Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

SENI RUPA

Kusama, Polkadot, dan Halusinasi Tak Bertepi

Pameran karya Yayoi Kusama berskala besar pertama di Indonesia. Menampilkan 130 karya untuk memaparkan 70 tahun rekam jejak praktik seni rupa Kusama.

Selama lebih dari 70 tahun, Yayoi Kusama--melalui karya-karyanya--secara konsisten melawan berbagai bentuk konservatisme sosial dan budaya. Perlawanan itu ditampilkan dalam beragam rupa, mulai dari lukisan, patung, instalasi, fesyen, aktivisme politik, dan sastra. Kusama adalah salah satu dari sedikit seniman yang memiliki konsistensi keluaran atau dampak visioner pada peralihan abad dari 20 ke 21.

Sejumlah karyanya pada 1950-an, dibuat ketika Kusama tinggal di kota Matsumoto, Jepang. Ia lahir di kota itu pada tahun 1929 dan dibesarkan dalam keluarga berkecukupan yang konservatif. Pada masa yang dikenal sebagai masa paling sengsara bagi Jepang itu, karya-karya Kusama mengetengahkan tanggapan atas sanksi embargo terhadap Jepang pasca-Perang Dunia II hingga revolusi seksual pada 1960-an di Amerika.

Pengalaman halusinasi rungu dan netra masa kecilnya terwujud dalam bentuk suara dan pola yang berkembang biak memenuhi ruang pandangnya. Dampak mengejutkan muncul melalui gambar dan lukisan yang menampilkan bidang penuh polkadot, pola geometris, dan pusaran berpilin. Lingkungan keluarga dan masyarakat Jepang yang begitu menekan dan dominan bergabung dengan semangat Kusama yang bebas.

Karya-karya Kusama, belakangan ini, sering terlihat melalui media sosial. Hal ini terjadi berkat laku para selebgram (sebutan untuk pemilik akun instagram populer dan memiliki pengikut banyak) yang mengunggah outfit mereka dengan latar belakang karya Kusama. Semisal, karya instalasi berjudul "Infinity Mirrored Room-Brilliance of the Souls", yang populer sejak diunggah Katy Perry ke akun Instagram-nya dan menjadi bagian dari penampilan Adele di Brit Awards 2016.

Sejak awal bulan ini hingga 12 September 2018, karya-karya Kusama bisa dinikmati langsung di Indonesia. Adalah The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Macan, di Kawasan Kebon Jeruk, Jakarta, yang menghadirkan 130 karya dalam rentang 70 tahun praktik artistik Kusama itu. Menurut Direktur Museum Macan, Aaron Seelo, pameran itu merupakan pameran karya Yayoi Kusama berskala besar pertama di Indonesia.

Pameran ini menampilkan karya lukis dari tahun 1950-an sampai dokumentasi performans dan happenings selama 1960-an dan 1970-an, serta lukisan terbaru dan karya instalasinya yang kesohor: "Infinity Mirrored Room".

"Pameran ini memberikan konteks sejarah bagi konsep artistik yang mendasar bagi visi Kusama, termasuk ketidak-berhinggaan, pengulangan, dan kemusnahan diri," kata Aaron.
GATRA mengunjungi pameran bertajuk Yayoi Kusuma: Life is The Heart of Rainbow, pada akhir Mei lalu. Begitu memasuki gedung Museum Macan, antrean pengunjung sudah mengular. Para pengunjung yang membeli tiket masuk, masing-masing diberi waktu dua jam untuk menikmati karya-karya Kusama.

Begitu masuk ruang pameran, pengunjung langsung dicegat oleh karya patung "Flower That Bloom at Midnight". Ini adalah gabungan dua buah patung bunga yang bertubuh mirip hewan berkaki empat. Namun, kebanyakan pengunjung hanya melewatinya. sebab, instalasi balon kuning bercorak polkadot yang tersimpan di sisi kanannya tampak lebih mengundang perhatian.

"Karya ini berjudul 'Dots Obsession'. Apakah kamu tahu arti obsesi? Obsesi adalah ketika kamu sangat tertarik pada sesuatu sehingga kamu tidak dapat berhenti memikirkannya," begitu keterangan yang tertulis di salah satu dinding yang tersimpan di dekat karya instalasi ini.

