Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

WAWANCARA

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi: Basarnas Butuh Rescuer dan ABK Tangguh

Setelah berjibaku selama 13 hari, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menghentikan proses pencarian terhadap korban jatuhnya Lion Air JT610 di Tanjung Karawang pada Sabtu, 10 November lalu. Pencarian dihentikan karena tidak lagi ditemukan potongan tubuh korban.

Kepala BNPP Marsekal Muhammad Syaugi menilai perlu ada evaluasi dalam proses pencarian seraya meminta maaf utamanya pada pihak keluarga bila pelaksanaan evakuasi belum menyenangkan semua pihak. ”Kami bukan sempurna, akan evaluasi kekurangan yang ada,” ujarnya.

Bagi Syaugi, jatuhnya JT610 merupakan sebuah tragedi yang mengenaskan. Selama memimpin pencarian, setiap hari ia bersama tim penyelamat melihat potongan tubuh korban dan serpihan badan pesawat. Menggambarkan betapa parahnya dampak yang timbul akibat kecelakaan itu. Sebagai leading sector proses evakuasi, ia juga dituntut mampu memotivasi personel yang lelah dan mengoordinasikan pencarian dengan tim SAR dari unsur lembaga lainnya.

Kepada wartawan GATRA Andhika Dinata, M. Egi Fadliansyah, dan pewarta foto Adi Wijaya, pria yang memulai kariernya di TNI Angkatan Udara ini berbagi pengalamannya saat mengevakuasi Lion Air PK-LQP dan gaya kepemimpinannya di BNPP (Basarnas) dalam menjalankan program. Wawancara berlangsung pada Jumat, 9 November lalu, di Kantor Pusat Basarnas, Jalan Angkasa Nomor 2–3, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, atau satu hari sebelum proses pencarian korban JT610 resmi dihentikan. Berikut petikannya:

Mengapa Basarnas menghentikan pencarian korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610?

SOP (standard operating procedure) pencarian korban adalah tujuh hari. Basarnas sudah memperpanjang pencarian tiga hari. Namun karena tidak ditemukan lagi korban pada radius tertentu dari titik jatuhnya pesawat, maka dihentikan. Kalau tidak ada berhentinya, jadi bagaimana? Tapi, KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) terus mencari [blackbox/CVR]. Mereka tidak punya penyelam, minta ke Basarnas. Saya kirim anak buah saya.

Bagaimana proses menemukan serpihan JT610?

Pertama JT610 lost contact, kita diberi titik koordinat. Tidak sampai 30 menit, SAR Jakarta sudah di lokasi dan menemui hanya puing-puing kecil di atas laut. Kita cari di bawah puing-puing itu tidak ada pesawat. Akhirnya, kita gerakkan peralatan canggih untuk bisa melihat 150 meter ke kanan, 150 meter ke kiri. Namanya side-screen sonary.

Empat kapal yang memakai alat ini, semuanya menangkap objek di dasar laut. Kita kirim penyelam, satu kapal merupakan tongkang terbalik, Kapal kedua menangkap objek rangka kapal rusak. Kapal ketiga menangkap bubu nelayan. Nah, yang satu, ketemu betul barangnya (potongan pesawat), baru turunkan ROV (remote underwater vehicle). Baru kelihatan banyak puing-puing.

Karena tidak punya peralatan clearence, kita berkomunikasi dengan Pertamina. Kapal Victory berhenti di atas puing-puing sampai radius pencarian 250 meter. Di luar 250 meter, sudah tidak ada serpihan. Di bagian ini, ada yang menemukan FDR. Setelah 10 hari, tidak ada lagi (temuan serpihan dan potongan tubuh) di situ. Untuk mencari CVR (cockpit voice recorder) kita pakai ping detector. Kalo barang itu dekat, ia akan bunyi. Semakin keras, semakin dekat. Rupanya, CVR ini terdengar, tapi lemah.

Bagaimana posisi Basarnas dalam pencarian dan penyelamatan korban jatuhnya JT610?

Tugas utama Basarnas dan gabungan adalah mengevakuasi korban. Kepala Basarnas otomatis menjadi SAR coordinator. SAR coordinator menunjuk Kepala SAR Jakarta sebagai SMC (SAR mission coordinator). Siapa pun institusi yang ikut dalam rangka pencarian korban harus report ke saya. Aturannya, kalau ada kecelakaan pesawat sipil, leading sector-nya Kabasarnas. Potensi SAR lainnya, seperti TNI, Polri, Pertamina, atau relawan yang ikut Basarnas, kita yang atur.

Dari mana dana operasional untuk pencarian Lion Air?

Ini dibiayai negara melalui APBN. Tidak ada dana-dana lain, sudah ada aturannya. SOP tujuh hari plus penambaharan tiga hari berkaitan dengan itu.

Berapa jumlah personel Basarnas yang terlibat dalam pencarian JT610?

Total 222 personel. 60 personel itu penyelam. Khususnya tim BSG (Basarnas Special Group). Semacam pasukan khusus Basarnas yang bisa kita kerahkan ke mana saja selama diperlukan. Adanya di kantor pusat. Tim ini punya kemampuan tiga media. Darat, laut, udara. Jadi betul-betul khusus, karena pendidikannya khusus.

Ada seorang relawan dalam koordinasi Basarnas yang meninggal saat bertugas. Sebetulnya seperti SOP penyelaman dalam kerja SAR?

