Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Berebut Mendukung Asian Games 2018

Nilai sponsor Asian Games 2018 telah melampaui total penerimaan di Asian Games Incheon 2014. Sejumlah perusahaan masih banyak yang mengajukan diri untuk jadi sponsor.

Jakarta dan Palembang tengah sibuk bersolek menyambut Asian Games XVIII. Spanduk, umbul umbul, dan poster warna warni menghiasi gedung-gedung dan jalan di beberapa kawasan keramaian untuk mempromosikan perhelatan olahraga terbesar negara-negara se-Asia tersebut. Menjelang pelaksanaannya pada Agustus-September mendatang, sejumlah sponsor berlomba menyosialisasi dengan berbagai metode.

Di pintu masuk Jakabaring Sport City (JSC) Palembang misalnya, terdapat berbagai atribut yang dicetak serupa dan dilengkapi logo perusahaan yang berpartisipasi. Ada logo perbankan nasional milik pemerintah, sejumlah badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan otomotif, perusahaan jasa transportasi daring, dan sebagainya. Ratusan umbul-umbul juga telah terpasang mulai dari jalan Gubernur H Bastari hingga pintu masuk kawasan Jakabaring Palembang, sepanjang sekitar lima kilometer.

Menjelang tiga bulan pelaksanaanya, JSC, yang menjadi kawasan pusat olahraga terintegrasi dan terpusat, tampak terus berbenah. Salah satu yang terbaru adalah pembangunan Jakabaring Bowling Center yang dikerjakan PT Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas. Arena yang dibangun sejak 1,5 tahun lalu itu menyedot biaya Rp27 milyar. Hasilnya adalah gedung megah berarsitektur modern dengan 40 line.

Dalam acara serah-terima gedung kepada pemerintah--diwakili Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin--Managing Direktur APP Sinarmas, Saleh Husein, mengatakan bahwa pihaknya ingin berkontribusi bagi momen bersejarah itu melalui berbagai bentuk dukungan. "Asian Games ini event membanggakan. Kami ingin hadirnya gedung ini sebagai semangat masyarakat Sumsel menyukseskan Asian Games di Palembang," katanya pada Rabu, 30 Mei.

Venue yang berada di sebelah barat kawasan JSC ini berstandar internasional. Sejumlah perlengkapan di dalamnya diisi dengan peralatan standar operator bowling dunia, American Machine and Foundry (AMF). Semua perangkat itu merupakan dukungan PT Pertamina (Persero) senilai Rp42 miliar. Tak mengherankan bila logo kedua perusahaan itu ada di sebelah kiri dan kanan bagian depan gedung yang didominasi warna merah tersebut.

Arya Dwi Paramita, selaku External Manager Communication Pertamina, lantas mengungkapkan alasan keikutsertaan perusahaannya sebagai sponsor. Menurutnya, dukungan ini merupakan wujud partisipasi Pertamina sebagai salah satu perusahaan BUMN dalam mendukung perhelatan olahraga terbesar di Asia.

"Selain itu, partisipasi ini merupakan kontribusi Pertamina pada event dengan standar yang berkualitas tinggi. Harapan lainnya dapat meningkatkan prestasi olahraga Indonesia," kata Arya kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA, ketika ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta Pusat, Kamis, 31 Mei.

Meskipun begitu, Arya tidak menyebutkan jumlah nominal yang diberikan Pertamina. Menurutnya, pengungkapan tentang hal itu bertentangan dengan aturan dari Panitia Nasional Penyelenggaran Asian Games 2018 atau Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC).

Efek ekonomi yang diharapkan Pertamina sebagai salah satu sponsor lebih mengacu pada corporate branding bahwa Pertamina sebagai salah satu partner akan dikenal lebih luas peserta-peserta Asian Games 2018 yang utamanya berasal dari luar negeri. Mengingat selama ini Pertamina sudah melakukan ekspansi usaha ke sejumlah negara. Di antaranya, Pertamina memiliki satu perusahaan pelumas di Thailand. Produk pelumas Pertamina pun sudah dijual ke berbagai negara, tepatnya 14 negara. Beberapa kantor cabang Pertamina juga terdapat di beberapa negara seperti Australia.

