Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Hacker Bisa Menjadi Aset Negara

Dalam dunia peretasan, setiap hacker pasti mengalami fase sebagai cracker alias peretas ilegal tanpa izin. Sayangnya, talenta mereka belum begitu dimanfaatkan negara sebagai aset.

Sebuah hardware khusus dipasang Muhammad Reza Maulana ke laptopnya. Ia pun langsung bekerja dan melakukan pemindaian untuk mencari sinyal setelah peranti keras tersebut berhasil menyamai frekuensi dari base transceiver station (BTS). Dengan masuk pada frekuensi sama di infrastruktur telekomunikasi jaringan operator selular itu, Reza berhasil memantau komunikasi yang telah terbuka di sana. Ia bisa melihat segala aktivitas percakapan dan komunikasi di BTS tersebut. ''Ini level tinggi, untuk masuk enggak sembarangan,'' katanya kepada GATRA.

Rupanya Founder & Chief Technology Officer Insthink Indonesia Corp., sebuah perusahaan konsultan teknologi informasi, itu lagi ''kangen'' meretas. "Lebih ke cari ilmu security-nya saja,'' ia menjelaskan. Reza tertarik dengan dunia hacker sejak 2011 lalu. Saat itu, ia masih duduk di kelas II sekolah menengah atas. Dorongan tersebut muncul setelah dia menonton film Bruce Willis Die Hard 4.0, yang menceritakan aksi membongkar sistem keamanan pemerintah.

Reza kemudian mencari tahu tentang dunia peretasan dengan menelusuri dan bergabung dengan forum-forum hacker, antara lain Indonesiahacker.com dan Indonesianbacktrack.or.id yang berbasis operating system Linux khusus hacker. ''Semuanya belajar otodidak. Jarang ada yang mau ajarin untuk ngasih tahu (ilmu hacker),'' kata Reza.

Aktivitas peretasan perdana pria kelahiran Padang, 1 Juni 1994, itu adalah saat menjajal situs online shop di Malaysia pada 2011. Jadi, setelah belajar jaringan secara otodidak di forum dan video tutorial, Reza berhasil masuk, menjebol, dan membuka semua data kartu kredit di situs itu.

Hanya saja, Reza belum mengerti seperti apa cara pemakaian kartu kredit. Padahal, data carding yang berhasil dia jebol sudah lengkap. ''Akhirnya dibiarkan saja. Cuma ngetes skill nyoba aja,'' kata mahasiswa teknik informatika Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Bani Saleh tersebut.

Kegiatan meretas tanpa izin lainnya yang pernah dilakukan Reza adalah menjebol salah satu situs dengan domain di Rusia. Setelah berhasil masuk ke sistem tersebut, ia kemudian berhasil memformat satu server lalu meninggalkan dalam kondisi demikian.

Aksi Reza ketika itu masih terbilang sebagai kategori ilegal atau masuk tanpa izin. Ini adalah apa yang di kalangan peretas sebut sebagai cracker. Yakni secara sengaja masuk ke sistem orang lain tanpa izin dengan ada tujuan destruktif. Teologi cracker ini bisa berkembang menjadi karakteristik peretas yang disebut black hat. Di mana peretas tanpa etika ini bekerja lebih ke arah tujuan kriminal, salah satunya meminta bentuk ganti rugi uang atau tebusan.

Lawan black hat adalah white hat. Mereka yang tergabung ke dalam white hat biasanya bekerja untuk mencari celah maupun bug sebuah sistem yang dimasuki secara legal atau atas izin, kemudian melaporkan hal itu kepada pihak yang diserang. Akan tetapi, mereka tak mem-publish tentang celah tersebut.

Di antara white hat dan black hat terdapat gray hat. Mereka ada di tengah antara peretas beretika dengan peretas ilegal. Perbedaannya, mereka membuat program untuk menyerang sistem rentan lalu menjualnya ke intel atau aparat.

