Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Ketika Tidur Tak Lagi Nyenyak

Di Indonesia, jumlah pasien dengan gangguan tidur cukup banyak. Memicu berbagai penyakit turunan. Bisa disembuhkan dengan terapi.

Pola tidur Dini Awalia, 26 tahun, mungkin berbeda dengan jam tidur kebanyakan orang. Ia sulit tidur sebelum tengah malam, sekitar pukul 01.00. Rentang waktunya pun singkat. Ia rutin bangun pagi sekitar pukul 06.00. Menurutnya, pekerjaan sebagai desainer grafis di perusahaan periklanan menjadi penyebabnya.

Gadis asal Garut, Jawa Barat, itu baru tiga bulan pindah ke perusahaan periklanan. Karena tenggat pekerjaan dan seringkali ada revisi dari klien, ia seringkali melembur. Belakangan, Dini merasa perubahan pola tidurnya tersebut mulai menganggu aktivitasnya. Seringkali ia merasa lemas dan mengantuk pada jam produktif.

Padahal, sebelum bekerja di perusahaan yang sekarang, jam tidur Dini lumayan bagus. Paling lambat pukul 22 WIB ia sudah tidur, dan merasa segar setelah bangun pagi. “Sekarang saya susah tidur cepat, padahal tidak melakukan apa-apa di malam hari. Kalau dipaksakan tidur, sebentar-sebentar bangun lagi,” katanya.

Kasus Dini bisa digolongkan sebagai gangguan tidur. Ada berbagai macam kelainan tidur, seperti penderita insomnia, hipersomnia atau kelebihan tidur, dan sering terbangun atau kesulitan tidur kembali setelah terjaga. Dampak kelainan ini di antaranya kelelahan, mengantuk, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi.

Menurut dokter spesialis kardiovaskular dan neurologi Taruna Ikrar, di Indonesia jumlah pasien dengan gangguan tidur cukup banyak. Kalau gangguannya dalam waktu singkat, sebetulnya tidak masalah. Yang jadi soal, gangguan tidur yang berlangsung dalam jangka panjang bisa mengakibatkan berbagai penyakit turunan.

“Misalnya metabolic syndrome, penyakit psikologis, atau penyakit yang ditimbulkan karena gangguan neurologis seperti strok dan seterusnya. Itu penyakit turunan dari gangguan tidur,” kata Prof dr. Taruna Ikrar, MPharm, MD, PhD, kepada GATRA.

Di Indonesia sudah ada beberapa rumah sakit yang memberikan pelayanan untuk pasien dengan gangguan tidur. Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, misalnya, mengembangkan Sleep, Sex and Wellness Center sejak Mei lalu.

Ikrar menjelaskan bahwa orang yang mengalami gangguan tidur biasanya mengalami gangguan vaskuler atau pembuluh darah. Kalau pembuluh darahnya bermasalah, biasanya gangguan berikutnya pasien akan mengalami gangguan ereksi, seksnya jadi tidak sehat. “Sleep, Sex and Wellness Center ini dikembangkan di RSPAD di bawah bagian dari Cell Cure Center,” katanya.

Bagaimana terapinya? Ikrar mengatakan, tindakan terapi yang dilakukan bergantung pada penyebab gangguan tidur. Salah satu contohnya, faktor usia. Semakin bertambah usia seseorang, semakin singkat jam tidurnya. Misalnya, bayi membutuhkan tidur hingga 15 jam sehari, anak-anak sekitar delapan hingga 10 jam, orang dewasa cukup tujuh jam.

Namun ketika memasuki usia lanjut usia atau usia 50 tahun ke atas, jam tidurnya hanya lima jam. “Masuk usia lanjut, semakin semakin pendek waktu tidurnya. Usia memengaruhi kemampuan tidur. Ada yang normal, ada yang tidak. Harus dilihat apakah termasuk gangguan atau bukan,” ujarnya.

