Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Obat Murah dengan Kemandirian Farmasi

Perusahaan obat Tanah Air mulai mengusahakan produksi sendiri bahan baku obat. Diharapkan bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang kesehatan.

Pelemahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhir-akhir ini, tak pelak, juga ikut memicu tekanan pada sektor industri farmasi. Nilai dolar yang tinggi mengerek naik harga bahan baku obat-obatan.

Menurut data Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GP Farmasi), beberapa harga bahan baku obat yang sudah naik harganya, seperti paracetamol, yang sebelumnya US$ 3 per kilogram naik 20% menjadi US$ 3,6 per kilogram. Selain itu, harga amoxicillin juga naik 50% dari US$ 16 per kilogram menjadi US$ 24 per kilogram.

Selama ini, pengusaha farmasi Indonesia memang masih mengandalkan bahan baku obat dari sejumlah negara seperti India dan Cina. Harga bahan baku obat impor yang naik juga membuat harga obat-obatan di dalam negeri menjadi lebih mahal.

Karena itu, pemerintah mendorong pabrik obat lokal untuk mulai memproduksi sendiri bahan baku obat-obatan. "Dengan memproduksi sendiri, kita harapkan biaya dapat lebih terjangkau," kata Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah meluncurkan peta jalan (roadmap) percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan. Dengan perumusan peta jalan ini, diharapkan ada panduan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat-obatan, dalam memenuhi kebutuhan obat masyarakat.

Pemerintah juga berencana memberikan insentif untuk investasi pada pembangunan fasilitas bahan baku lokal farmasi. Termasuk keringanan pajak penghasilan, pengembalian pajak, dan bentuk insentif lainnya. Beberapa perusahaan farmasi memang mulai merealisasikan rencana membangun pabrik bahan baku obat-batan ini. Di antaranya, PT Kalbe Farma, yang mendirikan PT Kalbio Global Medika (KGM).

Perusahaan ini merupakan pabrik bahan baku obat biologi sekaligus memproduksi obat biologis. Pada akhir Februari lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan langsung mulai beroperasinya pabrik yang berada di Cikarang, Jawa Barat, ini.

Obat biologis merupakan bahan baku obat-obatan yang berasal dari pengembangan kultur sel atau molekul biologis melalui proses purifikasi menggunakan rekayasa bioteknologi. Pengembangan bioteknologi ini merupakan upaya penyediaan bahan baku obat yang lebih murah di dalam negeri.

Selain dapat mengurangi ketergantungan impor, sehingga menekan harga obat, pendirian pabrik bahan baku obat biologi dapat menghasilkan devisa negara karena dapat juga diekspor ke sejumlah negara. "Dampak jangka panjang akan positif untuk mengurangi ketergantungan impor dan risiko fluktuasi nilai tukar," kata Direktur dan Corporate Secretary PT Kalbe Farma, Bernadus Karmin Winata, kepada GATRA.

Namun, Kalbe tidak sendirian membangun pabrik ini. Grup usaha ini menggandeng perusahaan dari Cina dan Korea Selatan. Bernadus mengatakan, produksi obat biologis membutuhkan teknologi yang belum dimiliki perusahannya. Jalan keluarnya, Kalbe memutuskan untuk berkolaborasi dengan dua pemain global yang teknologi di sektor ini sudah kompeten. "Mereka memiliki kompetensi teknologi. Cina untuk produk jadi erythropoietin dan Korea untuk riset dan pengembangan produk biologis yang lebih lanjut," ia memaparkan.

Bernadus menambahkan, dalam jangka panjang diharapkan akan ada dampak positif dari inisiatif pengembangan bahan baku biologis dalam bentuk berkurangnya ketergantungan terhadap impor. Namun, obat biologis merupakan segmen baru yang masih relatif kecil dibandingkan obat berbahan kimia. "Jadi dampaknya tidak akan langsung dirasakan," ujarnya.
Pabrik bahan baku di Cikarang akan mulai beroperasi akhir tahun 2018 dengan produk erythropoietin (EPO), yang sangat dibutuhkan dalam pengobatan cuci darah dan kanker.
Selama ini di Indonesia, kebutuhan EPO terus meningkat bersamaan dengan meningkatnya penderita gagal ginjal yang mulai banyak terdeteksi.