Menurut Reza, Windows merupakan sistem operasi yang rentan dieksploitasi. Selain Windows, basis website dan Wordpress juga termasuk yang banyak celah dan mudah untuk diretas. Namun itu lebih mudah diaplikasikan pada website di luar negeri, karena situs di Indonesia software-nya mayoritas dibuat custom sehingga lebih sempurna. Artinya, butuh upaya lebih dalam ketika mencari celah untuk meretas sistem atau website lokal.

Aksi cracker selama empat tahun bagi Reza sudah cukup. Ia kemudian balik badan dan memilih fokus menjadi white hat sejak 2015 lalu. Salah satunya dengan menggeluti bisnis startup konsultan IT yang dibangunnya. ''Untuk jadi white hat itu pasti pernah belajar cara kriminal dulu. Karena untuk jadi polisi harus belajar jadi maling dulu,'' ia mengungkapkan.

Sebetulnya melakukan peretasan dengan membuat lingkungan sendiri bisa saja dilakukan, yakni dengan mencoba web milik sendiri. Namun memang ada sensasi berbeda bila melakukannya pada sistem atau situs orang lain yang tersebar di dunia maya. ''Ketika berhasil menjebol, tantangannya bisa lebih real,'' ujar Reza.

Selain Reza, nama cracker lain yang kini sukses berubah haluan menjadi white hat adalah Zico Ferry Ekel. Pendiri Indonesian Backtrack Team ini sering menjadi pembicara dalam seminar atau diskusi mengenai hacking dan security.Ia juga merupakan pembuat OS khusus hacker Indonesia berbasis Linux, yakni Dracos alias Dragon Comodos.

Cracker lainnya adalah Juny Maimun alias Acong. Dia adalah sosok yang memelopori website Indowebster, webserver multimedia unlimited lokal yang didirikannya pada 15 April 2007. Selain mengembangkan sarana hosting dan file sharing, hacker server dengan nama ''Bagan'' itu juga sukses mengembangkan bisnis situs permainan online Indogamers.

***

Pengamat dan praktisi keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai para hacker di Tanah Air sebagai aset yang talentanya harus dijadikan bermanfaat bagi bangsa. Apalagi, Indonesia punya banyak hacker, terutama karena banyak perguruan tinggi ilmu komputer. Belum lagi mereka yang belajar secara otodidak. ''Sayangnya, talenta berlebih itu malah tidak dimanfaatkan,'' ungkap Alfons kepada Dara Purnama dari GATRA.

Di sinilah harus ada peran pemerintah untuk mengambil sikap. Dalam hal ini, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Badan Intelijen Negara (BIN), hingga Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Ini menarik, karena dunia hacker akan menjadi hal yang diminati para kalangan muda.

Menurut pakar teknologi informasi Onno W. Purbo, para hacker memiliki beragam karakter. Dari sisi yang sangat cool hingga profesional berakhlak tipis yang bisa memakainya untuk menyerang pertahanan. Menurut Onno, pemerintah wajib merangkul mereka. Sekarang ini yang benar-benar membuka tangan kepada mereka adalah Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Kementerian Pertahanan. ''Kalau dari BSSN belum terlalu terdengar,'' kata Onno, yang juga menjadi penggagas white hat tersebut.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, sepakat dengan pendapat itu. Para hacker memang sebaiknya diajak untuk ikut menjadi tim solusi dalam ketahan siber.Hal itu bisa menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. ''Kenapa tidak diajak bicara, untuk membantu pemerintah untuk menjaga negara,'' ucapnya kepada Riana Astuti dari GATRA.

Kominfo pun sudah ikut berperan menjaring hacker positif. Ini dilakukan merujuk pada faktar bahwa dalam hal keamanan siber terbaik, data UN Information and Telecommunication Union (ITU) menyebut secara peringkat Indonesia ada di posisi ke-70 dari 195 negara. Kominfo bergerak dengan membuat program ''Born to Protect'', yang menyeleksi 100 talenta untuk mengikuti hacking contest, seminar, serta train of trainers. Program ini sudah dilakukan di Jakarta, Medan, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Malang, Bali, Makassar, Manado, serta Samarinda. ''Mereka akan menjadi penjaga keamanan siber,'' Rudi mengungkapkan.

Birny Birdieni
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com