Faktor hormonal juga menjadi salah satu penyebab gangguan tidur. Tindakan yang diberikan adalah terapi hormonal. Kalau masalah tidurnya karena faktor psikologis, maka terapi bisa dilakukan oleh psikolog atau psikiater. “Metodenya multimethod, yang kita gunakan untuk membantu pasien-pasien yang mengalami gangguan tidur,” kata Ikrar.

Menurut Ikrar, yang dibutuhkan manusia bukan hanya kuantitas jam tidur, yang lebih penting adalah bagaimana kualitas tidurnya. Ada dua fase utama dalam tidur, yaitu non-rapid eye movement (non-REM) dan rapid eye movement (REM).

Fase non-REM terbagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama atau N1 adalah fase saat mulai tertidur. Mata bergerak sangat lambat di bawah kelopak mata, aktivitas otot menurun. Pada tahapan ini, kondisinya sangat mudah terbangun. Lalu, tahap kedua atau N2 adalah tahap saat kita benar-benar tidur, di mana aktivitas otak melambat, otot menjadi rileks, dan gerakan mata berhenti.

Kemudian N3 dan N4 adalah fase tidur dalam atau deep sleep. Aktivitas otak sangat lambat, dan aliran darah lebih banyak diarahkan ke otot dan mengisi energi fisik tubuh. Pada fase non-REM ini, sel-sel beregenerasi dan memperkuat imunitas tubuh. Seseorang yang tidur sampai tahap deep sleep, ketika bangun badannya akan menjadi segar. “Level ini paling bagus, itu membuat otak sehat,” ia memaparkan.

Ada lagi fase tidur REM. Pada tahap ini, mata bergerak-gerak sehingga fase ini disebut rapid eye movement. Mimpi terjadi di fase ini. Otak kita beraktivitas layaknya dalam kondisi terjaga, namun tubuh seperti lumpuh sehingga tidak bisa bergerak saat bermimpi. “Setiap malam, kita mengalami fase-fase itu, meski tidak selalu berurutan,” ujar Ikrar.

Putri Kartika Utami

+++

Gen Kunci Penyebab Mimpi

Akhir Agustus lalu, ada penelitian terbaru yang mengidentifikasi jenis gen yang berperan penting terhadap tidur REM. Tim peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Nasional (RIKEN) Jepang mengidentifikasi dua gen kunci yang memainkan peran penting dalam fase tidur REM. Kedua gen tersebut adalah Chrm 1 dan Chrm 3. Studi dilakukan pada mencit.

Penelitian yang dipimpin Hiroki Ueda ini dilakukan pada mencit dengan melibatkan neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Pada studi-studi sebelumnya asetilkolin sering dikaitkan dengan REM. Ada 16 tipe reseptor selular di otak yang berhubungan dengan asetilkolin, tapi belum diketahui gen mana yang penting untuk tidur REM.

Ueda dan timnya menggunakan teknologi Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats (CRISPR) untuk mengurai satu persatu gen yang berkaitan dengan reseptor asetilkolin. Hasilnya, kehilangan salah satu gen itu mengurangi tidur REM dan non-REM. Mencit tanpa gen Chrm 1 dan Chrm 3 mengalami jam tidur lebih pendek. Bahkan, ada yang tidak mengalami tidur REM sama sekali. Artinya, mencit-mencit tidak bermimpi saat tidur.

Anehnya, mencit-mencit itu dapat bertahap hidup, meski tidak mengalami tidur REM. Padahal hipotesisnya, fase tidur ini dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ini bisa menjadi efek samping, karena dilakukan lingkungan buatan. Menurut Ueda, ini fakta menarik untuk dilakukan penelitian lanjutan.

“Mencit 'mutan' itu bisa bertahan hidup karena kondisi laboratorium di mana tersedia banyak makanan dan tanpa musuh. Di lingkungan sungguhan, gen-gen ini menjadi faktor penting untuk kelangsungan hidup organisme,” kata Ueda.

Putri Kartika Utami

Cover Majalah GATRA edisi No.2 / Tahun XXV / 8 - 14 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com