Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Menunggu Spotify Mengalir di Bursa

Spotify yang mengalirkan musik secara digital ke telinga pendengar, kini bersiap-siap mengalirkan uang dari bursa ke perusahaan mereka. Mampukah mereka menjaring pembeli, sesukses menambah pelanggannya?

Perusahaan penyedia layanan musik streaming asal Swedia itu bisa dibilang sebagai juru selamat industri musik dunia. Di kala musik lebih banyak dibajak ketimbang dibayar, dan ketika era album fisik mencapai senja, Spotify muncul mengalirkan tenaga baru.

Dalam dokumen yang mereka kirimkan ke otoritas bursa AS (Security and Exchange Commission-SEC), akhir Februari lalu, terungkap bahwa Spotify membayar lebih dari US$10 milyar kepada industri label rekaman sejak sepuluh tahun lalu. Tiga label musik terkemuka dunia: Universal Music, Sony Music, dan Warner Music, pun merasakan imbas positifnya. Pendapatan mereka naik 10 persen tiap tahun.

Seperti halnya mengubah cara orang mendengar musik beserta industrinya, cara Spotify melantai pun akan seperti itu juga. Model yang akan mereka gunakan untuk masuk ke bursa adalah direct listing (direct placement/direct public offering-DLP). Ia tidak melantai dengan model penawaran saham perdana (initial public offering-IPO) seperti yang pernah dilakukan perusahaan teknologi informasi terkemuka macam Amazon, Facebook, Alibaba, atau Google.

''Bila [Spotify] sukses, ini berpotensi akan menjadi tren bagi perusahaan sejenis yang belum melantai di bursa,'' kata Anna Pinedo, partner di firma hukum Mayer Brown yang biasa menangangi IPO, seperti dikutip Financial Times.

Di bursa saham New York nanti, Spotify tidak akan merilis saham baru untuk memperoleh dana segar. Alih-alih, pemegang saham lama mereka, seperti Daniel Ek selaku pendiri, atau Tiger Global dan Dragoneer selaku investor awal mereka, bisa menjual sahamnya langsung.

Model DLP ini memang bukan kali pertama terjadi di bursa saham. Tapi, dengan valuasi lebih dari US$22,6 milyar, Spotify akan menjadi perusahaan terbesar pertama yang menggunakan model DLP untuk melantai di bursa. Sebelumnya, model ini biasa dilakukan oleh perusahaan startup atau bioteknologi yang bervaluasi lebih kecil, bukan unicorn atau perusahaan dengan valuasi di atas US$1 milyar seperti Spotify.

Beberapa perbedaan mendasar antara DLP dengan IPO adalah, Spotify tidak perlu menyewa tim bank investasi untuk menjadi underwriter saham sekaligus agen yang berkampanye mempromosikan saham. Aksi roadshow itu kerap dimanfaatkan untuk menjaring minat investor institusi seperti perusahaan asuransi, perbankan, atau dana pensiun. Sekaligus juga menjadi ajang negosiasi harga sebelum akhirnya dilepas di bursa. Ketimbang mengadakan berbagai pertemuan tertutup dengan berbagai calon investor besar, Spotify berencana menyiarkan presentasi perusahaanya, sebagai salah satu alternatif promosi pemasaran mereka.

Sejauh ini, Spotify hanya menunjuk Morgan Stanley, Goldman Sachs, dan Allen & Co sebagai penasihat keuangan mereka menjelang DLP. Ketika saham Spotify mulai diperdagangkan, Morgan Stanley dan para penasihat lainnya bertugas menilai animo pembeli dengan jumlah saham yang diperdagangkan. Mereka juga akan menaksir harga yang pantas bagi pemegang saham untuk pelepasannya.

Menurut salah seorang sumber di internal Spotify yang berbicara kepada harian Financial Times, perusahaan itu yakin dengan kekuatan merek mereka. Selain itu, kata sumber tersebut, Spotify juga merasa tidak butuh uang.

Dari segi biaya, model direct listing juga lebih murah ketimbang IPO. Menurut sumber tadi, biaya yang dikeluarkan Spotify untuk tiga konsultan keuangan mereka hanya sekitar US$ 35 juta. Bandingkan dengan yang keluarkan Snapchat kepada underwriter mereka ketika IPO, Maret 2017 lalu, yang jumlahnya US$100 juta.

Direct listing juga memberi keleluasaan Spotify dalam bernegosiasi dengan para investor awalnya. Pada 2016, Spotify meraup US$ 1milyar dari TPG dan Dragoneer, dengan skema convertible debt. Bila Spotify menempuh jalur IPO, dana dari dua investor tadi akan berubah menjadi saham. Berhubung Spotify menempuh jalur direct listing, mereka bisa leluasa bernegosiasi mengenai besaran saham yang akan diperoleh TPG dan Dragoneer nanti. Setelah itu, Spotify bisa mengklaim mereka tidak lagi punya utang.

Secara teori, direct listing terbilang lebih demokratis dan transparan. Model ini tidak mengutamakan calon investor besar atau investor ritel kelas rumah tangga atau individu. Meski saat nanti saham mulai dijual, investor besar juga tetap bisa meraup saham sebanyak-banyaknya. Tapi, setidaknya, mereka punya waktu start yang sama dengan para investor ritel.
Di luas aspek demokratis dan positif tadi, DLP juga punya risiko tersendiri. Tanpa adanya roadshow atau underwriter yang berperan sebagai stabilisator harga serta pihak yang akan menampung sisa penjualan saham, Spotify akan lebih rentan digoyang pergerakan harga pasar. Kemungkinan ini pun diakui Spotify dalam dokumennya kepada SEC, bahwa harga saham mereka bisa naik atau turun secara drastis.

Bila aspek demokratis memungkinan masuknya investor kecil, volatilitas direct listing justru jadi salah satu aspek yang membuat para investor kecil waspada sehingga cenderung enggan. Setidaknya, bagi iklim investasi publik, direct listing Spotify akan menjadi angin segar. Karena semua pihak boleh merasakan saham unicorn yang selama ini sebagian besar dimakan oleh bank atau investor-investor kakap.

Dengan berbagai aspek tadi, direct listing perusahaan sebesar Spotify akan menjadi perhatian pelaku pasar atau startup lainnya. Mulai dari Wall Street sampai Silicon Valley. Uber, Pinterest, Airbnb, atau startup unicorn lain yang sudah menembus valuasi di atas US$1 milyar, belum memperlihatkan gelagatnya mengikuti langkah Spotify.

Berhubung belum ada presedennya, direc listing Spotify juga menyisakan pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya berapa harga yang pantas untuk selembar saham unicorn musik seperti Spotify? Bagaimana bila investor besar atau investor ritel menggila, sehingga permintaan saham di pasar melebih alokasi yang dijual? Apakah otoritas bursa atau 3 bank penasihat keuangan Spotify akan menawarkan saham kepada investor langganan mereka? Ataukah akan ada lelang terbuka?

Yang pasti, direct listing memungkinkan startup untuk sedikit lebih independen dalam menentukan nasibnya, tidak terlalu disetir oleh underwriter atau calon-calon investor besar.

Cavin R. Manuputty
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com