Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

RAGAM

Kisah Alam Semesta dari Kursi Roda

Stephen Hawking meninggal dalam usia 76 tahun, pada 14 Maret 2018. Dunia kehilangan seorang fisikawan jenius yang menggeluti pertanyaan tentang asal-usul semesta. Tapi hidupnya sebenarnya panjang, tidak seperti judul bukunya yang kondang: A Brief History of Time."Mengidap" penyakit saraf motorik pada 21 tahun dan divonis akan meninggal tiga tahun lagi, Hawking "ternyata" bertahan sampai 55 tahun kemudian, lalu mendobrak batas-batas kosmologi dan fisika kuantum.

Cerdas, humoris, sinis, arogan, kasar, terkadang egomaniak. Demikian kesan Jane Hawking, terhadap mantan suaminya, Stephen Hawking. Dalam memoarnya,Traveling to Infinity, My Life with Stephen (2007), Jane menulis tentang Hawking yang terkadang nyaris membuatnya kehilangan teman.

Soalnya, Hawking sering tidak bisa menahan diri dengn berkomentar seenaknya. Misalnya, suatu saat seorang teman Jane berkunjung. Ia dengan semangat bercerita hendak mengambil program doktoral dengan tema riset tentang sastra Inggris abad pertengahan. Eh, mendengar cerita itu Hawking berkomentar, "Mempelajari sastra abad pertengahan sama bergunanya dengan mempelajari kerikil di pantai."

Memoar itu kelak akan menjadi dasar bagi film terakhir tentang Hawking, berjudul Theory of Everything (2014), yang dibintangi aktor Inggris Eddie Redmayne, yang kemudian mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik di piala Oscar.

Kepada koran The Telegraph, Jane bercerita saat ia dan Hawking menonton film itu. Apa komentar Hawking? Ia menyeringai dan berkomentar, "Filmnya terlalu emosional, kurang unsur sains," katanya.

Keluarga intelektual
Stephen Hawking lahir di Oxford, Inggris, pada 8 Januari 1942. Ia anak tertua dari empat bersaudara. Ayahnya, Frank Hawking, adalah seorang ahli biologi sedang ibunya seorang sekretaris di sebuah perusahaan.

Kehidupan mereka terbilang pas-pasan. Dalam autobiografinya, My Brief History (2013), Hawking menulis bahwa ayahnya sangat berhati-hati mengeluarkan uang. Ketika akhirnya sanggup membeli mobil, demi menghemat, ayahnya membeli mobil bekas taksi, sesuatu yang membuatnya agak malu.

Tapi, dari ayahnya itulah Hawking mewarisi tradisi intelektual, dengan segala keunikannya. Ayah Hawking cenderung menyendiri dan hanya memiliki sedikit teman, yang juga para intelektual. Para tetangga pun menganggap keluarga mereka eksentrik.

Hawking, misalnya, menulis betapa ia mendapat "perluasan wawasan" saat bergaul dengan seorang anak bernama Howard, yang tinggal tiga rumah dari tempat mereka. Hawking menyebutnya sebagai perluasan wawasan, karena asal usul Howard bukan dari keluarga intelektual. Namun, Hawking mengatakan Howard tahu hal-hal yang tidak diketahuinya. "Misalnya sepak bola dan tinju," tulisnya (hal. 10).

Setelah tamat sekolah dasar, Hawking meneruskan ke St. Alban School, sekolah bergengsi (setara SMP-SMU) yang menerapkan sistem strata yang sangat ketat. Kelas utama, yaitu kelas A, terdiri dari 20 siswa terbaik di seluruh sekolah. Bila ada siswa kelas A yang turun peringkat di akhir tahun, ia akan didegradasi ke kelas B atau kelas C.

Dalam autobiografinya, Hawking mengakui bahwa sistem pendidikan di St. Alban membuat siswa yang terdegradasi kehilangan kepercayaan diri. Sebagian bahkan terpuruk dan tidak bisa bangkit lagi. Di SMP St. Alban, Hawking, misalnya, hanya mampu meraih peringkat ke-23 di semester pertama. Baru di semester kedua berada di urutan ke-18, sehingga lolos dari zona degradasi.

