Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristyanto: Yakin Megawati akan Kembali Terpilih di 2020

Menurut Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristyanto, bukan sekali ini Megawati Soekarnoputri melepas pernyataan soal pensiun dan suksesi di partai. Karena di sisi lain sosok Megawati adalah tokoh yang selalu tunduk pada keputusan kongres, Hasto pun menduga ada muatan joke politik pada pernyataan 15 November lalu –saat membuka sekolah calon anggota legislatif tingkat DPR RI di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta.

Dengan melihat asapirasi kader dan arus bawah, Hasto menyebut masih besar keinginan untuk mempertahnakan Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan di Kongres 2020 nanti. Sabtu pekan lalu, bertempat di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Hasto menerima wawancara reporter GATRA Dara Purnama. Berikut petikannya:

Bagaimana respons kader dan akar rumput atas pernyataan pensiun Megawati?

Saya menerima banyak telepon dari daerah arus bawah. Mereka menyebut bahwa partai ini memerlukan sosok pemimpin yang kuat. Sosok pemimpin yang konsisten, sosok pemimpin yang satunya kata dan perbuatan. Dengan demikian, arus bawah memang mengharapkan Ibu Mega. Tidak hanya beliau menjadi pemersatu. Tidak hanya beliau menentukan arah partai ke depan. Akan tetapi dukungan yang sangat kuat untuk mendukung Pak Jokowi juga sangat diperlukan. Dengan demikian, justru karena Pak Jokowi itu dicalonkan kembali oleh PDI Perjuangan, kemudian kesadaran organisasi partai mengharapkan Bu Mega terus mendampingi Pak Jokowi dan memimpin partai ini.

Jadi masih banyak yang menginginkan Megawati bertahan sebagai ketua umum?

Megawati Soekarnoputri adalah pemimpin perempuan pelopor. Ibu Mega

memberikan ruang kreasi yang besar dalam menjabarkan seluruh gagasan-gagasannya yang prinsipil itu. Karena itulah Ibu Mega mengatakan mau pensiun dan sebagainya, justru kami kemudian menyampaikan kepada seluruh kader-kader partai, bagaimana responsnya dengan seluruh progress yang dilakukan untuk membangun partai ini. Dukungan struktural partai mengharapkan agar Ibu Megawati Soekarnoputri dengan kepemimpinan yang kokoh dan ideologi tersebut.

Masa jabatan Megawati sebagai ketum berakhir 2020. Belum ada antisipasi suksesi?

Melihat respons dari peserta rakornas kemarin, dan respons ketika kami turun ke bawah, kami yakin Ibu Mega akan terpilih kembali. Beliaulah yang membangun PDI Perjuangan ini dari awal, dari SDM-nya yang praktis selama 32 tahun Orde Baru tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan sumber-sumber daya kader yang mumpuni karena hampir seluruh kader masuk ke Golkar. Tapi Ibu Mega dengan penuh kesabaran revolusioner membangun organisasi ini. Jadi Ibu Mega selalu berada di hati para kader PDIP sampai tingkat bawah. Terlebih mekanisme kongres mengatur, ketua umum itu dipilih melalui utusan-utusan itu.

Pemilu 2024 disebut tahun eksistensi generasi politik baru, PDI Perjuangan sudah menyusun roadmap ke arah sana?

Kalau kita lihat PDIP justru tercatat paling banyak memiliki kader perempuan di legislatif dan pimpinan partai sama di eksekutif kepala daerah. Kami paling banyak punya kepala daerah yang muda. Proses regenerasi tidak ada persoalan, karena ketua umum justru memberikan sebuah nilai-nilai, sebuah kebijakan-kebijakan di mana fungsi regenerasi itu berjalan dengan baik. Tetapi kami juga memerlukan sosok yang bagi kami memberikan direction tadi. Yang sangat kokoh dalam hal ideologi tadi. Ini adalah Ibu Megawati Soekarnoputri.

Tapi jika Megawati terpilih lagi, konsep regenerasi akan ditunda?

