Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Beleid Panen Energi Surya

Terbit aturan listrik tenaga surya atap rumah untuk konsumen PLN. Menggairahkan industri panel surya. Membantu target pencapaian energi terbarukan 23%.

Ibarat investasi, pastilah berharap keuntungan. Pun dengan berinvestasi di energi surya. Seiring dengan upaya itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 49 Tahun 2018 mengenai penggunaan sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) oleh konsumen dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Permen ini membuat gerak bisnis pengembang industri panel surya makin leluasa.

Pasalnya, mereka tidak hanya melayani PLTS berskala besar, tetapi juga masuk ke sektor rumah tangga. “Sangat bagus, kami apresiasi untuk pengembangannya, karena ke depannya memang ke arah sana,” kata Victor Wirawan, Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Baran Energy, kepada GATRA.

Baran Energy merupakan startup yang bernaung di bawah PT Aldebaran Rekayasa Cipta, yang mengembangkan penyimpanan energi baru dan terbarukan. Baran Energy didirikan Victor, yang sekaligus sebagai chief excecutive officer (COO), pada 2018. Perusahaan rintisan ini menerapkan listrik berbasis tenaga surya pada salah satu bisnisnya di bidang properti.

Bagi Victor, penggunaan listrik berbasis surya pada atap rumah yang menggunakan listrik PLN menghemat 40%–50% dari total biaya listrik per bulan. Salah satu kliennya, pemilik pabrik kertas bahkan menghitung perbedaan penggunaan listrik konvensional dengan asumsi kenaikan tarif 10% per tahun, maka selama 15 tahun biaya yang dikeluarkan mencapai Rp3 trilyun. Sementara itu, jika menggunakan PLTS dalam 15 tahun hanya mengeluarkan biaya Rp200 milyar. Jauh lebih hemat.

Baran Energy sendiri tahun depan berencana menyediakan PLTS hingga 62 megawatt dengan total investasi mencapai US$1,2 trilyun. PLTS sebanyak itu ditujukan bagi kawasan industri, seperti pabrik yang bergerak di bidang kertas, peleburan, plastik, tambak, peternakan, kafe, rumah sakit, sampai perumahan seperti apartemen.

Selain itu, Baran Energy akan menerapkan pemasangan PLTS pada kawasan industri hingga 100% on grid. Victor mengatakan, hal ini berasal dari permintaan pengguna. “Mereka ingin memasang PLTS sampai sesuai dengan daya yang selama ini mereka beli dari PLN. Jadi tidak tergantung listrik negara. Ke depannya mengharapkan seperti itu,” katanya.

***

Pemanfaatan tenaga surya sebagai sumber listrik semakin dilirik. Selain hemat, tren gaya hidup adalah kata kuncinya. Perkembangan teknologi dan pemahaman masyarakat yang semakin mumpuni soal pentingnya menghasilkan energi bersih yang ramah lingkungan dan mendorong orang untuk beramai-ramai berinvestasi. Harga panel surya makin terjangkau, di kisaran US$1 per watt peak (WP) atau sekitar US$1.000 per kilowatt peak (kWp) di pasaran. Jauh lebih murah dibandingkan dengan tiga tahun lalu yang masih berada di kisaran US$1.500 per kWp.

Soal tren gaya hidup menggunakan energi surya ini dibenarkan PLN. Berdasarkan data, ada 70,3 juta pelanggan listrik, 583 di antaranya pelanggan PLTS dengan distribusi wilayah Bali, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Riau, dan Sumatera Utara. “Kebanyakan pengguna melihat pada lifestyle. Mengurangi pembayaran listrik karena HET-nya menjadi lebih rendah,” ujar Kepala Divisi Niaga PLN, Yuddy Setyo Wicaksono, kepada GATRA.

Meski begitu, ada perbedaan penggunaan di siang dan malam hari yang berdampak pada biaya per kWh. Penggunaan siang hari lebih menguntungkan karena produksi untuk mendapatkan kWh pada siang hari lebih murah. Tapi pada kenyataannya masih banyak yang menggunakan di malam hari.

