Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Era Suku Bunga Tinggi

Indonesia tidak dapat menghindar dari rezim suku bunga tinggi. Ia diperlukan untuk menarik investasi asing di tengah defisit transaksi berjalan.

Tren kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) ibarat awal musim flu. Negara lain yang kurang fit kondisinya terpaksa menelan pil pahit berupa menaikkan suku bunga acuan untuk bisa bertahan. Tamsil itu disampaikan Pieter Abdullah, ekonom dari CORE Indonesia, mengomentari kondisi neraca berjalan Indonesia yang terus mengalami defisit.

Pada kuartal III-2018 ini, menurut data Bank Indonesia, defisit neraca berjalan atau current account deficit (CAD), sudah mencapai angka 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). Ini merupakan defisit CAD terbesar dalam kurun empat tahun terakhir. Neraca berjalan adalah neraca yang menghitung total transaksi barang dan jasa suatu negara. Bila nilainya defisit, berarti arus dana yang keluar lebih besar dibandingkan dengan yang masuk. Kondisi ini berarti persediaan valuta asing (valas) jadi terbatas, hingga berdampak pada pelemahan nilai mata uang.

Situasi itu setidaknya tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah sejak beberapa hari ini. BI mengumumkan data defisit CAD pada Jumat, 9 November lalu. Kemudian pada Senin, 12 November, rupiah yang sempat menguat di level Rp14.700 melemah jadi Rp14.810 per dolar Amerika Serikat, atau terdepresiasi sebesar 0,89%.

Bagaimana mengatasi hal ini? Di atas kertas solusinya memang sederhana, yaitu mengubah defisit menjadi surplus, mengubah CAD menjadi SAD (surplus account deficit). Tapi praktiknya memang tidak mudah, karena ini berarti Indonesia harus mampu meningkatkan ekspor dan jasa, dan sebaliknya mengurangi impor.

Dari data BI, sejak 2014 lalu Indonesia selalu mengalami defisit neraca berjalan. Hanya pada kuartal III 2018 ini angkanya memang melonjak sangat tinggi menjadi 3,37%. Di satu sisi, CAD memang tidak berarti perekonomian suatu negara telah terpuruk. Bila investasi asing terus masuk, maka nilai mata uang akan tetap stabil.

Tapi sialnya, saat ini The Fed terus menaikkan suku bunga acuan, hingga dana valas terus tersedot masuk ke Amerika Serikat. Dengan neraca berjalan yang masih defisit, maka opsi yang tersedia bagi BI adalah menaikkan suku bunga untuk mempertahankan arus investasi asing.

Kebijakan suku bunga tinggi sebenarnya bisa diibaratkan obat alternatif. Suku bunga tinggi bukanlah solusi bagi defisit neraca berjalan. Tapi ia dibutuhkan agar arus investasi valas terus masuk ke Indonesia hingga perekonomian terus tumbuh. Meski, kebanyakan mengonsumsi “obat alternatif” memang juga akan memiliki efek samping.

Inilah yang dimaksud Piter bahwa pas badan lagi kurag fit, sialnya lagi ada musim flu. Badan tidak fit adalah kondisi Indonesia yang masih terus bergulat dengan CAD. Sedangkan musim flu adalah kebijakan The Fed yang membuat dana valas dari Asia tersedot pulang ke Amerika Serikat. “Selama tidak ada tekanan global, sebenarnya [CAD] tidak masalah,” katanya kepada Annisa Setya Utami dari GATRA.

***

Dalam diskusi bertema “Indonesia Risk Management Outlook 2019" di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa pekan lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo mengatakan bahwa saat ini kondisinya memang sulit bagi Indonesia untuk menghindar dari rezim suku bunga tinggi.

Pasalnya, berbagai negara juga seperti berlomba-lomba menaikkan suku bunga demi menyedot dana asing. Ini dampak kebijakan suku bunga The Fed yang membuat dolar terus menguat hingga terjadi pelarian modal ke luar (capital outflow). “Semua negara dalam suku bunga tinggi, [karena] berusaha menarik aliran modal,” kata Dody.

