Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Project Diamond Menjerat Karen

Kejaksaan Agung menetapkan mantan Dirut Pertamina, Karen Agustiawan, sebagai tersangka. Karen diduga berperan sentral atas kegagalan investasi Pertamina di Australia.

Cukup lama nama Karen Galaila Agustiawan tak muncul di media massa. Setidaknya, sejak ia mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama Pertamina pada Agustus 2014 lalu. Namun, dalam sepekan terakhir ini, namanya mendadak menjadi sorotan media setelah Rabu pekan lalu, Kejaksaan Agung mengumumkan status Karen sebagai tersangka kasus dugaan korupsi investasi Pertamina di Australia. ''Penyidik telah menyimpulkan Karen terlibat dalam kasus ini," kata Jaksa Agung, M.Prasetyo, saat ditemui GATRA di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu.

Selain Karen, Kejagung juga menetapkan Frederik Siahaan (mantan Direktur Keuangan Pertamina) dan Genades Panjaitan (mantan Chief Legal Councel and Compliance Pertamina) sebagai tersangka. Sebelumnya, pada Februari lalu, Kejagung menetapkan mantan Manajer Merger & Akuisisi Direktorat Hulu Pertamina, Bayu Kristanto, sebagai tersangka.
Prasetyo mengungkapkan, penanganan kasus ini menjadi perhatian serius Kejagung karena nilai kerugian negaranya yang lumayan besar, yakni Rp568 milyar. Kejagung akan mengirim tim penyidik ke Australia untuk mengumpulkan bukti-bukti, sekaligus berkoordinasi dengan aparat hukum setempat.

Kasus korupsi ini bermula pada Januari 2009, saat Pertamina ditawari Citi Group, selaku penasihat penjualan saham ROC Oil Company Limited, untuk mengikuti lelang penawaran pembelian sebagian saham atau akuisisi saham ROC. Yang ditawarkan adalah saham ROC (perusahaan migas asal Australia) atas blok minyak dan gas Basker, Manta dan Gummy (blok BMG) yang berada di lepas Pantai Gippsland Basin, Australia. .

Di surat itu, ROC menawarkan 10% hingga 15% sahamnya kepada Pertamina. Jika berminat, Pertamina diminta mengajukan proposal penawaran akuisisi ke ROC paling lambat pada 1 Apri 2009. Perusahaan migas pelat merah ini antusias dengan tawaran ROC. Apalagi, kala itu Pertamina berambisi melebarkan sayap bisnisnya dengan berinvestasi di sejumlah ladang migas di luar negeri.

Karen, selaku Dirut Pertamina, membentuk tim internal untuk melakukan due dillliegence (uji tuntas) atas tawaran akuisisi saham ROC. Proyek akuisisi ini diberi kode Project Diamond. Bayu Kristanto yang saat itu menjabat sebagai Manajer Merger & Akuisisi Direktur Hulu Pertamina ditunjuk sebagai ketua tim. Selain tim akuisisi dari internal, Pertamina menyewa perusahaan konsultan, Deloitte Touche Tohmatsu Australia dan Baker & McKenzie Australia untuk membantu menyusun uji tuntas .

Dari hasil uji tuntas, tim merekomendasikan blok BMG layak diakuisisi. Hasil uji tuntas kemudian dibahas secara berjenjang, mulai dari tingkat manajer hingga dewan direksi. Selanjutnya, melalui surat tertanggal 22 April 2009 yang ditandatangani Karen, Dewan Direksi mengirim surat usulan mengikuti penawaran akusisi blok BMG ke Dewan Komisaris. Sepekan kemudian, tepatnya pada 30 April 2009, Dewan Komisaris yang diketuai Mantan Kapolri Sutanto mengirim surat balasan yang berisi persetujuan Pertamina mengikuti penawaran akuisisi blok BMG.
Surat balasan ini dianggap Karen sebagai restu dari Dewan Komisaris untuk Pertamina mengakuisisi blok BMG. Berikutnya, melalui surat tertanggal 11 Mei 2009, Pertamina mengirim surat ke ROC untuk membeli 10% saham ROC dengan nilai US$30 juta. Tawaran Pertamina disetujui ROC. Setelah dicapai kesepakatan, pada 27 Mei 2009 dilakukan penandatanganan sales purchase agreement antara Pertamina dan ROC.