Basarnas sebagai koordinator memerintahkan, siapa yang ingin membantu daftar ke kita, baru kita atur. Tanya levelnya apa, kemampuannya apa. Termasuk Indonesia Driver Rescueting tadi, dia punya kemampuan yang tinggi, militansi tinggi, dan bukan baru sekarang bekerja sama dengan Basarnas. Prosedurnya, setiap penyelaman minimal harus dilakukan berdua. Tidak boleh sendiri. Rupanya, alamarhum Syahrul Anto ketika menyelam luput dari pantauan temannya. Pas lihat ke atas dia sudah mengapung. Ternyata pingsan. Oleh dokter, setelah sadar dimasukkan ke chamber untuk kompresi. Dalam perjalanan ke darat, Tuhan punya kehendak lain. Saya ucapkan terima kasih atas sinergi dan dedikasi yang tinggi.

Untuk mendapatkan personel tangguh ada spesifikasi khusus?

Kita punya 38 kantor SAR. Di bawahnya ada 77 pos SAR. di bawah pos SAR ada 24 unit siaga. Dengan jumlah kantor pos dan siaga ini, jumlah total personelnya 3.231. Idealnya, dengan melihat luas wilayah lautan dua pertiga, banyak gunung, personilnya 7.000 orang. Tapi, negara belum memberikan. karena semuanya ASN. Pada 2016 ada moratorium. Pada 2017 saya membuat surat kepada Presiden, tembusan PAN RB, bahwa kita butuh personel khusus. Rescuer tadi, dengan ABK khususnya, juga ada administrasi dan teknik. Buat surat dan berbagai kajian, akhirnya diberikan. Dapatlah 160 dengan spesifikasi 110 rescuer dan 50 ABK. Pada 2018 kami bersurat lagi, dikasih 176 personel. Saya minta rescuer dan ABK, tiba-tiba dikasih personel administrasi. Sebetulnya, prioritas rescuer dan ABK.

Sisi kemampuan dan teknologi Basarnas seperti apa?

Kita ini sudah canggih. Pertama kali masuk, saya bilang kalau ingin lebih maju, ada empat hal perlu ditingkatkan. Pertama, saya perlu radio komunikasi 24 jam tanpa hambatan, ke seluruh Indonesia. Barang itu sudah ada. Kedua, layaknya Go-Jek, Grab, Uber, kita punya GPS Tracking. Ketiga, setiap ada kejadian saya ingin sistem menghitung otomatis lokasi kejadian dengan SAR terdekat. Juga untuk mengetahui di mana rumah sakit terdekat, berapa tenaga rescuer, dan lain lain. Berikutnya, kalau masuk di bawah air, dalam waktu sejam barang belum tentu disini (berpindah). Kita ada cuaca laut realtime. Juga punya cuaca udara realtime. Kita kombinasikan dengan sistem yang menghitung otomatis. Terakhir yang belum saya dapat, kamera satelit untuk memantau lokasi kejadian secara realtime. Ada barangnya tapi mahal. Ini berguna bukan hanya untuk Basarnas, tapi semua stakeholder lain. Tapi belum jadi prioritas.

Bagaimana kapasitas armada pencarian dan evakuasi milik Basarnas?

Total kita punya 170 kapal besar dan kecil. Kecepatannya bervariasi, paling cepat 43 knot. Helikopter ada delapan. Kita masih butuh helikopter lagi. Tahun ini beli dengan skema multiyears, dua tahun anggaran. Lalu saya beli kapal lebih besar untuk mencapai lokasi yang jauh butuh bahan bakar besar. Perlu kapal suplai juga, yang bisa bawa bahan bakar 450 ton. Kedua, bisa bawa air bersih 100 ton. Harus bisa didarati helikpter. Harus bisa bawa remote underwater operated vehicle. Tahun depan ada. Nanti ditaruh di timur satu, barat satu.

Daya dukung anggaran untuk operasional Basarnas?

Dukungan selama ini 50%. Saya efektifkan dengan anggaran yang ada. Salah satu caranya dengan skema multiyears. Sekarang sedang diusulkan. Di Basarnas tidak ada pengadaan pinjaman luar negeri. Saya rundingan, ternyata kemungkinan itu ada. Mudah-mudahan tahun depan bisa.

Soal nomenklatur badan, orang lebih kenal Basarnas dibandingkan dengan Badan Pencarian dan Pertolongan. Tanggapan Anda?

Dulu sebelum saya menjabat, ada seorang petinggi datang ke sini. Beliau mengatakan, mengapa harus pakai bahasa asing. SAR itu kan search and rescue. Beliau menginginkan bahasa Indonesia. Pas saya masuk, saya bilang tidak semua singkatan bahasa Inggris itu harus dibahasaindonesiakan. SAR itu universal. Tetapi beliau nya ingin bahasa Indonesia. Dibuatlah singkatan itu. Kenyataannya, BNPP ada lagi namanya Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Di bawah Kemendagri. Bikin bingung, maka kita selalu memakai BNPP dalam kurung Basarnas.

Apa tantangan dan hambatan yang dihadapi Basarnas dalam bertugas?

Kata kunci SAR itu ada tiga. Pertama, pemerintah serius. Kedua, all out semua daya dan upaya kita kerahkan. Ketiga, kita bekerja pakai hati. Yang kita hadapi ini keluarga korban dengan berbagai karakter. Di lapangan saya selalu hadapi tiga elemen. Pertama, korban yang saya harus tenangkan. Kedua, media yang setiap hari pasti ketemu. Ketiga, anak buah sendiri yang berbagai karakter. Capek dimaki-maki. Kalau enggak bisa saya handle, gawat ini. Saya bisa sampai di titik ini karena dukungan staf saya yang profesional dan terlatih. Ini perlu di-manage, enggak bisa main perintah-perintah.

Cover Majalah GATRA edisi No.3 / Tahun XXV / 15 - 21 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com