Dalam catatan GATRA, Indonesia memang bukan satu-satunya yang kini memasuki rezim suku bunga tinggi. BI, misalnya, memang sudah menaikkan suku bunga acuan tujuh hari repo rate dari 5,5% jadi 5,75% pada akhir Oktober lalu. Tapi negara lain juga menaikkan. Filipina, misalnya, juga menaikkan suku bunga mereka dari 4% jadi 4,5% pada September lalu. Bahkan, menurut Bloomberg, terbuka kemungkinan bank sentral Filipina akan kembali menaikkan suku bunga mereka jadi 4,75% seandainya arus dana keluar masih besar.

Meski tidak semua ikut menaikkan. Pekan ini, Malaysia mengumumkan tetap mempertahankan suku bunga acuan mereka di level 3,25%. Sedangkan Thailand sejak tahun lalu tetap percaya diri dengan tingkat suku bunga acuan yang cuma 1,5% –salah satu yang terendah di kawasan Asia Tenggara. Perbedaan ini memang terkait dengan posisi neraca berjalan negara masing-masing. Malaysia, misalnya, mampu mempertahankan surplus neraca berjalan sampai 2,5% pada kuartal III 2018 ini. Sedangkan Thailand lebih besar lagi, mencapai 8%.

Didik J. Rachbini, ekonom senior dari Institute for Development of Economics dan Finance (Indef), yang juga hadir di diskusi di Hotel Pullman tersebut, mengatakan bahwa bila berkaca pada pengalaman krisis 1998 lalu, Indonesia memang bisa dibilang kalah dengan beberapa negara tetangga di ASEAN.

Pada krisis 1998 itu, kata Didik, ada lima negara yang terkena dampak paling besar, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan. Kelima negara itu pada 1998 sama-sama memiliki defisit transaksi berjalan. Karena itu, ketika krisis moneter muncul, mata uang kelima negara itu pun rontok karena arus pelarian modal besar-besaran.

Tapi, 20 tahun kemudian, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan mulai menunjukkan perbaikan dengan berhasil mencatatkan surplus neraca berjalan. Korea Selatan, misalnya, memiliki surplus neraca berjalan 4,7% dari GDP. Tinggal Indonesia dan Filipina yang masih harus berjuang. Pekan lalu, Filipina melaporkan defisit neraca berjalan 3,5% pada kuartal III 2018. “Ini [CAD] memang permasalahan lama yang tidak kunjung terpecahkan, meski sudah sekian tahun,” kata Didik.

***

Sebenarnya, menaikkan suku bunga acuan bukan satu-satunya cara untuk menarik investasi asing di tengah CAD. Menurut David Sumual, ekonom Bank Sentral Asia (BCA), yang dapat dilakukan pemerintah adalah mendorong masuknya foreign direct investment (FDI) alias investasi langsung. Ini jenis investasi asing yang tidak akan terpangaruh oleh perubahan suku bunga.

Lagi pula, kenaikan suku bunga memang lebih ditujukan untuk menarik investasi portofolio alias hot money. Meski juga sebuah solusi, investasi portofolio juga memiliki kelemahan tersendiri karena gampang dipindahkan. “Tinggal bagaimana pemerintah bisa menerapkan reformasi struktural untuk membuat iklim bisnis yang lebih berdaya saing, kemudian kendala perizinan untuk pengusaha, itu yang jadi kendala selama ini,” katanya kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA.

Sayangnya, prestasi pencapaian FDI pemerintah tahun ini juga kurang baik. Awal November lalu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) melaporkan penurunan realisasi pananaman modal asing (PMA) pada kuartal III 2018. Total PMA yang terealisasi hanya Rp89,1 trilyun pada kuartal III 2018. Angka ini anjlok sampai 20,2% dibandingkan dengan tahun lalu yang bisa mencapai Rp111,7 trilyun.

Menurut Thomas Lembong, Kepala BPKM, penurunan realisasi investasi PMA ini memang karena kombinasi antara faktor eksternal dan internal. Saat ini, investasi dunia memang turun. Tapi di sisi lain, pemerintah juga kurang nendang dalam melakukan upaya perbaikan. “Saya pribadi tetap menempatkan tanggung jawab pada internal. Menurut saya, eksekusi dan implementasi kebijakan pro-investasi masih kurang,” katanya.