Pertamina adalah satu dari delapan official prestige partners, level sponsorship tertinggi yang ditawarkan INASGOC. Hingga saat ini, sebanyak 33 perusahaan resmi telah tercatat sebagai sponsor resmi Asian Games 2018. Per Maret lalu saja, INASGOC telah berhasil mendapatkan dana sponsor Rp1,8 trilyun dari target yang sebelumnya ditetapkan Rp1,5 trilyun.

"Nilai sponsor yang saat ini kami terima, Alhamdulillah telah melampaui total penerimaan di Asian Games Incheon 2014 lalu," kata Director Revenue INASGOC, Hasani Abdul Gani. Awalnya, dana Asian Games yang diajukan sebesar Rp8,5 trilyun. Hal ini berkaca pada dana Asian Games Incheon yang sebesar Rp7 trilyun. Namun Asian Games saat itu hanya diselenggarakan di satu kota, sedangkan Asian Games 2018 akan dilaksanakan di dua kota.

Panitia kemudian melakukan efisensi sampai kebutuhan anggaran mengerucut menjadi Rp6,5 trilyun. Namun sayangnya dana yang disetujui pemerintah sebesar Rp4,5 trilyun. Kekurangan sebesar Rp2 trilyun inilah yang diusahakan terpenuhi dari sponsor-sponsor. Kini terkumpul dana dari sponsor sebesar Rp1,8 triliun. "Kemungkinan besar kita harus minta lagi dari pemerintah," ujar Koordinator Media and Public Relations INASGOC, Danny Buldansyah.

Meski demikian, jumlah Rp1,8 trilyun itu tidak sepenuhnya diterima panitia. Hal ini karena adanya potongan pajak. Bentuk sponsor yang diperoleh pun tak cuma berupa uang tunai, tapi juga barang dan jasa. Misalnya saja APP Sinar Mas memberi sponsorship tambahan dalam bentuk kertas, perusahaan air minum Aqua menyediakan minuman, Unilever menjadikan produk-produknya sebagai bentuk sponsorship.

Danny menambahkan bahwa sampai hari ini masih ada perusahaan-perusahaan yang ingin menjadi sponsor. Salah satu pertimbangan dalam menerima tambahan sponsorship yakni calon sponsor tidak boleh sejenis dengan sponsor yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, Indosat yang kemarin ingin menjadi sponsor, tidak dapat diterima karena sudah ada Telkom.

Perusahaan yang berlomba-lomba menjadi sponsor Asian Games 2018 bisa dipahami. Survei awal yang dilakukan Bappenas terhadap dampak ekonomi langsung dari penyelenggaraan Asian Games 2018 adalah Rp3,6 trilyun. Rinciannya, pengeluaran sebesar Rp2,5 trilyun di Jakarta dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung sebanyak 70% dan Rp1,1 trilyun di Palembang dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung sebanyak 30%. Ini pun baru dari penerimaan melalui pengeluaran langsung peserta dan pengunjung. Kue laba yang tentu sayang untuk dilewatkan para perusahaan sponsor.

"Proses lobi untuk mencari sponsor ini memang sulit pada awalnya. Mungkin saat itu orang belum melihat besarnya eksposur acara ini. Bahkan perusahaan yang pada masa awal-awal menjadi sponsor merupakan perusahaan BUMN karena dibantu (lobi) Kementerian BUMN," kata Danny.

Perusahaan BUMN pertama yang menjadi sponsor yakni Telkom dengan anak perusahaannya, Telkomsel. Kemudian mulai masuk Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, BNI, PLN, serta Pertamina. Perusahaan di luar BUMN yang sejak awal menjadi sponsor antara lain Minuman Pocari, Aqua, dan Grab. Makin ke sini, perusahaan yang ingin menjadi sponsor makin banyak. Misalnya perusahaan sepatu merek 361 dan PT Transportasi Jakarta yang mengoperasikan TransJakarta.

Flora Libra Yanti, Umaya Khusniah, dan Tasmalinda (Palembang)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.32 / Tahun XXIV / 7 - 12 Jun  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com