Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Otak-atik Tim untuk Medali

Tim estafet putra 4 x 100 meter Indonesia menunjukkan performa makin baik. Catatan waktunya mendekati kompetitor dari Cina dan Jepang. Bagaimana Eni menyiapkan dan menyusun timnya?

Siang itu, sinar mentari terik membakar Jakarta. Sejumlah pekerja memilih untuk berteduh ketimbang berpanas-panasan di Stadion Madya Senayan, Jakarta. Mereka duduk-duduk di tepi lapangan sambil merapikan dan membersihkan rumput di stadion yang baru selesai dipugar itu. Di tengah lintasan, sambil memegang stopwatch Eni Nurani Sumartoyo justru bersiap-siap memberi aba-aba kepada lima orang atletnya.

Dari jarak 250 meter, Pelatih Kepala Tim Atletik Indonesia itu mengabaikan panas mentari yang menyengat. Dengan penuh semangat, ia menyuruh kelima atlet berlari kencang satu per satu ke arah dirinya. ''Mereka sedang saya tes speed endurance-nya,'' ujar Eni, singkat.

Tes speed endurance biasanya digunakan untuk mengetahui jumlah waktu yang dibutuhkan seorang atlet bertahan berlari dengan kecepatan maksimalnya.

Eni dengan telaten menulis catatan waktu yang dibuat kelima atletnya dalam buku notes kecil yang dipegangnya. ''Hasilnya lumayan, mereka makin baik,'' kata Eni. Rata-rata saat berlari sejauh 250 meter, kelima atlet: Yaspi Boby, Fadlin Ahmad, Eko Rimbawan, Bayu Kertanegara, dan Lalu Muhammad Zohri, mencatat waktu sedikit di atas 27 detik.
Eni pun optimistis tim estafet putra 4x100 meter putra yang dilatihnya bisa berbuat banyak di Asian Games 2018, Agustus mendatang.

Tim estafet putra memang harus terus mengasah kemampuan menjelang pergelaran olahraga tingkat Asia tersebut. Mereka membidik pencapaian waktu 38 detik demi bisa bersaing dengan tim-tim lain, terutama dari Cina da Jepang. "Catatan rekor kami masih 39,05 detik yang dibuat di SEA Games lalu, di Malaysia. Tapi, ketika kejuaraan test event Februari kemarin, kami sudah mencapai 39,07 detik," kata Fadlin.

Formasi di test event dan Asian Games berbeda dari saat di SEA Games di Malaysia, Agustus 2017 lalu. Saat itu, tim estafet putra diisi Yaspi Boby, Fadlin Ahmad, Eko Rimbawan dan Iswandi Abdullah. Formasi itu kini berubah. Iswandi dikeluarkan dari formasi karena cedera saat berlatih beberapa bulan yang lalu.

Menurut Eni, seusai SEA Games, para atlet diliburkan dan pulang ke kampung halaman masing-masing. Namun, karena kurang disiplin, Iswandi mengabaikan aturan untuk tetap berlatih menjaga kondisi tubuh di kampung halamannya di NTB.

Buntutnya, saat kembali berlatih, performanya jauh menurun. Iswandi tak berhasil menyesuaikan diri dengan rekan-rekannya yang tetap disiplin berlatih meski pulang ke kampung halaman. Yang terjadi justru Iswandi mengalami cedera hamstring atau otot paha belakang, akibat memaksakan diri. Fatalnya, kata Eni, Iswandi malah datang ke tukang urut tradisional untuk mengatasi cederanya. ''Seharusnya, dia ke ahli sports massage yang kita (PB PASI) punya. Akibatnya, cederanya makin parah,'' kata Eni.

Iswandi akhirnya melewatkan Kejuaraan Nasional Atletik yang berlangsung pada Desember 2017 lalu, dan test event pada Februari 2018 lalu. Ia juga tidak dimasukkan dalam tim Asian Games 2018 karena harus menjalani perawatan yang diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama.

Untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan Iswandi, Eni sempat mencoba memasukkan I Made Mudiyasa (sprinter asal Bali) serta M. Rozikin dan Bayu Kertanegara (atlet Jawa Timur). Belakangan, ia kemudian menemukan atlet muda berbakat asal NTB, Lalu Muhammad Zohri. Dari hasil latihan dan uji coba, Eni akhirnya menetapkan formasi baru yaitu Yaspi Boby, Fadlin, Eko Rimbawan dan Lalu Muhammad Zuhri. Ia mencadangkan Bayu sebagai atlet pelapis.

