Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Membunuh Kanker Payudara Tanpa Trastuzumab

BPJS Kesehatan berencana tak lagi menanggung biaya obat kanker payudara, trastuzumab. Dinilai tidak efektif untuk stadium lanjut. Harganya dianggap mahal. Tapi banyak pasien menjerit kalau dihentikan.

Namanya susah disebut, apalagi diingat-ingat: trastuzumab. Tapi bagi penderita kanker payudara, obat injeksi ini adalah segalanya. Apalagi, belakangan namanya makin ngetop di kalangan penderita kanker karena Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJSK) Kesehatan berencana akan menghentikan penjaminannya, mulai April.

Tentu saja banyak pasien kanker blingsatan. Salah satunya adalah Aina, 36 tahun, yang mengidap kanker payudara sejak 3 tahun lalu. Ia khawatir proses rangkaian tahapan pengobatannya terganggu. Ia mengaku sempat sedih dan patah semangat. ''Obat itu penting untuk kelanjutan kesembuhan buat kami penderita kanker. Apalagi setelah merasakan manfaat trastuzumab,'' ujar ibu tiga anak ini kepada GATRA, Jumat pekan lalu.

Padahal, Aina tinggal sekali lagi menggunakan trastuzumab. Dokter meminta Aina melaksanakan rangkaian terapi kanker, yaitu kemoterapi selama enam siklus, radioterapi sebanyak 25 kali, kemudian mendapatkan suntikan trastuzumab sebanyak 18 kali.

Dari suntikan trastuzumab selama ini, hanya delapan kali yang menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. ''Kemudian sisanya biaya pribadi,'' ujar pegawai puskesmas di bilangan Jakarta Timur itu. Untuk sekali suntik, Aina harus merogoh kocek hingga Rp 20 juta. ''Saya masih mikir-mikir lagi buat menyelesaikannya,'' ia menambahkan.

Aina tidak sendirian. Penghentian jaminan obat tersebut cukup berdampak pada pasien lainnya terutama dari kalangan tidak mampu. Menurut Esther, salah satu pengurus komunitas pendamping pasien kanker Cancer Information and Support Center (CISC), sebanyak 10% penderita kanker payudara akan terkena risiko.

Trastuzumab sebelumnya diklaim dapat mengatasi penyakit kanker payudara pada pasien yang hanya memiliki gen HER (human epidermal growth factor receptor)-2 positif. Jadi, tidak semua pasien kanker payudara sembuh dengan trastuzumab.

Gen HER2 positif membuat sel payudara membelah diri lebih cepat dari yang normal. Di dalam sel, mRNA(messenger-ribonucleic acid) dan DNA (dioxyribo-nucleic acid) HER2 juga ikut bertambah cepat . Nah, trastuzumab bekerja dengan menghambat kerja gen HER2 yang abnormal.

Trastuzumab baru masuk Indonesia pada 2003, setelah setahun diresepkan di Singapura. Saa itu diklaim dapat menyembuhkan kanker payudara stadium lanjut. Obat ini sudah diujicobakan pada 469 pasien kanker payudara stadium metastase di 150 sentra di 12 negara. Di antaranya Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Penelitian ini merupakan uji klinis fase III, yang biasanya dilakukan untuk keperluan registrasi obat (lihat: GATRA, 19 Juli 2003, halaman 24-29).

Aryanthi Baramuli Putri, Ketua CISC, termasuk pasien yang pertama kali mengonsumsinya. Putri mantan anggota DPR A.A. Baramuli (almarhum) ini divonis terkena kanker payudara HER2 positif di payudara sebelah kiri dengan stadium 1.

Pada 2002, ia mendapat informasi mengenai obat baru yang menyasar HER2 positif. Ia pun berharap obat tersebut segera masuk. ''Setelah masuk dan mendapat izin di sini, saya langsung mengonsumsinya,'' katanya. Ia menilai obat tersebut bisa meningkatkan harapan hidupnya. Ibu dua anak ini bersyukur, sampai kini ia masih diberi umur panjang.

Sebagai pemasok dan produsen trastuzumab, PT RocheIndonesia tentu ikut gerah. Presiden Direktur PT Roche Indonesia, Ait-Allah Mejri, menyesalkan keputusan BPJS Kesehatan. ''Keputusan ini menghalangi akses pasien terhadap pengobatan yang dapat memperpanjang harapan hidup,'' ujarnya kepada GATRA.

