Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Berebut Rp3.000 Trilyun dari Marketplace Cina

Cina menjadikan konsumsi sebagai mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi yang melambat. Kebijakan Alibaba mengimpor produk global senilai Rp3.000 trilyun mesti ditangkap sebagai peluang. Sejauh mana pelaku bisnis Indonesia siap?

Besarnya daya beli 300 juta lebih konsumen kelas menengah atas di Cina bak bunga-bunga di taman yang siap diserbu kumbang dan kupu-kupu global. Festival belanja 24 jam dalam jaringan pada perayaan Single’s Day (Hari Lajang) setiap 11 November menjadi parameter baru pertumbuhan konsumsi di Cina.

Pada Hari Lajang tadi, Alibaba Grup yang dirintis Jack Ma (Ma Yun) membukukan transaksi senilai US$30,9 milyar atau Rp454,2 trilyun. Perolehan itu menjadi rekor baru transaksi, karena lebih tinggi 27% dibandingkan dengan nilai penjualan pada festival yang sama tahun 2017. Tahun lalu nilainya sebesar US$25,3 milyar.

Soal tren konsumen tersebut, Executive Vice Chairman Alibaba, Joe Tsai, mengatakan Alibaba fokus untuk jangka panjang pada potensi pertumbuhan konsumen kelas menengah Cina. Diproyeksikan dalam 10-15 tahun ke depan, kelas menengah itu akan tumbuh dua kali lipat menjadi 600 juta orang.

Joe menambahkan bahwa ada atau tidak ada perang dagang tidak akan menghentikan pertumbuhan itu. “Tipikal penduduk urban Cina memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terutama pada produk baru,” katanya. Menurut Joe, ekonomi Cina akan tetap bertransformasi dari semula disokong oleh kinerja ekspor menjadi konsumsi.

Kebijakan ekonomi proteksionisme dan perang dagang yang dilancarkan Donald Trump mulai dirasakan Cina. Biro Statistik Nasional pada Jumat, 19 Oktober lalu, mengumumkan pertumbuhan ekonomi Cina pada kuartal ketiga 2018 melambat ke tingkat terendah dalam sembilan tahun terakhir sejak krisis moneter 2008 pecah. Pertumbuhan ekonomi berada di angka 6,5% saja.

Untuk menangkap pelambatan ekonomi, karena akses ekspor yang dibatasi, Pemerintah Cina memilih untuk menjadikan konsumsi domestik sebagai motor penggerak pertumbuhan. Untuk menggairahkan daya beli konsumen, Beijing melakukan usulan reformasi pajak secara simultan melalui pemotongan pajak.

Proposal teranyar datang dari Badan Perencanaan Ekonomi Utama Cina untuk memotong setengah pajak pembelian mobil, dari 10% menjadi 5%. Kebijakan tersebut ditujukan untuk pembelian mobil dengan kubikasi mesin di bawah 1.600 cc. Selain memotong pajak pembelian mobil, Beijing juga mengeluarkan draf peraturan untuk memberikan potongan pajak tambahan untuk wajib pajak pribadi.

Fasilitas pajak tunjangan yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2019 itu berupa enam tunjangan yang dapat mengurangi tagihan pajak hingga 100.000 yuan per tahun untuk setiap keluarga. Dengan kebijakan tersebut, Pemerintah Cina berharap daya beli masyarakat akan naik, karena ada uang tambahan untuk dibelanjakan. Pos konsumsi menyumbang hampir 80% pertumbuhan Cina dalam sembilan bulan pertama 2018, naik dari 45% pada 2010.

***

Kebijakan Pemerintah Cina menaikkan tingkat konsumsi kaum urban tersebut direspon dengan jeli oleh Alibaba Groul Holding Ltd., yang menyatakan komitmennya mengimpor produk senilai US$200 milyar atau Rp3.000 trilyun (kurs Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat) dari 120 negara lebih dalam periode lima tahun ke depan. Indonesia termasuk di dalamnya.

Langkah Alibaba tersebut bisa dibaca sebagai dukungan kepada ambisi Pemerintah Cina untuk meningkatkan nilai impor sebesar US$30 trilyun dalam kurun waktu 15 tahun mendatang. Strategi korporasi Alibaba itu disampaikan langsung oleh Daniel Zhang, CEO Alibaba Group, dalam Global Import Leadership Summit yang menjadi salah satu agenda penting pada China International Import Expo (CIIE) 2018 di Shanghai, Selasa, 6 November lalu.

Alibaba dalam pernyataan resminya mengatakan komitmen tersebut merupakan bentuk konkret dari strategi jangka panjang korporasi menyambut globalisasi. Alibaba berambisi mendorong permintaan konsumen domestik terhadap produk berkualitas tinggi dari luar negeri. “Globalisasi menjadi salah satu strategi pertumbuhan jangka panjang paling kritikal untuk Alibaba. Kami membangun infrastruktur perdagangan masa depan untuk merealisasikan globalisasi ekonomi digital di mana perdagangan menjadi mungkin bagi negara-negara di seluruh dunia,” kata Zhang.