Bukan berarti ketika arus bawah semua mengkehendaki Ibu Mega terpilih kembali maka proses regenerasi tidak ada. Justru itu berjalan dari banyaknya kader-kader partai yang menjadi pemimpin, termasuk Pak Jokowi sendiri. Itu suatu proses kaderisasi kepemimpinan. Kalau tidak percaya boleh dilihat dokumen kongres PDIP pada 2005, kami sudah menyatakan konsepsi mengelola partai sambil mengelola negara.

Mana yang akan menjadi prioritas regenerasi di 2024, trah Soekarno atau kader terbaik?

Tahun 2024 memang dikatakan sebagai regenerasi menyeluruh. Tapi kami juga percaya bahwa proses regenerasi kepemimpinan dalam pengertian ketua umum partai itu menempatkan Bung Karno dan keluarganya pada fungsi yang sangat khusus. Dan itu kesadaran terhadap kultural, dan kesadaran ideologis dari PDI Perjuangan.

Benarkah ada kompetisi antara faksi trah Soekarno dan non-trah Soekarno dalam proses regenrasi nanti?

Enggak ada. Kalau kita lihat di Blitar, ribuan orang datang setiap hari ke makam Bung Karno. Artinya, Bung Karno selalu hidup sehingga gak bisa dibedakan antara faksi Soekarno dan non-Soekarno. Semuanya adalah Soekarnois yang ada di PDI Perjuangan. Tentang proses kepemimpinan ke depan, kesadaran kultural kami tetap menempatkan Bung Karno dan keluarganya.

Ada nama-nama yang beberapa tahun belakangan masuk bursa calon pengisi suksesi di PDI Perjuangan, dari trah Soekarno ada Puan Maharani, Mas Prananada, dan Mbak Puti Guntur. Sementara itu, di sisi non-trah Soekarno ada Pak Jokowi, Pak Pramono Anung, Pak Ganjar Pranowo, bahkan nama Anda sendiri. Bagaimana menilai nama-nama itu?

Semua kan berkolaborasi dengan kompetensi masing-masing. Mbak Puan punya pengalaman yang luas sebagai anggota dewan, sebagai Menko PMK. Beliau sosok muda, tetapi justru kepemimpinannya diakui. Terbukti program-program sosial Pak Jokowi bisa diterima secara luas.

Mas Prananda juga sangat kuat mulai dari aspek menjabarkan ide gagasan pemikiran dan cita-cita Bung Karno secara ideologi. Dia adalah orang ideologinya Bung Karno.

Mbak Puti juga dengan kemampuan orasinya untuk menggalang basis massa, wong cilik.

Kemudian Pak Pramono Anung dengan pengalamannya yang luas sebagai legislatif, eksekutif, dan juga sebagai Sekjen PDi Perjuangan. Pak Ganjar sebagai seorang gubernur yang juga muncul dari bawah. Jadi semua memberikan hal yang positif dan itulah hasil proses kaderisasi partai.

Demikian pula Pak Jokowi. Beliau sebagai wali kota dan selalu mendapatkan upaya karena kepemimpinannya yang merakyat turun ke bawah, sehingga akhirnya menjadi presiden. Dan ini juga membangun tradisi demokrasi baru, yaitu demokrasi dari bawah, wali kota jadi gubernur, lalu gubernur jadi presiden. Jadi ini banyak orang yang tidak mengira bahwa itu adalah sebuah kerja keras, buah membangun institusi kelembagaan kepartaian yang secara konsisten dilakukan Ibu Mega.

Semua akan terjawab di Kongres 2020?

Selama ini kami melakukan kongres kan bulan April. Tapi 2020 tidak, karena kami memmpunyai mekanisme, sehingga nanti dinamikanya akan dilihat. Tapi posisi politik Ibu Mega secara ideologi, secara kultural, adalah seperti tadi.

Pada Kongres 2015 sempat muncul wacana pembentukan wakil ketua umum sebagai jembatan suksesi. Apakah di 2020 akan direalisasikan?

Ya, nantilah. Kan masih lama. Kita konsentrasi dulu di pilpres dan pileg dulu.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.6 / Tahun XXV / 6 - 12 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com