Ia mengatakan, trastuzumab dipergunakan sejak 1998 dan sudah mengobati 1,8 juta pasien kanker payudara dengan HER2 positif di seluruh dunia. Untuk pasien kanker payudara stadium lanjut, trastuzumab yang dikombinasikan docetaxel terbukti bisa memperpanjang angka harapan hidup dari 22,7 bulan menjadi 31,2 bulan.

Untuk penggunaan di Indonesia, Roche memberikan subsidi biaya secara bermaksa melakui skema akses pasien yang disetujui bersama sehingga obat itu memungkinan tersedia di Askes sejak 2005, dan berlanjut di JKN. ''Roche berharap, BPJS akan mempertimbangkan kembali keputusan ini,'' ia melanjutkan.

Toh, BPJS Kesehatan menyatakan punya alasan sendiri. Kepala Humas BPJS Kesehatan, Nopi Hidayat, mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan trastuzumab dari salah satu jenis obat kanker yang dijamin BPJS Kesehatan per April mendatang. Keputusan tersebut merupakan keputusan Dewan Pertimbangan Klinis (DPK).

Hasil pertimbangan DPK, trastuzumab tak memiliki indikasi medis untuk digunakan bagi pasien kanker payudara yang sudah menyebar, walaupun dengan pembatasan.
Keputusan itu sudah disosialisasikan kepada tenaga medis, organisasi profesi, ataupun pasien kanker payudara peserta JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat).

Meski sudah tidak dijamin per 1 April nanti, BPJS Kesehatan yakin, tidak akan menghambat akses pengobatan kanker payudara bagi peserta JKN-KIS. ''Masih ada obat kanker payudara lain yang dapat diakses peserta dan masih dijamin BPJS Kesehatan karena masih masuk dalam Formularium Nasional,'' kata Nopi.

Dokter penanggung jawab pasien akan memilih obat untuk terapi kanker payudara pasien sesuai dengan pertimbangan kondisi klinis pasien. BPJS menegaskan komitmennya untuk memastikan peserta JKN-KIS mendapatkan manfaat jaminan kesehatan yang sesua dengan kebutuhan medis dan efektivitas pelayanan.

BPJS Keseahtan juga, Nopi melanjutkan, terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan seperti Kementerian Kesehatan, Dewan Pertimbangan Klinis dan Tim Kendali Mutu dan Biaya. Untuk menyebarluaskan keputusan ini, BPJSK getol menyosialisasikannya, baik kepada tenaga medis, organisasi profesi, maupun peserta JKN-KIS.

Menanggapi hal itu, Ketua Yayasan Kanker Indonesia Aru Sudoyo mengatakan bahwa pihaknya bergerak di bidang sosial. Pihaknya melakukan upaya preventif, promotif, dan deteksi dini, serta mendukung terapi paliatif (yang tak lagi bisa disembuhkan). ''Ada bantuan menjual obat dengan harga murah,'' ujarnya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA. Meski begitu, ia mengakui bahwa ada beberapa obat kanker yang dibantu penjualannya lebih murah, tetap masih juga dianggap mahal.

Aru berharap agar BPJSK bersifat fleksibel. Artinya, jika peserta BPJSK yang mampu dan menggunakan trastuzumab dengan uang sendiri atau menggunakan asruansi swasta, apakah BPJSK bisa menanggung perawatan lainnya. Sebab, di Thailand, Singapura, dan Afrika Selatan, asuransi kesehatan milik pemerintah mempunyai kebijakan seperti itu.
Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia Cabang DKI Jakarta, Ronald Hukom, memperkirakan pemakai trastuzumab sebanyak 6.000 pasien. Sudah belasan tahun digunakan dan berkhasiat meningkatkan angka harapan hidup bagi pasien kanker payudara stadium IV, dan aman pula.

Hukom juga mengatakan, data yang ditampilkan DPK salah. Di situ Hukom mendapatkan informasi bahwa hasil DPK menyebutkan, tingkat harapan hidup pengguna trastuzumab 25 bulan, sedangkan tanpa trastuzumab 23,8 bulan. ''Artinya, tidak ada perbedaan signifikan antara dua kelompok pasien,'' katanya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA.
Menurut Hukom, data tersebut menyesatkan dan merugikan banyak pasien. Ia tidak mengetahui sumbernya dari mana. Pihaknya kini tengah melakukan rapat. ''Bila jadi, sampai masuk pengadilan, habis mereka,'' katanya.

Aries Kelana, Umaya Khusniah, dan Putri Kartika Utami
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.24 / Tahun XXIV / 12 - 18 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com