Dengan memakai teknologi inovatif dan ekosistem yang kuat, menurut Zhang, Alibaba juga menghendaki perdagangan global menjadi lebih inklusif dan memenuhi misi perusahaan untuk memberikan kemudahan perdagangan di era digital. Pada kesempatan itu, Alibaba sekaligus menyatakan janjinya untuk membantu mengimpor produk internasional dari pebisnis di sejumlah negara di dunia, seperti Jerman, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Indonesia, dan Korea Selatan lewat jaringan e-commerce miliknya, yakni Tmall dan Taobao.

Dalam laporan bersama Deloitte Cina, Kamar Dagang Internasional Cina, dan AliResearch kenaikan jumlah konsumen kelas menengah atas, yang terjadi berkat konsistensi pertumbuhan ekonomi Cina dan diyakini akan mendorong permintaan produk-produk impor berkualitas.

Laporan tersebut menyatakan bahwa pasar e-commerce lintas-batas di Cina mampu tumbuh signifikan, dengan proporsi impor di e-commerce naik 10,2% pada 2017, dari 1,6% pada 2016. “Sejumlah merek, termasuk P&G, Nestle, JBS, dan Refa, telah membuat kemitraan holistiknya dengan seluruh ekosistem Alibaba,” demikian pernyataan resmi Alibaba.

Merek-merek global tersebut dapat secara efektif memasuki pasar kelas menengah atas yang sedang tumbuh, dan menjadi mesin pelecut pertumbuhan konsumsi di Cina. “Kelas menengah sedang tumbuh. Pendapatan meningkat, konsumen ingin mendapatkan akses yang cepat untuk beragam produk berkualitas tinggi dari seluruh dunia,” kata Alvin Liu, General Manager di Tmall Impor and Export.

***

Kehadiran produk asal Indonesia pada festival Hari Lajang 11/11 ditandai dengan peluncuran Paviliun Indonesia di perhelatan China International Import Expo 2018 tersebut. Saat itu, Sih Elsiwi Handayani Oratmangun, istri Duta Besar RI untuk Cina, Djauhari Oratmangun, mengajak masyarakat Cina untuk membeli produk-produk Indonesia. Produk Indonesia secara perdana masuk di platform belanja Tmall Global di Shanghai.

Paviliun yang berdiri di dekat pintu masuk Oriental Pearl Tower, yang menjadi ikon wisata internasional Shanghai, memajang lima merek dari Indonesia. Kelima merak adalah Indomie (mi instan), Kapal Api (kopi), Nabati Richeese (biskuit), Papatonk (kerupuk udang), dan Yan Ty Ty (makanan dan minuman dari sarang burung walet).

Masuknya produk Indonesia itu tidak lepas dari kelanjutan pertemuan Jack Ma dengan Presiden Joko Widodo. Untuk mematangkannya, usai diskusi panel “Disrupting Development” di Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Ma melakukan pembicaraan dengan Kementerian dan Lembaga terkait di Indonesia. Dari pembicaraan itu disepakati lima produk asal Indonesia untuk masuk dalam festival penjualan terbesar Alibaba 11/11 yang penuh dengan diskon dan promosi.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, yang ikut dalam pertemuan dengan Jack Ma, mengatakan peluang ke depan harus lebih dimanfaatkan. “Ke depan kita bekerja sama dengam Kadin Indonesia supaya bukan hanya produk makanan tapi bisa produk industri besar yang bisa diikutkan di 11/11 itu,” katanya.

Triawan mengungkapkan, akan ada 10 juta produk dari berbagai negara di lapak Alibaba itu. Kualitas produk dan harga menjadi kunci larisnya jualan yang dipajang. Untuk setiap produk ada syarat berupa stok minimal 1 juta untuk dapat ditempatkan di gudang milik Alibaba. Syarat itu menjadi bagian layanan Alibaba ke konsumen.

***

Terbukanya pintu ekspor ke pangsa pasar Cina melalui Alibaba itu direspons beragam oleh para pelaku bisnis di Tanah Air. H. Miftahul Ulum, seorang pengusaha industri logam di Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, menyambut baik kabar tersebut. “Itu peluang besar buat kita. Karena memang saat ini eranya pasar digital,” katanya kepada GATRA.

Selama ini, ia bersama dengan koleganya yang tergabung di Asosiasi Pengusaha Indutri Logam Waru (Aspilow) Sidoarjo oleh pemerintah juga sudah dikenalkan dengan peluang pasar digital. “Tapi masih sebatas classroom saja,” kata pendiri Aspilow pada tahun 1994 ini. Ia menilai, produk UMKM di Indonesia tidak kalah dengan industri luar negeri. Dari segi kualitas juga tidak kalah. “Bahkan dalam satu produk tertentu, varian kita jauh lebih banyak,” ia menegaskan.