Karena itulah, Hawking tidak terkenal jenius semasa SMP-SMA. Ia siswa biasa saja, tidak menonjol, bahkan termasuk kelompok "garis belakang". Beberapa temannya pernah bertaruh bahwa Hawking tidak akan menjadi apa-apa. "Saya tidak tahu bagaimana akhir dari pertaruhan itu dan bagaimana mereka memutuskan siapa yang menang," tulisnya (hal. 18).
Setelah lulus dari St. Alban, pada usia 17 tahun, Hawking mendapat beasiswa untuk kuliah di Oxford, di Jurusan Fisika. Di sanalah ia mulai cemerlang.

Dari Oxford ke Cambridge
Hawking menghabiskan waktu tiga tahun di Ofxord untuk meraih gelar sarjana ilmu fisika (B.A). Ia mengaku malas belajar selama di sana. Salah satu penyebabnya adalah iklim di kampus.

Sebagai universitas bergengsi di Inggris, Oxford terkenal sebagai tempat berkumpulnya para jenius. Apa ciri jenius? Jenius tidak perlu belajar. Maka itu, ketika ada mahasiswa yang butuh belajar untuk mendapatkan nilai baik, berarti dia adalah gray man alias orang biasa saja, medioker. "Gray man adalah frasa paling buruk dalam kosa kata Oxford," tulisnya.

Belakangan, Hawking mengakui bahwa ia tidak bangga dengan perilaku sok pintarnya selama di Oxford. Meski menganggap tugas kuliah di Oxford "sangat mudah hingga konyol", ia hampir lulus dengan prestasi biasa saja, tidak first honors.

Untuk lolos dengan kategori first honors degree, ia akhirnya mengikuti ujian lisan, yang saat itu ia setengah "mengancam" para pengujinya: seandainya lulus dengan second honors degree, ia akan melanjutnya program masternya di Oxford. Tapi bila ia diluluskan dengan first-honors degree, ia akan melanjutkan ke Cambridge. Hawking pun lulus sebagai first honor.

Di Cambridge inilah, sebagai mahasiswa pascasarjana sekaligus peserta program doktoral, Hawking mulai menggeluti bidang yang kelak akan melejitkan namanya: kosmologi.
Di awal kelulusan ini juga sebuah insiden terjadi. Ia tiba-tiba kehilangan kesimbangan dan jatuh dari tangga. Semula Hawking mengira terlalu banyak minum bir dalam pesta-pesta selama di Oxford. ia belum menyadari kalau mulai mengidap gejala awal penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), yang juga dikenal sebagai penyakit saraf motorik.

Melawan ALS
Baru setahun sebagai mahasiswa pascasarjana di Cambridge, kondisi Hawking makin merosot. Penyakit ALS mulai membuatnya kehilangan kemampuan fisik. Ia terjatuh saat bermain skating, terjatuh saat menurun tangga, pingsan saat hendak menyeberang jalan dan makin kesulitan mengikat tali sepatunya.

Perangainya juga berubah: makin sinis dan kasar. Bahkan mulai sering mabuk. Satu-satunya cahaya hidupnya adalah Jane Wilde, mahasiswi Jurusan Linguistik yang dikenalnya dalam sebuah pesta. Setelah dua tahun mengidap ALS dengan gelaja yang makin memburuk, Hawking memberanikan diri mengajak Jane menikah. Jane setuju.

Dalam autobiografiya, Hawking menulis bahwa pernikahannya dengan Jane merupakan salah satu titik balik terpenting dalam kehidupannya. Ia menyadari bahwa ia harus mendapat pekerjaan. Ia tidak akan bisa menafkahi Jane bila menganggur. Maka itu, di tengah kondisinya yang makin memburuk, Hawking justru lebih memusingkan soal mencari uang. Ia melamar ke berbagai program beasiswa riset yang memiliki kriteria khusus, yaitu menanggung biaya hidup pasangan.

Hawking mengakui betapa lucunya bila mengingat kembali hal itu. Ketika divonis tidak akan bisa hidup melewati usia 24 tahun, yang ia pusingkan justru bagaimana mendapat pekerjaan. Ia malah tidak punya waktu memikirkan penyakitnya. "Tapi aku menyukainya. Ini membuatku hidup," (hal. 28).

Ia akhirnya mendapat beasiswa yang juga menanggung biaya hidup pasangan dari Caius College, Universitas Cambridge. Mereka menikah pada 1965, tidak lama setelah aplikasi beasiswanya diterima. Usia Hawking saat itu 23 tahun, Jane 21 tahun.

