Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Kursi CIA untuk Ibu Baptis Waterboarding

Kontroversi menyertai keterpilihan Gina Haspel sebagai Direktur CIA. Gemerlap kariernya tertutup oleh kebiasaan Haspel menyiksa tahanan terorisme dengan teknik waterboarding. Di tengah gelombang penolakan, akankah ia lolos di Parlemen?

Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump, menunjuk Gina Haspel menjadi direktur baru Central Intelligence Agency (CIA). ''Gina Haspel akan menjadi direktur baru CIA, dan wanita pertama yang terpilih,'' tulis Trump di akun Twitter-nya, seperti dilansir CNN pada Selasa pekan lalu.

Terpilihnya Gina merupakan buntut dari perseteruang Trump dengan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson yang telah berlangsung berbulan-bulan. Akhir dari konflik itu, Tillerson dicopot dari jabatannya, di tengah gagasan pertemuan Trump dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, yang dijadwalkan pada akhir Mei.

Trump lantas mendapuk Michael Pompeo, Direktur CIA, untuk mengisi posisi Tillerson. Ia menyebut satu topik yang menjadi pangkal persengketaan antara Trump dan Tillerson, yaitu perihal kesepakatan nuklir Iran. ''Kami sama sekali tidak mempunyai pemikiran yang sama. Dengan Mike Pompeo, kami memiliki proses berpikir yang sama," kata Trump.

Karena keputusan itulah, posisi Direktur CIA yang ditinggalkan Pompeo diisi wakilnya, Gina Haspel. Jika penunjukan Haspel disetujui Kongres AS, Haspel tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin dinas intelijen ternama tersebut.

Wanita kelahiran 1 Oktober 1956 ini diangkat sebagai Wakil Direktur CIA pada Februari 2017. Haspel adalah perwira CIA karier yang dihormati oleh rekan-rekannya di komunitas intelijen AS. Ia pendukung penyiksaan lewat teknik waterboarding--mengikat tangan dan kaki serta menutup kepala, lantas menguyur kepala dengan air-- dalam menginterogasi tahanan.

Rekam jejak Haspel bersama CIA dimulai pada 1985. Menariknya, ia menghabiskan sebagian besar kariernya dengan menyamar. Menurut Mike Pompeo, ''Haspel adalah seorang perwira intelijen teladan dan patriot setia yang membawa lebih dari 30 tahun pengalaman bersama CIA. Ia juga seorang pemimpin yang terbukti memiliki kemampuan luar biasa untuk menyelesaikan berbagai hal dan menginspirasi orang di sekitarnya,'' kata Pompeo.

Menurutnya, CIA sangat beruntung memiliki seseorang yang intelek, memiliki banyak keterampilan, dan kaya pengalaman. Di Washington, Haspel memang memegang banyak posisi kepemimpinan senior di CIA, termasuk di antaranya sebagai Wakil Direktur National Clandestine Service, Wakil Direktur National Clandestine Service for Foreign Intelligence and Covert Action, kepala staf untuk Director National Clandestine Service, dan aktif di National Counterterrorist Center.

Haspel pun menerima berbagai penghargaan. Di antaranya George H.W. Bush Award untuk keunggulan dalam kontraterorisme, Donovan Award, Intelligence Medal of Merit, dan Presidential Rank Award--sebuah penghargaan paling bergengsi di dinas sipil federal.

Di antara kariernya yang mentereng itu, ada hal yang membuat Haspel menjadi sorotan. Yakni, ia dikenal sebagai salah satu wanita yang bertanggung jawab atas praktik interogasi CIA yang kontroversial, waterboarding. Teknik penyiksaan itu digunakan CIA terhadap tersangka teror dari kelompok Al-Qaedah. Dalam metode tersebut tersangka seperti tenggelam di dalam air.

Ketika bekerja sebagai petugas klandestin di Thailand pada 2002, Haspel dilaporkan terlibat dalam interogasi dua tersangka, yaitu Abu Zubaydah dan Abd al-Rahim al-Nashiri. Metode yang digunakan untuk menginterogasi orang-orang tersebut salah satunya dengan waterboarding. Sangat mengerikan memang, saat itu Abu Zubaydah diinterogasi dengan teknik tersebut sampai 83 kali dalam sebulan. Tragisnya, Abu Zubaydah sampai kehilangan fungsi penglihatan pada salah satu matanya.

Sesi penyiksaan oleh CIA ini direkam dalam format video. Menariknya, Haspel diduga berperan dalam menghancurkan rekaman-rekaman tersebut pada 2005. Haspel pernah mengatakan, keputusan untuk menerapkan waterboarding diambil oleh pemimpin CIA saat itu, Jose Rodriguez.

Cara penyiksaan tersebut menjadi kebiasaan bagi agen CIA dalam menangani tersangka teror di sejumlah tempat penyiksaan di seluruh dunia. Sampai akhirnya Presiden Barack Obama berang dan mengakhiri praktik tersebut melalui perintah eksekutif pada 2009. ''Latar belakang Haspel membuatnya tidak pantas untuk menjabat sebagai Direktur CIA," kata Senator Ron Wyden, dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan The Huffington Post.

Hal serupa disampaikan Senator Republik, Rand Paul. Ia menentang keras penunjukan Gina Haspel sebagai Direktur CIA, dan akan menolak pencalonan yang diajukan Donald Trump. Bahkan, seperti dilaporkan The Guardian, dirinya juga tidak segan-segan untuk menghalangi pencalonan Mike Pompeo yang akan menggantikan Rex Tillerson.

Paul bersikap keras lantaran sudah mengetahui sepak terjang Haspel, terutama ketika wanita berusia 61 tahun itu mengawasi sebuah penjara rahasia CIA di Thailand. Para tahanan di penjara itu merasakan teknik interogasi waterboarding. ''Maksud saya, bagaimana Anda bisa memercayai seseorang yang melakukan itu (penyiksaan) untuk bertanggung jawab atas CIA? Membaca kegembiraannya saat waterboarding, benar-benar mengerikan,'' kata Paul.

Mantan analis dan whistleblower CIA, John Kiriakou, dalam wawancara dengan Russia Today, pun membenarkan laporan berbagai media bahwa Haspel memang gemar menyiksa tahanan selama aktif di CIA. ''Ini adalah salah satu langkah terburuk yang pernah saya dengar di CIA,'' kata Kiriakou, mengomentari penunjukan Haspel sebagai Direktur CIA.

Ketika mendengar penunjukan itu, Kiriakou sempat tidak dapat mempercayainya. Karena menurutnya, Haspel seharusnya berada di Den Haag (Mahkamah Internasional), bukan di kantor Direktur CIA..

''Seperti yang telah dicatat di Washington Post, New York Times dan gerai berita yang lain, Gina Haspel memiliki darah di sekujur tangannya. Dia adalah ibu baptis dari program penyiksaan CIA. Presiden Trump tentu saja adalah penggemar penyiksaan,'' kata Paul.

Gandhi Achmad
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.24 / Tahun XXIV / 12 - 18 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com