Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KOLOM

Pasar Gelap Islam

Agama harus menjadi bagian penting dari solusi. Untuk itu, ia harus dikembalikan kepada fungsi primernya sebagai panduan moral, pembentuk akhlakul karimah, yang menyapa siapa saja dan bekerja sama dalam menciptakan kehidupan yang adil dan damai bagi semua.

Achmad Munjid
Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM

Terorisme yang beruntun merenggut puluhan nyawa dan menciptakan ketakutan publik di Depok, Surabaya dan Riau. Radikalisme yang diusung kelompok Jemaah Ansarut Daulah (JAD), Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan lainya. Kemudian, persoalan penipuan trilyunan rupiah berkedok agama yang dilakukan First Travel dan Abu Tours atau penggandaan uang ala Kanjeng Dimas. Belum lagi para ustaz layar kaca inkompeten, seperti yang ketahuan tidak becus menulis ayat Al-Quran dengan huruf Arab atau yang ngawur menafsirkan kenikmatan surga sebagai pesta seks adalah bagian dari fenomena "gunung es" yang sama.

Meski berbeda bentuk, derajat, kadar dan implikasinya, semua itu adalah produk "pasar gelap (black market)" Islam. Pertanyaannya, kenapa pasar gelap Islam kini tampak merajalela?
Gelombang Pasang

Memang agama adalah sistem simbol (Geertz, 1973). Tapi kebutuhan umat Islam Indonesia terhadap simbol-simbol agamanya kini jauh lebih besar. Kontras antara dulu dan sekarang sangat jelas. Sampai pertengahan 1980-an, meski kelompok mayoritas, umat Islam nyaris selalu berada di pinggiran, kerap dilihat sebagai sumber masalah, bahkan musuh pemerintah.

Tidak mengherankan bila umat Islam ketika itu--merujuk istilah Nurcholish Madjid--adalah "mayoritas bermental minoritas". Selagi mungkin, penonjolan simbol Islam pun disingkiri. Jangankan ke kantor berkerudung (bagi perempuan), mengucap salam di depan umum saja banyak orang merasa kikuk. Demi mengatasi kegamangan itu, dulu Gus Dur sempat melontarkan gagasan kontroversial untuk mengganti "asalamualaikum" dengan "selamat pagi".

Tapi, ketika Indonesia "mendadak serba-islami" sejak 1990-an, Islam kian menjadi unstoppable force (Ricklefs, 2001). Dalam pertemuan umum, bahkan sebagian non-muslim ikut-ikutan mengucapkan "asalamualaikum" sebagai kelaziman. Demi meraih simpati publik, makin banyak pula perempuan yang mendadak berjilbab, mulai dari pengemis di perempatan jalan sampai tersangka kasus mega-korupsi yang diseret ke pengadilan.

Baru-baru ini, Pemda Aceh Besar malah membuat peraturan yang mewajibkan semua pramugari, apa pun agamanya, mengenakan hijab ketika pesawat mereka mendarat di daerah itu.

Kini Islam telah menjadi gelombang besar yang kekuatannya paling mudah dikenali melalui penggunaan atribut dan simbol-simbol di ruang publik. Ketika semua orang punya telepon pintar, yang tidak memakainya jadi tampak jadul. Begitu juga, ketika lingkungan telah berubah "serba-islami", yang tidak ikut arus bukan cuma kelihatan tidak lazim, tapi bahkan bisa terlihat "salah".

Ada tekanan sosial amat besar yang membuat kini kebutuhan atas simbol-simbol Islam itu meningkat pesat. Baju, menu, sekolah, media, forum, asosiasi, kelompok, tabungan, bisnis, semua makin serba-islami. Sebagai gelombang pasang, simbol-simbol Islam telah menjadi sumber daya, modal kultural dan identitas politik yang sangat efektif untuk "dimainkan".

Pasar Gelap Di luar urusan religiositas, di satu sisi, kebutuhan yang amat besar akan konsumsi simbol-simbol Islam itu telah menjadi peluang empuk yang siap mendatangkan banyak keuntungan politik, ekonomi dan sosial. Di sisi lain, akibat lonjakan besar tadi, tidak semua "permintaan pasar" bisa segera terpenuhi secara layak.