Pada satu sudut, antrean kembali terlihat. Itu adalah antrean untuk memasuki area yang memajang karya "Dots Obsession-Infinity Mirrored Room". Para pengunjung yang yang kebanyakan memegang ponsel berkamera memasuki area itu untuk berswafoto dengan latar bola-bola bercorak titik-titik dalam ruangan berlapis kaca. Mereka hanya diberi waktu 30 detik untuk berfoto di dalam ruangan. Saat antrean bertambah panjang, batas waktu untuk mengamati karya dikurangi, hanya 10 detik per pengunjung.

Kemudian ada "Narcissus Garden", yang terdiri dari bola-bola berwarna perak yang memantulkan bayangan. Jumlah bola yang begitu banyak membuat bayangan kita tertangkap dalam bola-bola tersebut dan mereproduksi citra diri kita dalam jumlah sangat banyak. Untuk karya ini, Kusama terinspirasi dari mitologi Yunani, tentang Narcissus yang begitu mengagumi pantulan dirinya sehingga membuatnya tenggelam.

Pada 1966, Narcissus Garden menjadi bagian dari aksi protes Kusama yang paling tersohor. Tepatnya pada perhelatan Venice Biennale, Kusama menghamparkan 1.500 bola-bola perak di taman di luar Paviliun Italia. Dalam balutan kimono, ia menjajakan bola-bola tersebut sambil membagikan pernyataan yang mempromosikan karyanya, sebagai kritik terhadap komersialisasi di dunia seni.

Untuk karya paling baru Kusama, tampil seri lukisan "My Eternal Soul". Seri ini mulai dibuat pada 2009 dan kini jumlahnya lebih dari 500 lukisan. Dua puluh empat di antaranya ditampilkan dalam pameran ini. Deretan karya ini memuat sejumlah unsur karya Kusama yang sudah dikenal, seperti jaring yang seolah berkembang biak, polkadot, bentuk morfologis-biologis dan warna-warna terang. Kemudian, profil perempuan dan sosok alien dalam satu kanvas.

Dari keseluruhan karya yang ditampilkan di Museum Macan, "Infinity Mirrored Room" menjadi karya paling populer bagi pengunjung pameran. Meski hanya ada empat karya "Infinity Mirrored Room" di dalam pameran. Namun, keempat karya ini seakan-akan menyisihkan lebih dari 100 karya Kusama yang lain. Setidaknya, fenomena itu yang terlihat di ruang pameran. Pengunjung tampak lebih antusias dan menikmati karya semacam ini.

"Infinity Mirrored Room" pertama kali dipamerkan pada 1965 dengan judul "Infinity Mirror Room - Phalli's Field". Isinya adalah berbagai bentuk lingga dengan motif polkadot putih-merah dikelilingi cermin untuk menciptakan pola berulang tanpa akhir. Sebelumnya, sensasi ruang tanpa batas itu hanya tampil dalam lukisan-lukisannya.

Ruang cermin tak berhingga yang diciptakan belakangan, seperti Soul Under the Moon (2002) dan Infinity Mirror Room - Gleaming Lights of the Souls (2008), menggunakan bola-bola berwarna atau lampu-lampu kecil serupa alam semesta yang berkelap-kelip, menyerap pengunjung ke dalam semesta intim ketika tubuh mereka dipantulkan ke segala arah.

Di penghujung lorong ruang pameran, satu lagi "Infinity Mirrored Room" mencegat. Judulnya, "Infinity Mirrored Room-Briliance of The Souls". Karya ini merupakan ruangan gelap dan kecil yang dikelilingi oleh cermin. Seisi ruangan dipenuhi bola warna-warni yang menyala. Di bagian bawah, ada kubangan air yang mengelilingi. Pengunjung dapat berfoto di dalamnya selama 30 detik. Sampai terdengar suara pintu diketuk dan petugas pameran yang berteriak mengingatkan, "Maaf, waktunya sudah habis!"

Hidayat Adhinigrat P

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com