Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Ultrasonik Pengobat Darah Tinggi

Penelitian terbaru di Inggris menunjukkan terapi ultrasonik dapat mengatasi penyakit darah tinggi. Dinyatakan sukses setelah uji klinis terhadap 146 pasien. Meski masih berstatus terapi alternatif.

Sejak SMA kelas XII, Ranita, 26 tahun, mengidap hipertensi. Emosinya kadang tidak stabil dan tekanan darahnya tinggi. Penyakit hipertensi yang ia idap memang faktor keturunan. Kakek, ibu, dan beberapa saudaranya mengalami hal serupa.

Berat badan Ranita memang tidak ideal. Tinggi tubuhnya 148 sentimeter, tapi berat badan 54 kilogram. Saat beraktivitas, terkadang ia merasakan nyeri di kepala. Ketika itu terjadi, biasanya ia langsung beristirahat.

Tapi pernah, suatu kali, ia terkena flu dan berobat ke klinik. Dokter kaget. sebab, meski cuma flu biasa, tekanan darah Ranita lumayan tinggi, yaitu 164/90 mmg Hg. Padahal usianya masih sangat muda.

Dokter akhirnya memberi resep obat Amlodipine. Ini obat yang tergolong standar bagi pengidap tekanan darah tinggi. Amlodipine berfungsi melemaskan dinding pembuluh darah dan melebarkan diameter pembuluh darah. Efeknya, aliran darah menuju jantung akan lebih lancar hingga mengurangi tekanan darah di pembuluh. ''Kalau minum obat itu [tekanan darah] turun, tapi kalau enggak kadang naik lagi,'' kata Ranita ketika ditemui Annisa Setya Utami dari GATRA.

Namun Ranita tidak terlalu menggantungkan pada obat tersebut. Ia juga mengimbangi dengan berolah raga teratur, jarang begadang dan mengurangi stres. Meski hal terakhir itu diakui Ranita agak sulit juga. Sebab ia mengaku punya sifat emosional. Jika ada keinginan yang tak tercapai, bisa jadi pikiran yang berujung stres.

Dokter menyarankannya agar rutin mengecek tekanan darah sebulan sekali. ''Sampai sekarang tekanan darah memang masih tinggi, tapi aku juga sudah atasi dengan rutin joging dan enggak makan gorengan,'' katanya.

Hipertensi atau penyakit darah tinggi memang termasuk penyakit misterius. Penyakit ini dibagi menjadi dua, yaitu hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang muncul akibat komplikasi dari hal lain, seperti penyakit ginjal, kehamilan, atau kecanduan alkohol dan narkotiba.

Sedang hipertensi primer-yang tidak muncul akibat komplikasi penyakit lain--hingga kini tidak diketahui penyebabnya. Yang diketahui hanya berbagai hal yang dapat meningkatkan risiko hipertensi, misalnya usia (di atas 45 tahun bagi laki-laki dan di atas 65 tahun bagi perempuan), keturunan, obesitas, kurang berolah raga, atau merokok.

Karena itu juga, hingga saat ini pasien yang mengidap hipertensi primer tidak dapat disembuhkan. Sepanjang hidupnya ia ditemani hipertensi. Yang dapat dilakukan pasien hanya mengendalikan agar tekanan darah tidak tiba-tiba meningkat.

Meski hipertensi primer masih diselimuti misteri, tidak berarti dunia kedokteran tidak dapat berbuat apa-apa. Pekan lalu, jurnal kesehatan bergengsi The Lancet memuat hasil penelitian terbaru yang dilakukan para peneliti di Universitas Queen Mary, London.

Riset yang dipimpin dokter Melvin Lobo berjudul ''Endovascular Ultrasound Renal Denervation to Treat Hypertension'' dan dimuat di The Lancet edisi 23 Mei 2018. Riset itu berupaya mengatasi hipertensi primer lewat terapi ultrasonik. Ini adalah jenis terapi yang menggunakan gelombang suara dengan tingkat frekuensi yang tidak dibisa didengar manusia, di atas 20.000 Hz. Terapi ini dilakukan dengan menyuntikkan sebuah alat penghasil gelombang ultrasonik ke dalam pembuluh darah pasien.

Mengapa menggunakan ultrasonik? Melvin menjelaskan bahwa pengobatan hipertensi melalui obat-obatan tetap memiliki kelemahan tersendiri. Ada sekelompok pasien yang tidak mempan diobati dengan obat-obat standar hipertensi. Penyebabnya, bisa karena pasien tersebut sudah terlalu sering mengonsumsi obat hipertensi-sehingga efek obat itu berkurang--atau karena sebab lain yang tidak diketahui.

Selain itu penggunaan obat hipertensi secara terus-menerus juga akan meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung atau stroke. ''Terutama bagi mereka yang sudah kebal dengan obat atau berisiko tinggi terkena stroke, terapi ultrasonik bisa memberi harapan,'' kata Melvin seperti dilansir sciencedaily.com,

Melvin juga menjelaskan, prinsip di balik terapi ini sederhana. Sebuah alat penghasil ultrasonik diinjeksikan ke pasien dan diarahkan ke sel-sel di pembuluh rena di dekat ginjal. Ini adalah pembuluh yang tersambung ke jaringan otak dan mengendalikan tekanan darah. Di sini, gelombang ultrasonik itu berfungsi untuk mendisrupsi besar-kecilnya tekanan darah yang ditransmisikan pembuluh rena ke otak.

Uji klinis terapi ini dilakukan terhadap 146 pasien pengidap hipertensi pada kurun 2017-2018. Sebagian pasien mendapat terapi ultrasonik selama dua bulan, sedang sekelompok pasien lainnya tidak. Hasil kedua kelompok itu kemudian dibandingkan.

Hasilnya, terbukti kelompok yang mendapat terapi ultrasonik memiliki tekanan darah lebih rendah sampai 5 mm Hg atau lebih rendah dibanding yang tidak diterapi. ''Tidak diragukan lagi bila terapi ultrasonik mampu menurunkan tekanan darah,'' kata Melvin.

Namun terapi ini tidak serta-merta menggantikan peran obat hipertensi. Statusnya masih salah satu alternatif pengobatan. Tim Universitas Queen Mary London menghentikan percobaan terapi ultrasonik terhadap pasien setelah dua bulan karena pertimbangan faktor keamanan. Mereka khawatir, bila para pasien tidak medapat pengobatan standar lewat obat selama lebih dari dua bulan, akan timbul komplikasi.

Karena itu, Melvin pun menekankan bahwa keberhasilan pengujian ini masih bersifat jangka pendek. Perlu dilakukan penelitian lebih panjang untuk mengetahui apakah pengobatan standar bisa 100% digantikan oleh terapi ultrasonik. Dengan kata lain, jalan dunia medis untuk menaklukkan penyakit hipertensi masih panjang.

Basfin Siregar

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com