Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Cara Putin dan Xi Melanggengkan Kuasa

Dua penguasa negara komunis menuju kekuasaan seumur hidup. Vladimir Putin memerintah 24 tahun, hingga enam tahun ke depan. Xi Jinping kembali terpilih memimpin Cina tanpa tenggat. Lawan politik ditekuk dengan isu korupsi dan penggelapan.

''Mengapa saya harus tertarik pada isme yang selalu melahirkan diktator.'' Demikian pendapat Umar Kayam dalam novelnya Para Priyayi. Boleh jadi pendapat itu benar setelah Presiden Rusia Vladimir Putin kembali terpilih untuk keempat kalinya, Ahad lalu. Putin menang telak 76,7% dan mengukuhkan untuk memerintah Rusia selama 24 tahun hingga 2024.
Sehari sebelumnya, pada Sabtu pekan lalu, di Cina, parlemen kembali memilih Xi Jinping untuk memerintah negara itu. Bahkan, parlemen menghapus pasal yang menyebutkan dua kali masa jabatan. Seperti Bapak Mao (Zedong), Xi berpeluang untuk memerintah seumur hayat.

Kedua penguasa negara komunis itu, Putin dan Xi, memang punya cara masing-masing untuk melanggengkan kekuasaannya.

Di Rusia, pemantau internasional menilai pemilihan umum "terlalu dikendalikan" dan "tidak memiliki kompetisi sejati." Michael Georg Link, Ketua tim Pengamat dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE), mengatakan bahwa pemilihan dilakukan secara profesional dan tertib. ''Tetapi pemungutan suara diadakan di lapangan bermain yang tidak merata," katanya.

Dia menunjuk peliputan media mengenai Putin dengan pengawasan ketat. "Di mana kerangka hukum membatasi banyak kebebasan mendasar dan hasilnya tidak diragukan. Pemilu hampir kehilangan tujuan," kata Link, di sebuah konferensi pers di Moskow, Senin lalu.

"Kebanyakan kandidat secara terbuka menyatakan kepastian mereka bahwa Presiden yang berkuasa akan menang dalam pemilihan," katanya. Link mengatakan, meskipun sejumlah besar orang memilih, pembatasan atas kebebasan fundamental telah membatasi ruang politik dan mengakibatkan berkurangnya persaingan politik yang sebenarnya.

"Pilihan tanpa persaingan nyata, seperti yang kita lihat dalam pemilihan ini," katanya. Hampir semua suara telah dihitung. Putin meraih 76,7% suara, yang memberinya mandat untuk memerintah Rusia hingga 2024. Pavel Grudinin dari Partai Komunis menduduki tempat kedua dengan suara 11,8%.

Kritikus Putin mengecam pemilihan tersebut dengan mengatakan pemilihan yang tidak adil. Ia mengutip kontrol ketat Kremlin atas media, memadamkan oposisi, dan membatasi beberapa pemantau pemilu. Lawan politiknya yang paling vokal, Alexei Navalny, dilarang ikut pemilihan karena kasus penggelapan yang katanya dirancang untuk menjauhkannya dari pemungutan suara.

Navalny menyerukan pemboikotan terhadap apa yang dia gambarkan sebagai pemilu palsu. Komisi Pemilu Pusat mengatakan bahwa 67,98% pemilih memenuhi syarat memberikan suara. Angka partisipasi politik yang tak terlalu tinggi. "Banyak orang di negara ini bersedia untuk melawan pemerintah," kata Navalny, merujuk banyaknya pemilih yang tak memberikan suara.

Asosiasi Pengawas Pemilu Independen, Golos, mengatakan bahwa ada ketidakberesan dengan kepemimpinan Putin. "Golos melaporkan, lebih dari 2.900 kecurangan pada pemungutan suara. Sayangnya, kami harus mencatat bahwa tidak semua kandidat bersikap jujur sesuai dengan standar internasional," kata juru bicara Golos, tanpa menyebut kandidat tertentu. ''Pemilu sampai batas tertentu tidak adil dan tidak demokratis," katanya lagi.

Seperti Putin, rekannya sesama pemimpin negara komunis, Xi Jinping sehari sebelumnya juga terpilih kembali untuk memerintah Cina. Bahkan pemujaan pada Xi mengarah untuk melanggengkan kekuasaannya.

Poster propaganda yang menampilkan Xi Jinping sebagai seorang kader muda Partai Komunis menghiasi dinding di Desa Liangjiahe, tempat Presiden Cina itu menghabiskan tujuh tahun (1969-1975) selama Revolusi Kebudayaan yang penuh gejolak. Pemujaan Xi menunjukkan pada masa lalu digunakan untuk melegitimasi masa depannya, masa yang sangat mungkin melegalkan dia memerintah Cina tanpa batas waktu, setelah ketentuan pembatasan jabatan presiden dihilangkan dari konstitusi.

"Yang kami butuhkan hanyalah Ketua Mao dan Presiden Xi," kata seorang pengunjung, yang menolak memberikan namanya, kepada CNN.

Pengkultusan pribadi telah menjadi contoh sempurna dari pemujaan terhadap Xi yang berkembang sejak menguasai Partai Komunis pada akhir 2012. Ini adalah alasan bagi para pengamat untuk mengatakan bahwa Xi berhasil dalam mengonsolidasikan kekuatan politik.

Para kritikus mengatakan, kampanye antikorupsi yang populer merupakan cara sangat ampuh diterapkan Xi untuk membersihkan musuh-musuh politiknya. Dia dengan cepat mengisi posisi penting di pemerintahan dan memperketat kontrol partai atas media negara.

Pada Sabtu lalu, Xi memulai masa jabatan keduanya. Parlemen negara itu juga telah menghapus sebuah klausul konstitusional yang membatasi presiden untuk dua kali masa jabatan lima tahun berturut-turut.

Kritikus berpendapat bahwa hal itu kembalinya pemerintahan oleh satu orang yang belum pernah terjadi sejak Cina dipimpin Mao. "Sebagai seorang warga negara, tentu saja saya memiliki tanggung jawab historis," kata Li Datong, mantan editor koran China Youth Daily yang dikelola pemerintah dan salah satu dari sedikit suara oposisi terbuka.

Ada ketakutan di kalangan kritikus, seperti Li, bahwa Cina kembali ke periode gelap sejarahnya, ketika kekuatan tak terkendali saat Mao menyebabkan serangkaian "bencana", yang berpuncak pada Revolusi Kebudayaan yangmengakibatkan jutaan orang Cina meninggal. Bahkan, keluarga Xi pun menjadi korban politik Mao. Ayahnya, politikus senior, Xi Zhongxun, dianiaya dan dipenjara sebelum dan selama Revolusi Kebudayaan.

Rohmat Haryadi
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com