Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Teknologi Pelacak Kapal Nelayan

KKP membuat inovasi teknologi, Wakatobi AIS. Agar kapal mudah terlacak. Siap diproduksi massal.

Di Indonesia, angka kecelakaan kapal nelayan saat melaut masih cukup tinggi. Di perairan laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara, misalnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat pada 2016 lalu, ada 12 kasus kecelakaan kapal. Sebagian besar kapal hilang adalah kapal pencari tuna milik nelayan kecil. Tahun berikutnya, angka kecelakaan juga cukup besar. “Tahun 2017, ada lebih dari 10 kecelakaan kapal di Wakatobi,” kata Riyanto Basuki, Kepala Pusat Riset Kelautan KKP, saat ditemui GATRA di Kantor Badan Riset Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP, Jakarta, Kamis pekan lalu.

Riyanto menjelaskan biasanya saat mencari ikan di laut, nelayan tidak memiliki rute perjalanan kapal yang pasti. Jika tidak mendapatkan ikan di tempat pertama yang mereka tuju, mereka akan berpindah ke titik lain. Jika masih belum dapat juga, maka mereka akan mencari di lokasi lain. Begitu seterusnya hingga nelayan memperoleh tangkapan ikan yang banyak. Karena itu, ketika terjadi kecelakaan, biasanya kapal tidak bisa langsung ditemukan dengan cepat. “Apalagi kapal nelayan tidak dilengkapi dengan teknologi vessel monitoring system (VMS) atau sistem monitoring kapal,” Riyanto menerangkan.

Selama ini, penggunaan teknologi VMS hanya diwajibkan untuk kapal dengan tipe 30 gross ton (GT). Di data KKP, jumlah kapal tipe 30 GT hanya 0,37% dari total kapal yang ada di Indonesia. Sedangkan, kapal tipe di bawah 30 GT, yang sebagian besar merupakan kapal nelayan, jumlahnya mencapai 1.077.742 unit atau 99.62%. Kapal-kapal tersebut tidak dilengkapi dengan teknologi VMS, atau teknologi pengawasan kapal apa pun. Padahal, penggunaan teknologi sistem pengawasan kapal diperlukan bagi kapal nelayan agar tak hilang di laut. “Inilah alasan kenapa kita menciptakan alat Wakatobi AIS, yang nantinya berguna bagi nelayan itu sendiri,” kata Riyanto.

Jangan salah terka, Wakatobi AIS bukan diambil dari nama daerah, melainkan singkatan dari “Wahana Keselamatan dan Pemantauan Objek Berbasis Automatic Identification System (AIS)”. AIS merupakan sistem pelacakan otomatis yang digunakan pada sistem pemantauan lalulintas pelayaran kapal atau vessel traffic system (VTS). Fungsinya untuk mengidentifikasi dan menemukan posisi kapal melalui elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya. “Jika VMS bersifat wajib, maka Wakatobi AIS sifatnya lebih sukarela untuk kapal di bawah 10 GT,” Riyanto menerangkan.

Wakatobi AIS merupakan transponder berbentuk kotak dengan dimensi 14,5x13x20 sentimeter dengan panjang antena 100 sentimeter. Setiap unitnya hanya berbobot 0,6 kilogram, sehingga lebih mudah diaplikasikan pada kapal kecil yang beratnya di bawah 10 GT. Alat ini didesain dapat bekerja secara portabel dengan baterai sebagai sumber tenaga. Baterenya dapat diisi ulang setiap 20 jam pemakaian.

Untuk meningkatkan keselamatan nelayan ada tiga tombol pada perangkat ini, yakni tombol power, tombol penanda lokasi tertentu (custom tag), dan tombol darurat (distress). Pengoperasiannya pun cukup mudah. Fungsi dasar AIS yang disematkan di alat ini memungkinkan lokasi dan pergerakan kapal nelayan terpantau detik ke detik pada stasiun penerima (VTS). Jika suatu saat ada kapal nelayan yang terpasang Wakatobi AIS mengalami masalah di laut, seperti mesin kapal mati, tenggelam, atau dirampok, menurut Rianto, rekaman lokasi kapal akan mempermudah pencarian kapal.

Selain itu, nelayan juga bisa secara aktif memberikan kabar darurat ke seluruh perangkat penerima AIS lainnya. Caranya, dengan menekan tombol distress, perangkat akan melakukan broadcast pesan darurat melalui AIS. Teks pesan darurat bisa berupa kode bahaya, identitas yang meliputi nama kapal, pelabuhan asal atau informasi lain yang sebelumnya diprogram ke dalam perangkat Wakatobi AIS. “Kalau alat sudah terpasang, radarnya bisa tertangkap di mana-mana. Artinya kapal terdekat yang memiliki AIS dan kapal yang terpasang VMS juga bisa menangkap posisi kapal yang menekan tombol distress,” ujar Riyanto.

Wakatobi AIS juga dirancang untuk dapat terkoneksi ke sistem pemantauan lalu lintas kapal (VTS) yang biasa terdapat pada pelabuhan-pelabuhan dan otoritas pelayaran. Alat ini juga dapat terbaca oleh perangkat AIS pada kapal non-perikanan, sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kapal nelayan akibat bertabrakan dengan kapal besar. “Sekaligus meningkatkan jangkauan penggunaan alat, kendati alat ini dioperasikan diluar dari jangkauan stasiun darat seperti VTS,” Riyanto menambahkan.

Riyanto mengungkapkan, saat ini BRSDM-KKP masih terus menyempurnakan alat Wakatobi AIS, sehingga diharapkan dapat diproduksi secara massal. Sehingga nantinya harganya semakin terjangkau. Saat ini, biaya produksi mencapai Rp 6 juta per unit. “Kalau kita memproduksi secara massal, harga Rp6 juta tadi bisa ditekan,” katanya. Targetnya, akhir tahun ini inovasi teknologi tersebut akan diluncurkan. BRSDM-KKP juga sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan yang berkomitmen untuk memproduksi alat ini secara massal.

Sujud Dwi Pratisto dan Dara Purnama

Cover Majalah GATRA edisi No.2 / Tahun XXV / 8 - 14 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com