untuk dua sampai empat kelas paralel sekaligus.

Menurut Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati pihaknya akan terus mendukung implementasi smart classroom dan smart laboratory di kampus-kampus. “Untuk meningkatkan efisiensi dalam sistem pembelajaran dan juga penelitian,” ujarnya.

Setiap kampus dapat membuka dan menarapkan model smart classroom secara otonom. Fungsi Kemenristek Dikti hanya sebagai pemantau dan pengawas fasilitas dan pelaksanaannya. “Agar persyaratan minimal pembelajaran dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi terpenuhi,” kata Dimyati.

Andhika Dinata

Cover Majalah GATRA edisi No.2 / Tahun XXV / 8 - 14 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com