Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Gerakan Antarnegara Melawan Zoonosis

Masih banyak warga belum sadar, penyakit datang justru dari hewan. Konferensi GHSA mengungkapkan pentingnya penanganan penyakit yang bersumber dari binatang. Perlu melibatkan berbagai instansi.

Suhu tubuh Inzjania Desty Chomala Saleh, 25 tahun, naik-turun. Dalam tiga hari pertama, suhu tubuhnya bisa mencapai 40°C. Hari berikutnya, suhu badannya menurun meskipun keesokan harinya kembali demam. “Nyeri otot juga saya rasakan di seluruh badan. Kepala pusing, berasa mual dan muntah-muntah. Enggak nafsu makan,” tutur Nia –panggilan akrabnya—kepada GATRA melalui sambungan telepon pada Jumat, pekan lalu.

Menurut diagnosis dokter, Nia terkena malaria tropika, satu dari empat jenis penyakit malaria yang dianggap paling ganas. Malaria memang telah menjadi langganan Nia. “Saya pernah kena malaria tertian sebanyak tiga kali, sedangkan kena malaria tropika itu dua kali, sewaktu kelas V SD dan terakhir di SMA,” tutur mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, itu.

Penyakit itu awalnya menyerang Nia karena ia tumbuh di Papua, di mana malaria memang masih berkuasa. Tapi sebenarnya, malaria masih diperhitungkan secara nasional. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siswanto, menuturkan bahwa malaria termasuk empat penyakit yang paling banyak terjadi di Indonesia, termasuk demam berdarah, filariasis, dan leptospira (demam tikus).

Nah, penyakit-penyakit tersebut juga tergolong penyakit zoonosis alias yang bersumber atau disebarkan binatang. Di sinilah binatang menjadi penular (vektor) atau sebagai inang sumber bibit penyakit. Penular contohnya nyamuk, yang dapat sebagai vektor dari DBD, malaria, filariasis, dan lain-lain. Sebagai inang, misalnya, sapi dan domba berperan pada penyakit antrak. “Kemudian tikus untuk leptospira,” kata Siswanto kepada GATRA, Kamis, 8 November lalu.

Karena peran penting inilah konferensi Global Health Security Agenda (GHSA) salah satunya membahas zoonosis dalam pertemuan ke-5 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, 6–8 November lalu. GHSA beranggotakan lebih 64 negara yang memfokuskan diri pada masalah keamanan dunia terhadap wabah penyakit yang berbahaya.

Betapa tidak, menurut Siswanto, dua pertiga wabah penyakit infeksi baru bersifat zoonotik. Ini telah menjadi perhatian pemerintah, apalagi keempat penyakit terbanyak di Indonesia juga zoonotik. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, kasus malaria tinggal 0,4%, lebih kecil daripada hasil Riskesdas 2013 sebanyak 1,4%. Tetapi sebaliknya, filariasis (kaki gajah) justru meningkat dari 0,05% pada 2013 menjadi 0,8% pada 2018.

Selain itu masih ada demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, leptospirosis, flu burung, dan sebagainya. Itu belum berbicara wabah rabies. Di Nusa Tenggara Timur, misalnya, persedian vaksin rabies dilaporkan habis pada dua pekan lalu, sehingga banyak hewan (anjing) penular rabies masih berkeliaran. “Sebanyak 8.477 ekor hewan penular rabies yang tersebar di Kabupaten Sikka belum bisa divaksin,” kata Hendrikus Blasius Sali, Kepala Dinas Pertanian, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Usaha pemerintah mengatasi hal ini bukannya tak ada. Berdasarkan Riskesdas 2018, capaian pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis berdasarkan cakupan target yaitu 51,8%. sedangkan proporsi pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan rumah tangga sebesar 31,2%.

Tapi tanpa peran serta masyarakat, hasil yang ada tak bakal tercapai optimal. Karena itu, Kemenkes terus menggalakkan “One Health”, gerakan global untuk merancang dan menerapkan berbagai program, kebijakan, hasil riset dari berbagai profesi, lembaga, komunitas, dan disiplin ilmu agar tercipta kesehatan publik yang lebih baik. Prinsip “One Health” merupakan kampanye negara-negara GHSA dalam membasmi endemik. Mereka telah sepakat pada diskusi GSHA untuk menangani potensi wabah secara terintegrasi antara hewan, pertanian, dan manusia.

Ketua Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), dokter Heru Susetya, setuju dengan pernyataan Kemenkes bahwa dua pertiga penyakit infeksi baru yang muncul di dunia ini bersumber dari binatang. “Jadi ini harus menjadi perhatian yang luar biasa,” katanya kepada wartawan GATRA Dara Purnama.

Dahulu, ujar Heru, hewan hidup secara alami dan bebas di alam. Namun dengan perkembangan jumlah manusia, habitat hewan menjadi berkurang, sehingga kemungkinan kontak antara hewan dan manusia pun menjadi meningkat. Akibatnya, kemungkinan tertular pun semakin tinggi.

Namun kategori penyakit zoonosis ini berbahaya atau tidak, kembali lagi kepada jenisnya. Sebab masing-masing memiliki ciri-ciri dan perhatian tersendiri. “Kalau taraf bahaya atau tidak itu akan sangat tergantung dengan apa yang kita khawatirkan,” katanya.

Rabies, misalnya, penularannya biasanya dari anjing. Kalau sudah menunjukkan gejala, maka 100% orang atau hewan yang menderita gejala itu akan mati. Lalu antraks, jika penularannya ke manusia hanya muncul di kulit itu. Tapi tingkat kematiannya hanya 20%. “Kalau dimakan langsung atau sporanya terhirup udara masuk ke paru dan saluran cerna, risiko kematiannya menjadi lebih tinggi,” kata Heru.

Mengenai keterlibatan Kemenkes, Heru mengakuinya. Mereka membentuk tim khusus bernama Rikhus Vektora untuk meneliti penyakit yang ditularkan dari vektor dan reservoir. Vektor adalah yang mengantarkan penyakit, sedangkan reservoirnya adalah sumber penyakit. Tim tersebut juga melibatkan Departemen Kesmavet UGM.

“Riset ini melihat potensi-potensi penularan dari vektor misalnya nyamuk, lalu menganalisis nyamuk ini ada di mana, kemudian potensi penularannya bisa membawa virus apa. Termasuk juga tikus dan kelelawar saat ini sedang diteliti kemungkinan-kemungkinannya,” ujarnya.

Heru menganggap tepat pembentukan tim Rikhus Vektora. Namun yang tidak kalah penting untuk mengatasi ini adalah meningkatkan kesadaran dari masyarakat. “Meningkatkan kesadaran ini yang agak susah,” katanya.

Aries Kelana, Annisa Setya Hutami, dan Aulia Putri Pandamsari

Cover Majalah GATRA edisi No.3 / Tahun XXV / 15 - 21 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com