Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KOLOM

Global Islamic Economy Summit 2018, Peran Indonesia

Global Islamic Economy Summit 2018 (GIES 2018) diselenggarakan di venue yang luxurious, Madinat Jumeirah, Dubai, pada 30-31 Oktober lalu dengan peserta lebih dari 2.500 orang, yang terdiri dari pebinis, pejabat, akademisi, dan para praktisi.

Oleh:
H. Sapta Nirwandar
Chairman of Indonesia Halal Lifestyle Center

Global Islamic Economy Summit 2018 (GIES 2018) diselenggarakan di venue yang luxurious, Madinat Jumeirah, Dubai, pada 30-31 Oktober lalu dengan peserta lebih dari 2.500 orang, yang terdiri dari pebinis, pejabat, akademisi, dan para praktisi.

Perhelatan GIES 2018 adalah forum terbesar dan relatif lengkap di dunia Islam dan dibuka langsung oleh Sheikh Muhammad bin Al-Rashid Makhtoum sebagai Wakil Presiden dan Perdana Menteri Uni Arab Emirates (UAE). Yang menarik dari penyelenggaraan GIES 2018 adalah berbagai sektor dan stakeholders menyemarakkan program secara terintegrasi. Dari substansi berbagai topik aktual dan global dibahas dengan cara panel, terutama dari kalangan industri perbankan, fashion, dan art.

Sebagai contoh di sektor industri makanan bagaimana perkembangan bisnis kurma Bateel, yang awalnya hanya beredar di kalangan lokal sekitar Dubai. Saat ini sudah go global, produk Bateel dapat ditemui di Harodz, supermarket mewah di London, tampil dengan packaging-nya yang sangat trendy –tidak kalah dengan tampilan packaging cokelat Godiva dan sebagainya. Rasanya juga dikombinasikan atau diisi dengan rasa cokelat orange, almond, dan pistachio. Tidak mengherankan bila kurma Bateel dijadikan sebagai suvenir mewah bagi pelancong yang ke Dubai. Bahkan sekarang sudah merambah di kafe-kafe yang dapat kita temui di berbagai mal di Dubai.

Kemudian, yang sudah menjadi langganan hot topic adalah Islamic finance. Dubai yang mengklaim sebagai the world`s capital of Islamic economy selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam bidang ini (the roadmap a head). Bila London menjadi kapital keuangan konvensional, maka Dubai juga menganggap mereka bisa menjadi leading sector pada keuangan syariah.

Saat ini, sektor keuangan syariah UAE menguasai 9,1% dari market global, dibandingkan dengan Malaysia dan Indonesia yang hanya 2,1% dan 3,3%. Selain kemajuan financial technology, sektor keuangan syariah juga sangat mendorong tumbuhnya sektor riil. Seperti terlihat dari strategi Dubai Islamic Economy Development Centre (DIEDC) 2017–2021 yang bertumpu pada sektor keuangan, sehingga mendorong tumbuhnya halal sektor/halal industri, Islamic lifestyle sebagai sektor tambahan, fashion, arts, dan design. Islamic tourism juga menjadi prioritas yang mendorong tumbuhnya nilai ekonomi yang cukup besar menurut State of the Global Islamic Economy Report 2018–2019 sebesar US$177 milyar.

Kemajuan dalam sektor keuangan dan industri tersebut di dukung yang mereka sebut supporting sectors seperti knowledge, standards, fintech, dan digital islamic economy, yang dewasa ini tentu tidak mungkin dilalui bila industri dan ekonomi suatu negara akan berkembang.

Dari digital economy diperkirakan, pengeluaran masyarakat muslim mencapai US$107 milyar pada 2014 dan diperkirakan akan meningkat menjadi US$277 milyar pada 2020. Pemerintah UAE menyiapkan infrastruktur untuk tumbuh berkembangnya ekonomi digital ini. Topik mengenai ekonomi digital selain disajikan di plenary session juga dilakukan dalam bentuk business forum dan matching dengan peserta yang terbatas dan ditambah mini expo yang mewah untuk sarana penunjang bagi peserta summit, sehingga bisa terjadi deal-deal yang konkret dan membangun jaringan bisnis.