Sesuai dengan kesepakatan, pada hari yang sama, fulus US$30 juta digelontorkan Pertamina ke ROC. Selanjutnya, Pertamina melalui anak perusahaannya, Pertamina Hulu Energi (PHE), secara resmi menjadi pemegang 10% saham di blok BMG. Untuk urusan bisnis di blok BMG, PHE mendirikan anak perusahaan, PT Pertamina Hulu Energi Australia.

Namun, mimpi Pertamina mendapat laba dari blok BMG buyar. Belum genap satu tahun menjadi investor, hasil produksi minyak mentah blok BMG merosot drastis. Pada awal akuisisi, Juni hingga Desember 2009, hasil produksi blok BMG sempat mencapai 8.110 barel per hari. Namun sejak Januari 2010, blok BMG hanya mampu memproduksi minyak mentah tak lebih dari 2.520 barel per hari. Padahal, data uji tuntas menyebut, blok BMG diasumsikan mampu memproduksi minyak mentah sebanyak 8.120 barel per hari.

Karena terus merugi, pada 20 Agustus 2010, ROC selaku operator blok BMG mengumumkan penghentian operasi atau suspend. Kemudian, pada 5 November 2010, para pemegang saham, termasuk Pertamina, sepakat untuk menyatakan status blok BMG adalah non-production phase (NPS). Meski blok BMG sudah di-suspend, Pertamina harus tetap membayar biaya operasional blok BMG atau cash call, yang merupakan kewajiban pemegang saham blok BMG.

Agar Pertamina tidak terus terbebani biaya cash call, pada 2012 muncul usulan untuk melakukan divestasi atau melepas seluruh saham Pertamina di blok BMG. Sempat maju-mundur, akhirnya Agustus 2013, Pertamina melepas sahamnya di blok BMG. Anehnya, Pertamina melepas sahamnya dengan pola withdrawal. Artinya 10% saham Pertamina di blok BMG diserahkan kembali ke ROC dengan nilai US$0. Ludeslah investasi Pertamina yang dibiayai dari kas negara sebesar Rp568 milyar.

Dari salinan dokumen yang diperoleh GATRA, terungkap bahwa Dewan Komisaris Pertamina tak merestui niat Karen membeli saham ROC. Surat Dewan Komisaris tertanggal 21 Mei 2009 menyebut bahwa telah dilakukan pertemuan antara Karen dan dua anggota Dewan Komisaris di ruang 201, Gedung Komisariat Pertamina, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan itu disepakati, keikutsertaan Pertamina mengikuti lelang penawaran saham ROC, hanya untuk melatih Pertamina melakukan proses lelang di luar negeri. Sedangkan, pembelian saham bukan menjadi tujuan, bahkan harus dihindari.

Surat Dewan Komisaris juga menyebut, jauh sebelum Karen memutuskan Pertamina berinvestasi di blok BMG, Dewan Komisaris sudah menyatakan tidak menyetujui rencana investasi tersebut. Sebab, dari informasi yang diperoleh Dewan Komisaris, cadangan dan produksi migas di blok BMG relatif rendah, sehingga tidak mendukung strategi penambahan cadangan dan produksi migas Pertamina.

Prasetyo menjelaskan, penyidik Kejagung menemukan adanya praktik bisnis yang tidak lazim dalam proses akuisisi. Seharusnya, langkah Pertamina mengikuti lelang penawaran akusisi blok BMG hanya sebagai latihan. Tidak benar-benar untuk diakuisisi. Namun, ternyata, atas peran para tersangka, Pertamina mengakuisisi blok BMG. ''Faktanya sekarang perusahan yang dibeli sahamnya itu tutup. Jadi, uangnya itu, pembelian saham itu, total loss, hilang," kata Prasetyo.

Mengenai peran Karen, Prasetyo mengatakan, cukup sentral. Ia diduga tidak hanya lalai tetapi juga secara sengaja membeli saham yang tidak jelas. Kemudian langsung melakukan pembayaran.''Dia (Karen) sebagai dirut, dia menyetujui (akuisisi), dia yang memutuskan, dia yang memerintahkan pembayaran. Jadi, bukan lalai,'' ujarnya.

Sementara itu, ketika dimintai konfirmasi GATRA tentang penetapan sejumlah mantan petinggi Pertamina sebagai tersangka, Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito, enggan berkomentar banyak. Pertamina, kata Adiatma, menyerahkan kepada proses hukum. ''Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan asas praduga tak bersalah,'' tulis Adiatma membalas pesan singkat dari GATRA.

Sujud Dwi Pratisto, Anthony Djafar, dan Andhika Dinata
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com