Dari pernikahan itu mereka dikaruniai tiga anak: dua laki-laki dan satu perempuan, yaitu Robert, Lucy, dan Timothy. Robert Hawking (50 tahun), kini seorang insinyur di Microsoft, Lucy Hawking (47 tahun) seorang jurnalis sekaligus novelis, sedangkan Timothy Hawking (38 tahun) kini direktur penjualan di sebuah perusahaan swasta.

Sayang, pernikahan Hawking dengan Jane tidak bertahan. Pada 1995, setelah 30 tahun menikah, mereka akhirnya berpisah. Kegagalan perkawinan Hawking dengan Jane merupakan salah satu tema penting yang diulas dalam filmTheory of Everything (2014).

Perkawinan yang Kandas
Dalam autobiografinya, Jane mengakui mengalami depresi sekaligus kelelahan mental mengurusi Hawking. Dunianya dengan Hawking sangat berbeda. Ia sarjana bahasa, sedang Hawking fisikawan. Jane menulis, saat mereka berpacaran, terkadang ia merasa terintimidasi ketika Hawking mulai bicara soal fisika. "Kau tahu, Mrs. Einstein menyebut fisika sebagai penyebab perceraiannya," kata Jane ketika di wawancarai koranThe Guardian pada 2015.

Tapi, penyebab utama sebenarnya adalah kondisi Hawking yang makin parah. Ia membutuhkan perawatan 24 jam, sesuatu yang tak sanggup ditanggung Jane secara emosional. Terlebih lagi, beberapa kali Hawking mengalami serangan sesak napas hingga nyaris meninggal.

Autobiografi Hawking menyinggung secara singkat soal masa sulit itu, termasuk saat Jane mengalami mental breakdown dan akhirnya menjalin hubungan platonis dengan pria lain. Hawking yang ketika itu juga merasa ajalnya kian dekat setelah serangan sesak napas kedua dan sudah menggunakan alat bantu pernapasan selama 24 jam, secara tidak langsung juga memberi peluang.

Tapi malaikat maut tak juga datang berkunjung. Hawking tetap bertahan, lalu menyesal sekaligus marah terhadap diri sendiri karena keputusannya soal "peluang" tersebut. Ia akhirnya minggat dari rumah yang ditinggalinya bersama Jane selama lebih dari 20 tahun, sebelum akhirnya resmi bercerai pada 1995.

Hawking lalu menikah dengan Elaine Mason, janda dua anak yang semula perawat pribadinya. Tapi, perkawinan keduanya ini pun tidak bertahan. Mereka berpisah pada 2006. "Sejak 2007, aku tinggal sendiri dengan pengurus rumah," tulisnya (hal. 50).

Namun, Jane tetap merupakan sosok terpenting bagi Hawking. Mereka tinggal berdekatan di Cambridge. Rumah Jane dan suaminya yang baru bahkan hanya berjarak sepuluh menit berkendara dari rumah Hawking. Mereka tetap berteman, dan Jane secara rutin mengunjungi Hawking ditemani ketiga anaknya.

A Brief History of Time
Karya monumental yang mengurai pemikiran Hawking tentang pembentukan alam semesta ini diterbitkan pada 1988. Ia butuh waktu sampai enam tahun menyelesaikan karya ini, dimulai dari gagasan awal, yang pertama kali dibangun pada 1982.

Hawking memiliki ambisi berbeda atas karya ini. Karya-karya dia sebelumnya selalu diterbitkan Universitas Cambridge dan hanya terkenal di kalangan fisikawan. Tapi, kali ini, ia ingin menulis karya ilmiah populer yang bisa dibaca masyarakat awam. Dalam kata-kata Hawking, "Aku ingin buku ini dijual di toko buku di bandara," (hal. 51).

Itu tidak mudah. Penerbit yang dipilihnya, Bantam Books, memang mengirim seorang editor kawakan, Peter Guzzardi. Tapi Hawking menulis betapa Guzzardi, membuatnya sampai menulis ulang draf buku itu. Penyebabnya, Guzzardi menuntut agar buku ilmiah yang "berat" itu bisa dipahami oleh mereka yang tidak berlatar belakang sains--seseorang seperti dirinya.