Harga jual tarif non-subsidi PLN untuk rumah tangga Rp1.467,28per kWh. Untuk maksimal kompensasi dilakukan dengan menghitung energi dari jaringan PLN (kWh Impor) dikurangi rekening minimum (RM). Sedangkan untuk menghitung kWh impor, lalu dikalikan 1.467,28/kW.

Nantinya, Yuddy melanjutkan, akan dihitung pemakaian ekspor dan impor. Dalam hal jumlah energi yang diekspor (PLTS Atap) lebih besar daripada yang diimpor (energi dari jaringan PLN) dalam hitungan bulan maka selisih lebih (saldo) akan diakumulasikan dan diperhitungkan untuk tagihan berikutnya. Kemudian akan direset ke nol setiap akhir triwulan.

Senada dengan Yuddy, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy N. Sommeng, melihat kehadiran Permen 49 Tahun 2018 bukan soal urgensitas elektrivikasi listrik. Tapi, bertujuan agar masyarakat selain mengenal listrik dari atap atau rooftop, sekaligus menjadikannya sebagai gaya hidup. Dengan sendirinya, akan terbiasa menggunakan energi berbasis ramah lingkungan. Ini sejalan dengan isu global soal pengurangan emisi karbon. “Nanti ke depannya masyarakat ingin juga pakai kompor listrik motor listrik, mobil listrik. Sehingga, nantinya dampaknya emisi karbon akan berkurang dengan sendirinya,” Andy menjelaskn.

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Energi Surya Indonesia, Arya Rezavidi, melihat Permen ini sebagai aturan baru yang masih banyak kekurangan. Pada penggunaan panel surya atap (solar photovoltaic rooftop), masyarakat tidak berjualan dengan PLN karena pada penggunaannya, energi yang dihasilkan terjadi pada siang hari, sedangkan malamnya masyarakat tinggal menggunakan energi tersebut.

Secara hitungan energi pelanggan PLTS Atap, yang diekspor berdasarkan nilai kWh ekspor yang tercatat pada meter kWh ekspor-impor hanya dihargai 6,5% saja. “Padahal, dengan adanya permen ini, kita mengharapkan semangat masyarakat menggunakan PLTS Atap sebagai komitmen mendukung program energi terbarukan,” ujar Arya Rezavidi.

Aturan baru yang tertera dalam Permen ini juga dinilai Arya memiliki kerancuan. Seolah-olah pemerintah justru men-discourage atau mengerem percepatan penggunaan energi baru terbarukan. Pasal 2, contohnya, berisi penggunaan sistem PLTS Atap yang bertujuan untuk menghemat tagihan listrik pelanggan PLTS Atap. Padahal, menurut Arya, penghematan tagihan listrik hanya sebagai akibat dari penggunaan sistem ini.

Sandika Prihatnala, Aulia Putri Pandamsari, Annisa Setya Hutami, dan M. Egi Fadliansyah

------------Infografis -------------

Poin Penting Aturan Panel Surya Atap

1. Mengatur konsumen. Nantinya konsumen yang bisa menggunakan panel surya adalah pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) seperti rumah tangga, lembaga pemerintah, badan sosial.

2. Batas kapasitastidak lebih dari 90% daya listrik yang mengalir dari PLN.

3. Jumlah menghitung transaksi listrik yang dijual dari pembangkit itu ke PLN mengacu pada tarif dasar listrik dan biaya pokok penyediaan pembangkitan (BPP) nasional.

***

- Memasang Panel Surya Atap Rumah

- Biaya pemasangan : Rp15 juta–Rp17 juta (belum termasuk biasa pasangke PLN)

- Iuran sebelum dan sesudah pemakaian panel surya

Pemakaian listrik sekitar 800 kWh

Tenaga surya mampumenghasilkan 600 kWh

Yang dibayarkan ke PLN cukup sisanya, 200 kWh
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com