Namun, karena produksi EPO terbatas dan harganya mahal, maka hanya kurang-lebih 20% pasien yang mendapatkan pengobatan dengan benar. Selain itu, PT Kalbio juga akan memproduksi granulocyte colony-stimulating factor (GCSF), yang merupakan obat untuk meningkatkan produksi granulosit, serta long acting EPO yang berfungsi untuk menstimulasi pembentukan seI darah merah.

Beberapa tahun ke depan, produk insulin dan monoclonal antibody untuk pengobatan kanker juga mulai bisa dilakukan sendiri. Pada tahap awal, Kalbe akan memprioritaskan pemenuhan bahan baku untuk kebutuhan lokal. Sisanya akan diekspor ke beberapa pasar mancanegara, yaitu pasar regional, antara lain ASEAN, Taiwan, dan Australia.
Pabrik ini memiliki kapasitas yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan lokal dan ekspor dengan perbandingan mencapai 30:70. Presiden Direktur PT Kalbe Farma, Vidjongtius, memang mengakui bahwa selama ini tantangan terbesar pabrik farmasi di Indonesia adalah ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri. "Lebih dari 90% bahan baku obat masih diimpor. Bahkan bahan baku canggih seperti produk-produk biologis masih 100% diimpor," katanya.

Karena itu, untuk memastikan ketahanan dan kemandirian obat yang dibutuhkan perlu didorong produksi bahan baku obat di dalam negeri. Langkah Kalbe membuat pabrik bahan baku obat direspons positif Yayasan Kanker Indonesia (YKI). "Ini sebuah langkah yang berani. Mereka pasang badan, berani keluar modal besar ini," kata Ketua YKI, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp. PD-Khom.

Menurut Aru, dengan adanya pabrik bahan baku obat biologis, maka obat kanker diharapkan bisa turun harganya. Saat ini, obat-obatan jenis ini memang relatif tak terjangkau oleh pasien kanker. Aru mencontohkan, untuk cairan infus saja, harganya bervariasi dari Rp 5 juta hingga Rp 100 juta. Ini bergantung pada jenis obatnya, peruntukannya, dan tingkat keparahan kankernya. Semakin lanjut stadiumnya, semakin canggih obatnya maka semakin mahal pembuatannya. "Ini juga yang bikin BPJS Kesehatan sekarang senen-kemis nasibnya kan," ia memaparkan.

Selain Kalbe, PT Kimia Farma juga telah menyelesaikan pembangunan fisik pabrik bahan baku farmasi. Perusahaan pelat merah bidang farmasi ini telah melakukan groundbreaking pabrik bahan baku obat kimia dengan kapasitas produksi 30 ton per tahun pada kuartal IV tahun lalu.

Pabrik ini diperkirakan mulai beroperasi pada semester II tahun depan. Dalam pembangunan pabrik ini, Kimia Farma menggandeng investor asal Korea Selatan, PT Sungwun Pharmacopia Indonesia, anak usaha Sungwun Pharmacopia Co. Ltd. Jenis bahan baku obat yang akan diproduksi, antara lain, simvastatin, atorvastatin, rosuvastatin, pantoprazole, esomeprazole, rabeprazole, copidogrel, dan sarpogrelate, dengan total kapasitas produksi 30 ton per tahun.

Simvastatin termasuk dalam golongan obat inhibitor reductase HMG CoA atau statin. Simvastatin mengurangi kadar kolesterol buruk (LDL) dan trigliserid dalam darah, sekaligus menaikkan kadar HDL (kolesterol baik). Selain itu, Simvastatin juga digunakan untuk menurunkan risiko stroke, serangan jantung, dan komplikasi jantung lainnya pada penderita diabetes, penyakit jantung koroner, atau faktor risiko yang lain.

Produksi mandiri bahan baku obat, khususnya di sektor bahan baku obat biologis, dengan menggunakan bioteknologi menurut Presiden Jokowi menjadi lompatan yang baik. Karena usaha ini akan membantu pemerintah melakukan investasi di bidang sumber daya manusia (SDM), khususnya sektor kesehatan. "Nantinya akan kita paralelkan pembangunan di bidang infrasktruktur kita dengan investasi di bidang SDM. Kesehatan adalah prioritas utama," kata Presiden Jokowi.

Mukhlison S. Widodo dan Putri Kartika Utami
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com