Dalam kesempatan GIES 2018 ini telah di-launching juga satu kerja sama dalam perdagangan produk industri dan servis halal yang disebut dengan Halal Trade & Marketing Centre (HTMC), yang diprakarsai oleh Dubai Airport Freezone (DAFZA) dan Dubai Islamic Development Centre (DIEDC) dengan menggandeng 12 partner dari berbagai negara. Alhamdulillah, Indonesia diwakili oleh Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC). Kerja sama HTMC dan mitranya ini terutama dalam memasarkan produk halal market, yang termasuk negara-negara OIC dan non-OIC. Selain itu, kerja sama dengan HTMC kami juga bisa memberikan informasi dan koneksi bagi produsen di Indonesia untuk bersaing di UAE, khususnya pasar global,

Dalam penyelenggaraan GIES tahun ini yang menarik juga adalah dibahas suatu topik yang relatif baru, yaitu Global Perspective on the Islamic Creative Economy. Topik ini menarik banyak peserta seminar, UAE menyatakan bahwa ekonomi tidak hanya sekitar keuangan dan industri, tetapi dalam era kehidupan modern saat ini juga berkembang ekonomi yang berbasis kreativitas, sebagai gelobang ekonomi ke-4 setelah pertanian, industri, dan informasi.

Di dalam dunia Islam art & culture sangat kaya dan beragam, menurut H.H. Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, Vice President and Prime Minister of the United Arab Emirates and Ruler of Dubai, “The continued developments and changes in the global economy increase the need to constantly diversify the structure of our national economy.”

Untuk mengimplementasikan gagasan kebijakan itu, Pemerintah UAE telah menyusun empat strategi dasar dalam mengembangkan Islamic creative economy seperti yang dikatakan oleh Sultan Bin Saeed al-Mansouri, UAE Minister of Economy and Chairman Dubai Islamic Economy Development Centre, antara lain terdiri dari:
1. Attracting and nurturing talent pengembangan bakat alami sangat penting bagi artis di setiap bidang.
2. Creating world-class cultural infrastructure membangun infrsatruktur seperti museum, pusat budaya, dan ruang pameran seni yang mendorong partisipasi penonton dan bisa sebagai ajang promosi dan iklan,
3. Raising public awareness about Islamic culture and art untuk membangun audiens lokal, influencer, dan penilai seni dalam ekonomi Islam,
4. Mobilising funding melalui kemitraan pemerintah dan pembiayaan perbankan Islam untuk mendukung ekonomi budaya dan seni Islam.

Terkait dengan strategi di atas, salah satu kegiatan yang kongkrit adalah mengangkat seni budaya lokal tanpa mengubah akar budayanya dengan perubahan teknologi dewasa ini. Ternyata masih banyak produk culture dan art Islam yang belum tergali. Untuk itu, Pemerintah UAE memberikan rangsangan dengan melakukan kompetisi di bidang global Islamic creative economy. Indonesia ikut serta yang diwakili oleh Kaaba dari Bandung yang didukung oleh Bekraf dengan menampilkan gambar virtual Ka`bah yang dapat dinikmati sebelum kita ke Makkah. Alhamdullilah, Indonesia berhasil masuk ke 10 besar.

State of Global Islamic Economy Report 2018-2019
Dalam GIES 2018 ini, sebagaiamana tahun-tahun sebelumnya, diterbitkan State of Global Islamic Economy Report 2018-2019. Report ini hasil kolaborasi Dinar Standard dengan Thomson Reuters. Report tahun 2018 ini, dengan tampilan cover yang milenial, isinya juga lebih padat dan lengkap dengan perkembangannya, kontribusi, dan analisis prospeknya. Report ini juga membahas ethical learning dan technology, yang sejak diterbitkannya report ini pada 2012, telah menjadi referensi para akademisi, industri, dan pemerintah secara global.