Saking besarnya pertumbuhan jumlah masjid, musala, organisasi, lembaga, kelompok, forum, media dan acara keagamaan di mana-mana. Lebih-lebih selama Ramadan seperti sekarang, "permintaan" akan penceramah dan pengisi acara keagamaan pun naik pesat. Begitu pula dengan kebutuhan gaya hidup islami lainnya.

Sementara tekanan sosial yang kuat akan konsumsi simbol agama--kerap tanpa cukup literasi agama--telah mendorong banyak orang untuk memenuhi kebutuhan tadi secara cepat, asal dapat. Tak ada rotan, akar pun jadi. Inilah yang mendorong banyak pemain baru untuk "berjualan" apa saja tentang Islam, karena semua orang ingin membelinya. Akhirnya, kualitas pun kerap menjadi perkara sekunder. Yang penting, bisa menjadi bagian dari arus utama, terlihat lumrah, tampak religius.

Celah yang lebar antara "permintaan dan penawaran" bermacam-macam kebutuhan agama inilah yang telah menciptakan "pasar gelap" Islam, ruang bagi para ustaz jadi-jadian, ulama hoak, biro umrah akal-akalan, tafsir palsu, ideologi radikal hingga terorisme itu. Yang dijajakan di sana adalah "Islam bajakan", agama imitasi yang mungkin tampak mengesankan di permukaan, tapi miskin substansi, kalau bukan barang beracun.

Di pasar gelap itu, di ujung sini kita saksikan religiusitas "selfie", atribut narsisme kesalehan personal. Suatu komoditas laris bagi para calo berjubah dan penangguk keuntungan. Di ujung sana, ia adalah ladang subur eksklusifisme, bahkan radikalisme hingga terorisme atas nama agama.

Meluasnya konsumsi Islam pasar gelap ini turut menjelaskan kenapa, meski secara formal masyarakat kita tampak jauh serba-islami dan begitu semarak dengan simbol-simbol. Pada kenyataannya etika kita makin bobrok, pelanggaran hukum makin meluas, relasi sosial terutama hubungan antar-agama dan kekerasan atas nama agama begitu menjadi-jadi.

Meski realitas sudah jauh berubah dibanding era 1980-an dan kini Islam begitu dominan, sebagian umat Islam masih terus memelihara "mentalitas minoritas", takut tidak mendapat bagian, bahkan takut disingkirkan. Akibatnya, jika menyangkut kepentingan sendiri, sebagian muslim begitu gampang merasa tersinggung, hipersensitif, dan sedikit-sedikit merasa dilecehkan. Seperti terlihat di balik kehebohan puisi Sukmawati dan serentetan kasus "penistaan agama" lainnya.

Ironisnya, ketika menyangkut kepentingan dan hak orang lain, kelompok itu kerap tak punya kepekaan, begitu insensitif. Selain perda wajib jilbab bagi pramugari, kita tentu masih ingat pelarangan bakti sosial Gereja Santo Paulus Yogyakarta dan berbagai kasus persekusi oleh kelompok Islam tertentu terhadap kaum Ahmadi, Syiah, dan sengketa Gereja Yasmin Bogor.

Sebagai mayoritas, seakan mereka punya privilege untuk secara semaunya mendefinisikan pihak lain, tapi tidak sebaliknya. Inilah akibatnya jika umat beragama begitu terperangkap mementingkan simbol tapi lupa akan substansi.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa simbol agama itu tidak penting. Jika agama adalah sistem simbol, jelas simbol sangat penting. Tapi agama tidak boleh terkurung menjadi simbolisme. Jika agama hendak memainkan peran signifikan di tengah kompleksitas dan tantangan kehidupan berbangsa kita sekarang, ia tidak boleh dibiarkan menjadi bagian dari masalah.

Agama harus menjadi bagian penting dari solusi. Untuk itu, ia harus dikembalikan kepada fungsi primernya sebagai panduan moral, pembentuk akhlakul karimah, yang menyapa siapa saja dan bekerja sama dalam menciptakan kehidupan yang adil dan damai bagi semua. Kesalehan personal simbolik yang eksklusif harus ditransformasi menjadi etika sosial dan moralitas publik yang inklusif dan membebaskan.

Jika tidak, pasar gelap agama akan terus merajalela. Ia adalah lahan subur manipulasi dan politisasi, bahkan radikalisme dan terorisme.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com