Belakangan, Hawking akhirnya ikut mengakui peran Guzzardi dalam membuat buku itu laris manis. Termasuk ketika Guzzardi mengirimkan naskahnya untuk ditulis ulang karena masih terlalu berat untuk dicerna orang awam. Proses revisi itu terjadi berkali-kali sampai Hawking merasa tidak akan selesai. "Tapi dia benar, buku itu jadi lebih bagus," tulisnya (hal. 51).
Draf final buku itu akhirnya selesai pada 1987. Selain karena revisi berkali-kali, juga karena Hawking memang lambat dalam menulis. Penyakit ALS sudah merampas semua kemampuan fisiknya. Ia hanya bisa menggerakkan satu jari sekaligus otot pipi.

Hawking menulis dengan cara menggerakkan otot pipi yang tersambung dengan sensor di kacamatanya. Sensor itu lalu tersambung dengan sistem komputer yang memungkinkan Hawking memilih kata dari sebuah 'database". Dengan metode itu, kecepatan Hawking menulis mencapai tiga kata per menit.

Tapi, ketika terbit, A Brief History of Time segera menjadi sensasi internasional, sekaligus melejitkan nama Hawking di kalangan masyarakat umum. Buku itu bertengger di daftar buku terlaris di Amerika dan Inggris selama setahun lebih, diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dan dicetak sampai 10 juta kopi lebih. Baru kali ini sebuah buku fisika yang "berat" laris manis seperti kacang goreng.

Buku itu bahkan menjadi semacam table book coffee, dipajang di meja kopi sebagai bacaan "ringan". Status A Brief History of Time kini bisa dibilang sudah seperti cult book, semacam kitab suci bagi mereka yang tertarik pada kosmologi. Meski Hawking mengakui, tidak semua yang membeli buku itu membacanya. Banyak yang membeli karena sekadar ingin mengoleksi.

Yang pasti, Hawking pun menjadi selebriti, diburu paparazi, dan dikerubungi banyak orang ketika bepergian. Ia juga mendapat banyak uang dari penjualan buku itu. Soal uang ini penting disebut, karena dalam autobiografiya, Hawking mengaku bahwa salah satu alasan mengapa ia menulis buku fisika yang bisa dicerna orang awam adalah karena "ingin mencari uang untuk membiayai sekolah Lucy" (hal. 51).

Sayang, Hawking tidak bisa mendapatkan hadiah nobel karena pemikiranya di bidang kosmologi. Ini karena Nobel Fisika hanya diberikan pada pendekatan fisika yang bisa dibuktikan secara empiris. Sedangkan ia berada di wilayah kosmologi, dunia teoretis dengan persamaan matematika dan fisika kuantum sebagai dasar berpijak.

Hidup sebagai Bonus
Hidup memang tidak mudah bagi Stephen Hawking. Kemampuan fisiknya terampas pada usia sangat muda. Tapi kejeniusan otak dan semangat hidupnya tetap kokoh.

Kristine M. Larsen, astronom Universitas Connecticut dan pengarang buku Stephen Hawking: A Biography (2007) menulis betapa Hawking tetap bersemangat, bahkan suka "berdansa di atas kursi rodanya". Dia menyetir kursi roda elektriknya sesuka hati. Ia bahkan pernah ngebut di kursi rodanya hingga menabrak dinding, lalu bergurau, "Aku pengemudi yang buruk," katanya.

Hawking juga tidak kehilangan sifat usilnya. Salah satu hobinya adalah bertaruh dengan sesama fisikawan tentang sebuah teori. Kip Thorne, fisikawan di Institut Teknologi California (Caltech) merupakan lawan yang sering diajak bertaruh.

Beberapa pertaruhan itu kadang membuat istri Kip marah, karena misalnya, Hawking bertaruh akan membayari langganan sebuah majalah porno bila sebuah benda antariksa yang dinamai Cygnus X-1 terbukti sebuah lubang hitam. Hawking kalah, dan akhirya membayari Kip berlangganan selama setahun.

Dalam salah satu wawancara terkenal pada 2004 dengan harian New York Times, Hawking pernah ditanya tentang cara ia bisa terus mempertahankan semangat hidupnya. Jawabnya, "Semua harapanku terampas pada usia 21 tahun. Setelah itu, semua yang terjadi adalah bonus."

Basfin Siregar

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com