Untuk memantapkan koordinasi tim yang baru terbentuk, Eni terus meningkatkan latihan koordinasi dan kerja sama tim kelima atlet tersebut. ''Dengan adanya personel baru (Lalu Muhammad Zohri) memang perlu terus dibenahi koordinasi tim, apalagi, teknik peralihan tongkat dan cara berlari Lalu masih harus dibenahi,'' kata Eni.

Lalu memang atlet yang baru dimasukkan dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas) oleh PB PASI. Pemuda asal Lombok Barat berusia 17 tahun itu hasil dari pemantauan bakat yang dilakukan pelatih Erwin Maspaitella saat berlangsungnya Kejuaraan Nasional Atletik antar-PPLP, PPLD dan SKO di Jayapura, Papua, November 2017 lalu. Kebetulan, Erwin adalah asisten Eni di Pelatnas PB PASI. Lalu saat itu meraih medali emas 100 meter putra.

Setelah dimasukkan ke Pelatnas PB PASI, prestasi Lalu makin melejit. Bahkan, ia berhasil memecahkan rekornas 100 M yunior dan remaja saat berlomba di test event pada Februari lalu. Ia mencatat waktu 10,25 detik atau lebih baik dari rekor lama milik Mardi Lestari (10,48 detik) yang dibuat sejak 31 tahun yang lalu. Catatan waktunya tersebut, hanya berselisih 0,08 detik dari rekornas senior yang masih dipegang mantan atlet nasional Suryo Agung (10,17 detik).

Selain melatih koordinasi tim, Eni juga masih terus mengotak-atik komposisi posisi pelari 1, 2, 3, dan 4 dalam tim estafet putra. Komposisi sekarang, Fadlin didapuk menjadi pelari pertama, diikuti Lalu, Eko, dan Boby. Menurut Eni, Fadlin yang memiliki reaksi tolakan keluar dari blok start lebih cepat merupakan alasan pelatih berusia 70 tahun itu menempatkannya di posisi pelari pertama.

Kemudian, pelari kedua diisi oleh Lalu yang dinilai memiliki akselerasi lebih cepat daripada tiga seniornya. Sedangkan, pemilihan Eko di urutan ketiga karena dianggap memiliki keunggulan berlari di tingkungan 200 meter yang cepat dan stabil.

''Untuk pelari terakhir itu harus seorang fighter yang memiliki jiwa petarung. Nah, di situ saya taruh Boby,'' kata Eni. Tapi, Eni tidak menutup kemungkinan untuk mengubah komposisi itu. Sebab, tim masih proses latihan umum. Semuanya bisa berubah tergantung kebutuhan.

''Kami juga harus antisipasi agar mereka tidak cedera. Saya juga akan melihat progres atlet pelapis dengan adanya turnamen seperti kejurnas atletik pada Mei mendatang, Singapura Open dan Thailand Open. Kalau mereka ada yang lebih baik, kenapa tidak,'' kata Eni.

Tim estafet putra memiliki target menembus waktu 38,45 detik. Dengan begitu, setidaknya mereka dapat bersaing dengan tim Cina dan Jepang yang masing-masing mencatatkan waktu terbaik 37,99 detik dan 38,49 detik pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.

Rencananya, kelima atlet tersebut diberangkatkan ke Amerika Serikat untuk menjalani training camp pada awal April. Bersama dengan delapan atlet Pelatnas Asian Games lain, mereka akan dilatih langsung selama sebulan oleh pelatih Amerika Serikat yang juga pelatih terbaik IAAF 2016 Harry Marra.

Kebetulan, Harry sejak setahun belakangan ditunjuk PB PASI sebagai konsultan. "Selain berlatih, mereka juga akan mengikuti tiga kompetisi di sana," ujar Sekretaris Umum PB PASI, Tigor M. Tanjung, di sela-sela latihan para atlet atletik nasional di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, selasa lalu .

Selama berada di Amerika Serikat, para atlet akan didampingi tim pelatih PB PASI, yang berjumlah delapan orang.

Hendri Firzani
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com