Timbul Raharjo, eksportir mebel dari Yogyakarta, mengatakan pasar Cina masih kecil. Bentuknya pun masih bahan baku seperti rotan dan kayu. “Pasar Cina spesifik seperti kayu jati tebal dan akar kayu jati, yang bagus dan memang tidak ada di sana,” katanya. Timbul mengungkapkan, pasar mebel di Cina masih kalah dibandingkan dengan Australia, Amerika Serikat, Belanda, dan Dubai.

Sementara itu, soal menggenjot ekspor, ia menilai langkah pemerintah belum optimal. Beberapa hal yang harus dibenahi oleh pemerintah. Di antaranya adalah aturan yang masih merintangi seperti bea dan cukai, pajak, SVLK (sistem verifikasi dan legalitas kayu), lalu ketentuan ekspor. Untuk UMKM, misalnya, IMB di perkampungan sangat sulit karena usaha harus di lingkungan industri kayu di klaster industri. “Jadi US$5 juta target pemerintah, kini hanya US$1,7 saja karena berbagai kesulitan tersebut,” katanya.

Adapun Ratimin, yang menjadi anggota Asosiasi Pengusaha Oleh-oleh (Aspo) Jawa Tengah, merespons baik kebijakan Alibaba itu. Selama ini Aspo sudah melakukan ekspor perdana ke Jerman untuk sale dan keripik nangka serta salak. “Itu bagian dari kontrak ekspor 16 kontainer atau setara dengan 192 ton keripik yang dikirim bertahap mulai 2018 sampai 2019 mendatang,” katanya kepada M. Ridlo Susanto dari GATRA.

Tantangan produksi makanan untuk ekspor, menurut Ratimin, yang juga Ketua Asosiasi UKM Jawa Tengah, itu ada pada permodalan, proses standarisasi, dan kontinuitas produk dalam volume besar. Untuk itu, ia siap jika pemerintah mendorong Aspo untuk masuk ke pasar Cina.

***

Menurut Deputi Menteri Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria Simanungkalit, pemerintah dan sektor swasta telah melakukan kolaborasi melalui kebijakan dalam rangka solusi yang berorientasi keberlanjutan dan daya saing produk UMKM. Kolaborasi juga dilakukan untuk mendukung digitalisasi UMKM yakni “Go Digital Vision 2020” dengan target startup technopreneurs national movement, farmer, and fisherman go digital, 8 juta SMEs go digital, dan 187 desa broadband terpadu.

Produk apparel dan fashion, menurut Victoria, sudah menembus pasar Cina dan berpotensi menambah volume lebih besar lagi. “Kelebihan Indonesia pada potensi ragam bahan baku dan budaya yang dapat diaplikasikan menjadi tren mode,” katanya.

Sementara itu, terkait dengan kemampuan untuk menembus pasar online global, berdasarkan pengalaman dalam pembinaan UMKM, selama ini untuk masuk e-commerce Alibaba ada berbagai syarat yang harus dipenuhi. Beberapa kendala di antaranya soal trust building seperti lamanya UMKM beroperasi, jumlah tenaga kerja, penghargaan, sertifikasi internasional yang sudah dimiliki, serta volume dan kontinuitas produk.

Sementara itu, untuk e-commerce domestik, Victoria melihat masih cenderung dikuasai reseller yang menjual produk impor. Selain itu, dengan kondisi geografis Indonesia kendala utamanya adalah infrastruktur IT, logistik, dan sistem pembayaran.

Terkait dengan e-commerce, Sekretaris Jendral Kementerian Perdagangan, Karyanto Suprih, mengatakan saat ini regulasinya sudah masuk tahap drafting peraturan pemerintah (PP) dan sudah disampaikan kepada Presiden. “Sudah dibahas di berbagai kementerian, kini tinggal koordinasi saja antar kementerian,” katanya kepada GATRA. Dalam PP itu diatur soal pajak dan juga agar pelaku marketplace menyediakan slot untuk produk dalam negeri.

Menyangkut peluang yang disodorkan Alibaba, Karyanto melihat itu sebagai salah satu strategi dagang Cina. Namun, Indonesia perlu merespons dengan produk-produk yang berkualitas dan diminati konsumen di sana.

Untuk upaya menyiapkan IKM masuk dan berjualan melalui daring, sejauh ini sudah dilakukan oleh Kementerian Perindustrian. Direktur Jendral IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih, mengatakan pihaknya telah melakukan pelatihan melalui program e-smart. Namun untuk produk IKM sejauh ini belum ada yang nembus Alibaba.

“Untuk yang masuk ke Alibaba lewat momen 11/11 baru lima produk saja. Kan tidak sembarangan, ketersediaan barangnya harus banyak,” katanya. Namun melihat peluang yang besar, Gati mengungkapkan bahwa arah untuk IKM menuju ke sana. “Produknya kompetitif di domestik, baru yang lebih baik didorong untuk masuk pasar global,” katanya.

G. A. Guritno, Dara Purnama, M. Egi Fadliansyah, Arif Koes Hernawan (Yogyakarta), dan Nur Kholis Zaein (Surabaya)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.3 / Tahun XXV / 15 - 21 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com