Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Sekjen Kementerian Perindustrian Haris Munandar: Industri Berat untuk Memakai Lulusan SMK

Tiap tahun, sebanyak 600.000 tenaga kerja-baru dibutuhkan perusahaan industri. Namun, suplai tenaga kerja masih jauh dari ideal. Dari 14.000 lulusan SMK, hanya 10%-12% yang langsung diserap oleh industri.

Oleh karena itu, pemerintah punya program link and match yang di bawah supervisi Kemenperin. Sebanyak 1.753 SMK dan 600-an perusahaan atau industri yang sudah mengikuti program tersebut. Untuk mengetahui lebih jauh soal program itu, wartawan GATRA: M. Egi Fadliansyah dan Annisa Setya Hutami mewawancarai Sekjen Kementerian Perindustrian RI, Haris Munandar. Berikut petikannya:

Menurut data BPS banyak lulusan SMK menganggur. Mengapa?
SMK ini kan memang diarahkan untuk menjadi tenaga kerja siap pakai. Tapi, kondisinya masih memprihatinkan. Industri berat untuk memakai lulusan SMK. Sebab, mereka masih membutuhkan proses yang panjang untuk bisa bekerja. Misalnya, training lagi. Ini kan butuh waktu minimal setahun. Bagi perusahaan akan menjadi cost lagi. Perusahaan inginnya lulusan SMK langsung bisa running, agar produksi mereka meningkat.

Dulu ada BLK (balai latihan kerja). Bagaimana nasibnya?
BLK yang diserahkan ke daerah, semua mangkrak. Mungkin dari 300 BLK, 4 jari tangan sampai 20 yang masih benar-benar terimplementasi. Ini kan menjadi masalah otonomi daerah. Daerah belum siap semuanya.

Apakah koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Tenaga Kerja kurang berjalan baik?
Sudah ada SKB (surat keputusan bersama) berupa MoU dengan beberapa kementerian. Ada 7 kementerian yang menangani pengembangan sumber daya manusia (SDM). Sekarang, pemerintah menyadari telah melakukan pengabaian terhadap SMK. Kurang memperhatikan.

Bagaimana dengan program link and match?
Kita targetnya 1.750 lulusan (yang tertampung). Karena tidak mungkin kan semuanya. Dan SMK yang kita minta adalah SMK produktif, yaitu SMK yang jurusannya terkait dengan sektor Industri. Dari 1.750 SMK ini, kita sudah lakukan di enam wilayah. Ini juga kita langsung melibatkan industrinya.

Bagaimana kesiapan perusahaannya?
Mereka (perusahaan) mau menampung praktik, magang. Teaching factory juga dibangun perusahaan. Ini agar para lulusan SMK bisa langsung kerja.

Fasilitas SMK-nya?
Peralatan di hampir 14.000 SMK masih ketinggalan zaman. Kebanyakan alat-alatnya dari dua generasi sebelumnya. Karena itu, kita ada program, setiap SMK minimal punya peralatan infrastruktur. Ini juga kita dorong dengan skema perjanjian kerja sama dengan industri. Perusahaan-perusahaan industri (ikut) nyumbang. Jadi, ini meringankan beban pemerintah juga.

Selain siswa dan fasilitas, apa lagi permasalahan di SMK?
Tentu gurunya. Dari 60.000 guru, mungkin hanya sekitar 22% yang sejalan dengan jurusan yang ada. Makanya, kita lakukan penyelelarasan prodi (program pendidikan). Prodi yang diajarkan di SMK itu adalah kurikulum lama. Padahal, industri ini kan berkembang dinamis. Kita tidak berhak mengubah. Ini kewenangan Kemendikbud.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.3 / Tahun XXV / 15 - 21 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com