Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

BUKU

Dari Penulis Anak untuk Literasi Anak

Industri buku anak tidak pernah mati. Penulisnya banyak diisi oleh orang dewasa. Sayang, anak hanya menjadi objek cerita dan pasar. Padahal, gerakan literasi dikampanyekan semua pihak, mulai pemerintah, masyarakat, hingga keluarga.

Bose menarik rambutku lebih kuat. Anak-anak yang lain melihat ke arah kami. Ada yang bersorak dan berteriak. “Ayo Bose, jangan kasih ampun!” Aku tahu, itu pasti anak laki-laki. Kadang mereka tidak suka padaku. Menurut mereka, aku terlalu banyak bicara. Anak laki-laki tidak suka anak perempuan yang cerewet. Apalagi yang sering membantah dan melawan mereka.

Begitulah cuplikan ceritan pendek (cerpen) berjudul “Hukuman Dari Mama” dalam buku kumpulan cerpen Aku Radio Bagi Mamaku. Penulisnya, Abinaya Ghina Jamela, 9 tahun . Tokoh utamanya Alinka, murid kelas 1 sekolah dasar yang kritis, cerewet, dan usil. Alinka banyak menggerutu tentang polah orang dewasa atau menganggap teman-temannya sekelasnya bertingkah kekanak-kanakan, padahal dirinya sendiri masih bocah.

Ini buku kedua Naya, panggilan Abinaya. Karya perdananya adalah kumpulan puisi berjudul Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi yang dirilis pada Januari 2017. Buku puisi itu diganjar berbagai penghargaan, di antaranya Buku Puisi Terfavorit dalam Anugerah Pembaca Indonesia 2017 yang digagas Goodreads Indonesia. Buku itu juga masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kategori Karya Perdana dan Kedua.

Dalam Aku Radio Bagi Mamaku, Naya luwes memilih kata-kata di atas kemampuan rata-rata anak kelas III SD. Memilih “handal” ketimbang “jago” atau pilih “pengiba” alih-alih “penyayang”. Kekayaan perbendaharaan kata diperoleh dari kegemaran membaca.

Maklum saja, Naya rajin melahap bukan cuma buku anak-anak. Karya-karya Ernest Hamingway, Harper Lee, Truman Capote, dan Pramoedya Ananta Toer cuma sederet contoh saja yang sudah ia khatamkan di usia sangat belia. Yona Primadesi, ibunda Naya, sengaja tidak membatasi jenis bacaan putrinya.

Naya juga lumayan lihai bermain metafora, meski tidak sebanyak dalam buku puisinya. Misalnya menggambarkan kerasnya tepukan di pundaknya ibarat “kejatuhan sepotong besi” atau mengisahkan mama temannya sebagai "pensil warna merah", karena berambut merah dan mengenakan lipstik, sepatu, hingga baju merah yang membungkus tubuh kerempengnya. Tak mengherankan, kekayaan metafora dan diksi ini selalu menjadi benang merah tulisan Naya, apa pun jenisnya.

Naya juga tidak mau berhenti berekspresi dengan puisi dan cerpen. Saat ini, ia tengah menggarap novel berjudul Rahasia Pier Serbo, bertema petualangan. Yona mengaku tidak pernah mengarahkan putrinya menulis apa. Perannya hanya sebagai pembaca pertama tulisan Naya.

Yona memilih menerbitkan buku-buku Naya melalui penerbitan independen alias indie. Mungkin orang lain akan menyayangkan keputusan itu, karena publikasinya dinilai kurang masif. Namun, Yona punya dua alasan memilih jalur indie. Pertama, penerbitan indie lebih menguntungkan penulis dari sisi ekonomi. Kedua adalah kemerdekaan berkarya Naya, karena penerbit besar cenderung menyeragamkan naskah. “Kami tidak mau, jadi pilih sendiri sesuai karakter Naya. Penyeragaman itu yang kami hindari,” katanya.

Selama ini, buku anak justru banyak dihasilkan oleh penulis dewasa. Penulis berusia dewasa Clara Ng, contohnya, banyak menerbitkan buku anak semisal Dru dan Kisah Lima Kerajaan untuk usia 7-10 tahun. Tahun ini, Okky Madasari, yang dikenal lewat novel Entrok, baru-baru ini merilis dua buku serial anak berjudul Mata di Tanah Melus dan Mata dan Rahasia Pulau Gapi.

Perusahaan penerbitan mengaku kesulitan mencari penulis buku anak yang bagus. Gramedia Pustaka Utama (GPU), misalnya, mengungkapkan banyaknya naskah lokal yang tema dan kontennya kurang beragam. Ujung-ujungnya tidak punya diferensiasi.

Di sisi lain, mencari penulis usia anak lebih sukar lagi. Saat ini, penulis buku anak GPU lebih banyak diisi penulis dewasa. Kontribusi penulis kanak-kanak minim, sekitar 5%. “Beberapa kali ada yang kirim, tapi jadinya kurang matang. Makanya kami biasanya menyarankan untuk dibimbing orangtua,” Superintendent Buku Anak GPU, Nina Andiana, memaparkan.

Dari data GPU, pada 2018 ada peningkatan cukup baik dalam pasar buku anak, apalagi dua-tiga tahun lalu sempat ada penurunan. Namun, kalau dibandingkan segmen lain, pasar buku anak hanya sekira 10% dari total market. Permintaan terbesar adalah novel untuk remaja dan dewasa.

Fakta berikutnya, buku-buku anak yang berhubungan dengan pelajaran penjualannya cenderung lebih baik daripada buku cerita. “Mungkin salah satu sebabnya karena orangtua pintar secara akademis. Padahal sebetulnya, buku cerita malah sangat membantu mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak,” kata Nina.

Pegiat literasi Maman Suherman menilai, harus ada ekosistem yang mendukung karya anak tumbuh. Ia berharap, buku anak tidak bernasib seperti lagu anak yang saat ini seperti habis sama sekali karena dianggap kurang menjual. “Saya selalu berharap pemerintah menyubsidi lahirnya karya-karya anak, entah itu buku atau karya kreatif lainnya,” katanya.

Menurutnya, peran keluarga dan sekolah penting untuk merekatkan ekosistem yang menurutnya saat ini seperti jalan sendiri-sendiri. Jika ini berhasil, maka sukses pula membidani kelahiran penulis anak. “Seharusnya guru, komite sekolah, dan hal-hal yang berkaitan dengan organisasi sekolah yang bertujuan untuk menghasilkan manusia literat peduli akan hal itu. Tidak jalan di tempat, sekadar kegiatan membaca saja, apalagi kalau cuma bisa mengeja. Tapi bagaimana menuliskannya kembali,” penulis buku Re: tersebut memaparkan.

Putri Kartika Utami

Cover Majalah GATRA edisi No.3 / Tahun XXV / 15 - 21 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com