Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Inggris-Rusia di Ambang Krisis

Inggris mengusir 23 diplomat Rusia. Moskow balas memersonanongratakan 23 diplomat Inggris. Kasus percobaan pembunuhan terhadap mantan mata-mata Rusia mengancam keikutsertaan Inggris di Piala Dunia 2018 dan diklaim meningkatkan suara Putin di pemilu Rusia.

Rusia akan mengusir 23 diplomat Inggris. Keputusan itu diumukan setelah memanggil Duta Besar Inggris di Moskow, Laurice Bristow, ke kantor Kementerian Luar Negeri Rusia. "Sebanyak 23 staf diplomat di Kedutaan Besar Inggris di Moskow dinyatakan persona nongrata dan akan diusir dalam waktu satu minggu ini," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia yang dipublikasikan Sabtu pekan lalu.

Selain mengusir diplomat Inggris, Rusia juga memerintahkan penutupan Konsulat Inggris di St. Petersburg dan meminta organisasi milik pemerintah Inggris yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, British Council, menghentikan aktivitasnya di "negeri beruang merah" itu.

Langkah yang ditempuh Rusia ini merupakan pembalasan atas sikap keras Inggris dalam merespons kasus percobaan pembunuhan terhadap mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya, Yulia, 33 tahun.

Skripal adalah mantan agen ganda Rusia. Ia pernah ditangkap oleh Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada 2004 karena dicurigai menjual informasi ke intelijen Inggris. Atas tuduhan itu, Skripal dijatuhi hukuman 13 tahun penjara pada 2006. Lalu pada 2010, Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, membebaskan Skripal sebagai bagian dari pertukaran 10 agen Rusia yang ditahan di Amerika Serikat.

Skripal tinggal di Salisbury dekat Stonehenge sejak mendapat perlindungan dari pemerintah Inggris. Dan pada 4 April lalu, seperti dalam film-film tentang spionase, Skripal bersama Yulia ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah bangku restoran di Salisbury. Otoritas Inggris menyatakan keduanya diracun dengan gas saraf jenis Novichok, senjata kimia mematikan yang dikembangkan pada masa Uni Sovyet (1970-an). Keduanya, hingga kini dilaporkan masih dalam kondisi koma.

Dalam pernyataannya di hadapan parlemen pada Selasa, 13 Maret lalu, Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menyebut kemungkinan besar Rusia ada di balik penyerangan tersebut. May menyebut Rusia sering menggunakan racun sejenis untuk membunuh orang-orang yang dianggap membangkang. "Penilaian kami, Rusia memandang beberapa pembelot sebagai target pembunuhan,'' ujarnya seperti dilaporkan oleh AFP.

May mengatakan bahwa pemerintahannya tidak akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Rusia. Namun Inggris menghentikan sementara seluruh kontak bilateral tingkat tinggi dengan Rusia. Antara lain dengan tidak menngirimkan petinggi negara atau keuarga kerajaan untuk menghadiri perhelatan Piala Dunia 2018 pada Juni mendatang di Rusia.

Keputusan itu berpeluang membuat Inggris batal ikut serta dalam perhelatan sepak bola empat tahunan terbesar di dunia itu. Sebab Pangeran William selaku Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dipastikan tak akan berangkat ke Rusia. May juga mengatakan, perselisihan dengan Rusia itu akan menghambat pada pejabat FA lain yang harus bertugas ke Piala Dunia 2018.

Begitulah, Pemerintah Rusia merespons juga dengan mengusir 23 diplomat Inggris dan kian menggiring hubungan diplomatik kedua negara menuju krisis. Ke-23 diplomat Inggris tersebut harus meninggalkan Moskow dalam kurun satu pekan setelah pengumuman itu.

Dalam pernyataannya, Kemenlu Rusia menyebut pihaknya punya hak untuk mengambil langkah balasan sebagai respons atas aksi ''tidak bersahabat'' yang ditempuh Inggris dalam kasus Skripal. Moskow menganggap tak ada untungnya bagi Rusia melakukan upaya pembunuhan kepada mantan mata-matanya yang dinilia telah berkhianat.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengatakan bahwa pihaknya telah menghentikan pengembangan senjata kimia baru setelah bergabung dengan Konvensi Senjata Kimia, yang ditandatangani pada 1993.

Rusia mengaku bahwa tahun lalu mereka telah menyelesaikan penghancuran stok senjata kimia dan mengutuk AS, karena ketinggalan dalam melakukan upaya yang sama. Rusia dan AS seharusnya memenuhi ''kewajiban'' menghancurkan stok senjata kimia hingga 2012. Tapi keduanya sama-sama tidak memenuhi tenggat itu. AS telah mengatakan akan menyelesaikan proses itu pada 2023.

Atas penjelasan itulah Kremlin menyebut tuduhan Inggris sebagai tidak sopan dan tidak berdasar. Duta Besar Rusia untuk Uni Eropa, Vladimir Chizhov, mengatakan tidak punya sedikit pun persediaan senjata kimia itu. Alih-alih mengakui menimbun Novichok, Rusia malah menyebut bahwa sumber zat kimia beracun itu kemungkinan berasal dari sejumlah negara, seperti Republik Ceko, Slowakia, Swedia, Amerika Serikat, dan Inggris. Rusia menyebut negara-negara itu telah menguji zat saraf tersebut sejak 1990-an.

Chizhov menyebut tentang Porton Down, sebuah fasilitas militer Inggris, yang telah melakukan penelitian terhadap senjata kimia di sebuah lokasi yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Salisbury, kota tempat Skripal kena serangan racun kimia pada 4 Maret. Meski begitu, Rusia tidak menyalahkan Inggris atas upaya pembunuhan terhadap Skripal karena tidak memiliki bukti yang cukup.

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, dalam acara ''Andrew Marr Show'' di saluran televisi BBC, pada Ahad, 18 Maret lalu, mengatakan bahwa pihaknya memiliki bukti bahwa dalam 10 tahun terakhir ini, ''Rusia tidak hanya telah mengirim agen-agen saraf untuk tujuan pembunuhan. Melainkan juga telah menciptakan dan menimbun Novichok,'' ujarnya seperti dilaporkan oleh Bloomberg.

Jumat sebelumnya, Johnson juga mengatakan bahwa sangat mungkin Presiden Rusia Vladimir Putin secara pribadi memerintahkan serangan kimia tersebut. Menanggapi tudingan itu, Putin, yang merayakan kemenangannya pada pemilihan ulang di hari Minggu malam, mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak terpikir soal keterlibatan Rusia dalam kasus Skripal. Apalagi jika serangan itu dihubung-hubungkan dengan pemilihan presiden dan penyelenggaraan Piala Dunia di Rusia, ''Ini benar-benar omong kosong,'' ujarnya.

Tapi di sisi lain, Putin harus berterima kasih pada Pemerintah Inggris atas konflik seputar spionase itu. Sebab, menurut juru bicara kampanye Putin, Andrei Kondrashov, sikap Inggris ikut mendorong peningkatan jumlah pemilih Putih dari kubu garis keras, "Kami perlu berterima kasih kepada Inggris, karena mereka salah membaca pola pikir Rusia," katanya.

Bambang Sulistiyo
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.24 / Tahun XXIV / 12 - 18 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com