Sulitnya perizinan bagi invesor masih menjadi kendala utama. Menurut Lembong, selama ini untuk meningkatkan arus investasi, pemerintah masih belum menyentuh perbaikan fundamental pada sistem kerja pemerintahan, melainkan masih lebih pada utak-atik prosedur. Misalnya, memangkas prosedur administrasi investasi dari tiga minggu menjadi tiga hari dan penurunan biaya administrasi dari Rp 3 juta menjadi Rp 300.000. Meski hal itu juga membantu, investor tetap sulit diyakinkan. “Kita hampir seperti pakai cara kerja hacker dengan utak-atik prosedur,” katanya.

Sebelumnya, Bank Dunia memang menurunkan indeks kemudahan berusaha di Indonesia (ease of doing bussiness –EoDB) dari peringkat ke-72 menjadi ke-73. Posisi ini jauh dibandingkan dengan Thailand yang bertengger di urutan ke-27 atau Malaysia yang berada di urutan ke-15.

***

Ekonom dari Pusat Studi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Tony Prasentiantono, kepada GATRA mengatakan bahwa kebijakan suku bunga tinggi untuk mempertahankan nilai rupiah memang tak bisa dielakkan. Pasalnya, Indonesia memang harus tetap menarik dana asing di tengah penguatan dolar. “Kenaikan suku bunga The Fed, mau tidak mau Indonesia harus mengikuti,” katanya.

Selain itu, menurut Tony, menaikkan suku bunga memang opsi yang lebih mudah daripada mengendalikan defisit transaksi berjalan. “Mengendalikan defisit transaksi berjalan lebih susah,” katanya. Tony menilai bahwa dalam jangka pendek, yang bisa dilakukan pemerintah adalah mengerem impor, untuk membuat CAD makin kecil. Itu opsi paling masuk akal mengingat tahun 2018 tinggal tersisa 1,5 bulan lagi.

Tapi, lagi-lagi di sisi ini juga ada kendala. Wakil Ketua Umum Kadin, Shinta Widjaja, mengatakan bahwa dari rilis neraca perdagangan kuartal III 2018 oleh BPS pekan lalu, ekspor sebenarnya meningkat sampai 7,7%. Namun, peningkatan itu tetap kalah oleh peningkatan impor yang jauh lebih besar, yang mencapai 14,96%. “Usaha untuk menggenjot ekspor saya kira sudah cukup baik, manufaktur tumbuh 6%-8%, namun yang jadi masalah adalah menekan impor,” katanya kepada Muchammad Egi Fadliansyah dari GATRA.

Menurut Shinta, CAD selama kuartal III 2018 ini memang defisit karena impor meningkat. Sedang terkait dengan suku bunga tinggi, Shinta menilai bahwa pemerintah harus berhati-hati karena kebijakan suku bunga tinggi juga memiliki risiko. “Risiko negatif dan positifnya hampir seimbang,” katanya.

Positifnya, arus investasi asing tetap masuk hingga nilai rupiah tetap stabil. Tapi negatifnya, suku bunga perbankan juga akan naik hingga penyaluran kredit melambat. “Karena ini akan membuat pengusaha menahan diri mengajukan kredit, memilih mengerem ekspansi bisnis,” katanya.

Di tengah “musim flu” yang lagi datang, dan kondisi badan lagi tidak fit, suku bunga tinggi jadi opsi tak terelakkan.

Basfin Siregar

++++

Defisit Transaksi Berjalan Indonesia (% terhadap PDB)

2014

Kuartal 1: -2,3

Kuartal II: -4,3

Kuartal III: -3

Kuartal IV: -2,7

2015

Kuartal I: -2

Kuartal II: -2

Kuartal III: -2

Kuartal IV: -2,2

2016

Kuartal I: -2,1

Kuartal II: -2,4

Kuartal III: -2

Kuartal IV: -0,8

2017

Kuartal I: -0,9

Kuartal II: -1,9

Kuartal III: -1,8

Kuartal IV: -2,3

2018

Kuartal I: -2,3

Kuartal II: -3

Kuartal III: -3,37

Kuartal IV: (belum ada data)

Sumber: Bank Indonesia
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.3 / Tahun XXV / 15 - 21 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com