Selain isi yang relatif lengkap dengan data-data pendukung hasil riset di negara Islam maupun perusahaan-perusahaan yang relevan, baik lokal maupun multinasional. Sehingga report ini selalu ditunggu update-nya setiap tahun.

Pada report 2018-2019, sektor utama yang ditampilkan antara lain halal food, Islamic finance, halal travel, modest fashion, halal media and recreation, halal pharmaceuticals, dan halal cosmetics. Kontribusinya sektor tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1. Sektor – Sektor Halal Life Style dan Kontribusinya
Sektor
Kontribusi dalam US $
Pertumbuhan Global %
2017
Perkiraan 2023
Food
US$1,303 Billion
US$1.863 Billion
6.90%
Travel
US$177 Billion
US$274 Billion
6.4 %
Modest Fashion
US$270 Billion
US$361 Billion
7.5 %
Pharmaceutical
US$87 Billion
US$131 Billion
6.6 %
Cosmetics
US$61 Billion
US$90 Billion
6.7%
Media and Recreation
US$209 Billion
US$288 Billion
7.2 %
Finance/ Bank
Asset
US$ 2.438 Billion
Asset
US$ 3.809 Billion
Asset
6.4 %
Sumber: State of the Global Islamic Economy 2018-2019 Report

Konsumsi makanan dan minuman umat Islam dunia pada 2017 mencapai US$1,303 juta, mempresentasikan sebesar 21,2% dari total konsumsi makan dunia. Demikian pula bila kita melihat kosmetika dan obat-obatan, jumlahnya sebesar US$61 juta dan US$87 juta atau 6,6% dari total konsumsi dunia. Kebutuhan atau konsumsi umat islam untuk kedua produk ini sangatlah besar, demikian pula mungkin sebagian masyarakat tidak mengetahuinya, kebutuhan pakaian dan fashion bagi umat islam secara global mencapai US$270 juta. Baju muslim/pakaian bagi kaum muslimin tidak hanya harus memenuhi ajaran agama, tapi telah menjadi tren dan bagian dari lifestyle.

Indonesia berdasarkan perhitungan Global Islamic Indicator pada State of Global Islamic Economy Report 2017–2018 menempati peringkat ke-11. Saat ini, pada report 2018-2019, Indonesia naik menempati urutan ke-10, top 10 ranking. Ini merupakan kemajuan yang diharapkan lebih tinggi lagi pada masa yang akan datang. Di sektor modest fashion, Indonesia menempati peringkat kedua dari 10 negara. Nilai spending-nya juga relatif besar, yaitu 270 billions pada 2017 dan diperkirakan pada tahun 2023 menjadi 301 billions.
Pesaing kita adalah Turki, UAE, Malaysia, dan Singapura.

IHLC berkolaborasi dengan Dinar Standard dari Dubai yang sudah berpengalaman dalam menyusun Report Global Economy akan menerbitkan Indonesia Halal Economy Report & Strategy Roadmap 2018. Strategic roadmap ini dapat memberikan perspektif halal industry di Indonesia dengan objektif menetapkan skala pertumbuhan konsumen halal industry, arah pengembangan ekspor dengan memperhitungkan situasi ekonomi Islam global dan para pemain industri halal global.

Roadmap ini diharapkan sebagai bahan informasi bagi para pemangku kepentingan industri halal. Pada akhirnya, lahirnya roadmap ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis, kebijakan yang dapat mengakselarasi industri halal Indonesia. Indonesia Halal Economy Report & Strategy Roadmap ini akan diluncurkan pada Desember 2018, insha Allah.

Cover Majalah GATRA edisi No.5 / Tahun XXV / 29 Nov - 5 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Infoproduk
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com