Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Eropa Melawan Sanksi AS untuk Iran

Amerika Serikat akhirnya mengumumkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Negara atau perusahaan mana pun yang masih berani berbisnis dengan Iran akan ditindak. Eropa melawan.

Amerika Serikat bukan polisi perdagangan dunia.” Pernyataan keras itu meluncur dari bibir Bruno Le Maire, Menteri Keuangan Prancis, Selasa pekan lalu.

Le Maire mengomentari kebijakan AS yang mengumumkan sanksi ekonomi terhadap Iran sepekan sebelumnya. Hari itu, 5 November, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin memang mengumumkan pemberlakuan sanksi ekonomi secara penuh terhadap Iran.

Sanksi itu adalah kelanjutan dari penarikan diri AS dari perjanjian nuklir Iran yang diteken Presiden Obama pada 2015. Perjanjian itu dikenal dengan nama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCOPA). Isinya, melarang Iran mengembangkan senjata nuklir dengan imbalan negara itu tidak lagi diisolir secara ekonomi oleh AS dan Eropa. Perjanjian itu juga didukung PBB lewat resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2331.

Trump memang sudah lama membenci perjanjian itu. Bahkan sejak berkampanye sebagai calon presiden pada 2016, ia sudah menyebut JCOPA sebagai “perjanjian terburuk dalam sejarah”. Ia berjanji akan merobek perjanjian itu kalau terpilih jadi presiden.

Trump terpilih menjadi presiden dan memenuhi janjinya. Mei 2018 lalu, AS resmi mundur dari perjanjian JCOPA. Banyak negara mengecam keputusan Trump tersebut. Pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengatakan bahwa AS memang tidak bisa dipercaya. Sedangkan Obama, yang ketika itu sudah menjadi warga biasa, juga mengecam.

Tapi Trump tetap berkeras. Kini, enam bulan setelah menyatakan keluar dari JCOPA, AS kembali menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Dalam jumpa pers di Gedung Putih, Senin pekan lalu, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menjelaskan sanksi ini adalah sanksi terberat yang pernah diterapkan AS terhadap Iran. Sanksi ini akan menarget 50 intitusi perbankan di Iran, maskapai penerbangan Iran, dan 200 perusahaan Iran yang bergerak di bidang pelayaran.

“Tujuan kami adalah untuk membuat rezim di Iran saat ini meninggalkan jalur revolusioner mereka. Rezim Iran punya pilihan, mereka bisa berbalik arah 180 derajat dan berperilaku seperti negara normal... atau menyaksikan ekonomi mereka hancur,” katanya seperti dilansir The Guardian.

Pompeo lalu mencontohkan bagaimana Iran terus melakukan aktivitas yang “mendestabilisasi Timur Tengah”, seperti mendukung gerilyawan di Yaman, Lebanon, Suriah. dan Irak.

Namun ada perkecualian dalam sanksi itu. Agar harga minyak dunia tidak naik terlalu tinggi, AS membolehkan Iran untuk tetap menjual minyak mereka ke delapan negara, yaitu Cina, India, Italia, Yunani, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Turki.

Sikap Iran atas sanksi itu mudah ditebak. Hanya beberapa jam usai Gedung Putih menguarkan sanksi, Iran megumumkan latihan militer untuk menunjukkan mereka tidak takut. Lalu di televisi Iran, Ayatullah Ali Khamenei berpidato, “Kita sekarang berada dalam situasi perang ekonomi, melawan musuh yang selalu merisak. Dulu Saddam di depan kita, sekarang Trump. Tidak ada bedanya, kita harus melawan dan harus menang.”

***

Sanksi AS terhadap Iran itu, tidak bisa diterima Uni Eropa. Pasalnya, JCOPA bukan semata perjanjian antara AS-Iran, melainkan perjanjian antara Iran dan enam negara sekaligus, yaitu Cina,, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris, dan AS. Keenam negara ini lazim disebut negara P5+ 1, karena terdiri dari lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ditambah Jerman.

Kelima negara lain tidak sepakat jika JCOPA dibatalkan. Terlebih pada 2015, fasilitas nuklir Iran sudah diinspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Badan itu menyatakan bahwa Iran mematuhi semua ketentuan dalam JCOPA. Sebagai imbalannya, pada Januari 2016, sanksi ekonomi terhadap Iran pun dicabut.

Setelah itu berbagai perusahaan multinasional Eropa seperti Airbus, Siemens, Total, dan perusahaan otomotif Prancis –Peugeot dan Renault—pun berlomba-lomba memasuki pasar Iran. British Airways, maskapai penerbangan Inggris, bahkan langsung membuka rute penerbangan London-Teheran setelah sanksi dicabut.

Tapi kini ekspansi berbagai perusahan Eropa itu terancam bubar. Pasalnya, sanksi AS tidak bersifat internal atau hanya mengatur perusahaan AS sendiri, tapi ke seluruh dunia. Negara atau perusahaan mana pun yang masih beranis berbisnis dengan Iran akan dikenai sanksi oleh AS. “Siapa pun yang berbisnis dengan Iran tidak akan berbisnis dengan Amerika Serikat,” tulis Trump di akun Twitter-nya, Agustus lalu.

Peringatan juga disampaikan Mike Pompeo. Meski tidak menyebut nama, peringatan itu sebenarnya ditujukan terutama kepada perusahaan Eropa yang masih memiliki bisnis di Iran. “Saya bisa menjanjikan, mencoba melawan sanksi AS adalah keputusan bisnis yang akan menimbulkan penderitaan,” katanya.

AS memang memiliki kapabilitas untuk mengancam Eropa, karena AS memiliki institusi keuangan yang sudah mengglobal. Sangat sulit untuk melakukan bisnis skala global tanpa melibatkan institusi keuangan atau perusahaan asal AS.

Tapi inilah yang membuat Uni Eropa berang. Le Maire menegaskan bahwa AS bukanlah polisi perdagangan dunia. Artinya, AS tidak bisa senaknya mengatur-ngatur siapa yang boleh, atau tidak boleh, berbisnis dengan Iran.

Uni Eropa sendiri juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal ini. Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan Inggris, Prancis, Jerman, dan Uni Eropa –diwakili oleh Kepala kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini—mereka menyatakan akan mempertahankan saluran finansial dengan Iran.

Pemerintah Prancis sejauh ini paling depan membangkang. “Krisis sanksi Iran ini justru kesempatan bagi Eropa untuk memiliki institusi finansialnya sendiri, agar kita bisa berbisnis dengan siapa pun yang kita mau,” kata Le Maire.

Basfin Siregar
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.3 / Tahun XXV / 15 - 21 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com