Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Italia Guncang Pasar Uang Dunia

Politik di Italia ibarat sebuah drama, yang akibatnya malah mengguncang pasar keuangan dunia. Kabinet baru mereka terlihat lebih ramah pada Uni Eropa.

Konstelasi politik pemerintahan di Italia selama sepekan kemarin maju mundur. Kamis pekan lalu, Presiden Italia Sergio Mattarela menetapkan Giuseppe Conte sebagai Perdana Menteri Italia. Sebenarnya, penetapan itu berlangsung pada minggu lalu. Namun, hanya berselang sehari, Conte menolak dan bahkan mengancam mundur karena kandidat menteri keuangan yang ia ajukan ditolak oleh Presiden.

Kendati tidak disebutkan secara eksplisit, kandidat menteri keuangan yang dimaksud adalah Paolo Savona, seorang ekonom yang dikenal anti-Uni Eropa dan menolak konsep mata uang tunggal euro. Kepada wartawan, Mattarela saat itu menegaskan bahwa yang dilakukannya itu adalah murni kewajiban konstitusinya. Yakni menciptakan pemerintahan yang stabil serta melindungi kepentingan rakyat Italia.

Di kediaman resminya, Mattarela menekankan bahwa Italia adalah salah satu pendiri Uni Eropa. ''Keikutsertaan kita dalam [mata uang tunggal] euro adalah pilihan mendasar yang penting bagi negara dan masa depan masyarakat kita. Bila ada yang mau mendiskusikan [ini], harus dilakukan secara terbuka,'' kata Mattarela, seperti dikutip harian The New York Times.

Secara implisit, Mattarela mengritik dua partai pendukung Conte, yakni Five Star Movement (FSM) dan The League, yang kerap mengampanyekan untuk meninggalkan euro, tapi tidak pernah menjelaskan cara atau langkah-langkahnya. Oleh karena itu, menurut Mattarela, tidak elok bagi para partai tersebut untuk memasang menteri keuangan seperti Savona, sebagai langkah untuk keluar dari euro. Ia menekankan bahwa yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan mandat konstitusi. Dengan posisi tersebut, ia harus menolak nama kandidat menteri yang berpotensi kuat membuat Italia keluar dari euro.

Setelah rancangan kabinetnya ditolak, Conte pun 'ngambek'. Ia mengajukan pengunduran diri. Berselang beberapa jam pada Minggu itu, Mattarela memanggil Carlo Cottareli. Mantan pejabat Dana Moneter Internasional itu diminta Presiden Italia untuk membentuk pemerintahan transisi sementara. Akan tetapi, Cottareli menolak penunjukan itu. ''Yang terbaik untuk negeri ini adalah pemerintah yang dibentuk secara konsensus politik,'' kata Cottareli, seperti dilansir Reuters. Ia pun mengembalikan mandat dari Presiden Italia.

Tidak terima atas keputusan Presiden tersebut, Matteo Salvini selaku pimpinan The League yang mengusung Conte, segera bereaksi dengan berang. ''Apakah menurutmu ini bisa disebut sebagai demokrasi?'' kata Salvini kepada wartawan. Menurutnya, keputusan Mattarela itu adalah akibat tekanan dari para bankir Eropa, politisi di Brussel dan Jerman. ''Italia tidak akan jadi budak siapa pun,'' kata Salvini, seperti dikutip The New York Times.

Luigi Di Maio, pimpinan FSM yang berkoalisi dengan The League malah mewacanakan tindakan lebih jauh lagi. Ia menggalang dukungan untuk memakzulkan Presiden Mattarela.
Instabilitas politik Italia itu sempat mengguncang pasar keuangan dunia. Indeks saham industri Dow Jones turun hingga 400 poin. Tren penurunan serupa terjadi di indeks S&P dan Euro Stock. Para pelaku pasar beramai-ramai melakukan aksi penjualan karena khawatir terhadap stabilitas negara ekonomi terbesar ketiga di Eropa itu.

Di Italia sendiri, terjadi 'gempa' di pasar obligasinya. Imbal surat utang negara dengan tenor 2 tahun naik hingga 157 basis poin, sedangkan imbal untuk surat utang bertenor sepuluh tahun naik 41 poin. Kondisi itu memperlihatkan, pelaku pasar modal tidak yakin terhadap kemampuan ekonomi Italia.

Drama politik Italia pun berhenti pada Kamis pekan lalu. Conte kembali dipanggil ke Istana Presiden. Mattarela merestui daftar kabinet baru yang diusung Conte, dan nama-nama menteri pun diumumkan. ''Kami akan bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Italia,'' kata Conte seusai pertemuan dengan Presiden Mattarela.

Posisi Menteri Keuangan yang menjadi sumber kebuntuan pekan lalu, kini diisi oleh Giovani Tria, seorang guru besar ekonomi di Tor Vergata University, Roma. Tria tidak terafiliasi dengan partai mana pun. Karena posisinya tersebut, Tria bisa mengritik kebijakan ekonomi dari koalisi pengusung pemerintah saat ini. Contohnya adalah kritiknya terhadap kebijakan standardisasi upah minimum nasional oleh FSM dan rencana kebijakan pemotongan pajak yang diajukan The League. Ia ingin agar Pemerintah Italia tidak mengulang kesalahan pendahulunya yang tidak mampu mengendalikan keseimbangan antara daya beli masyarakat dan tarif pajak.

Tria juga kritis terhadap pengelolaan ekonomi terpusat dan seragam yang dijalankan Uni Eropa. Namun ia tidak seperti Savona yang punya 'plan B' sebagai persiapan Italia meninggalkan Uni Eropa. Ia juga dikenal sebagai pemikir ekonomi yang kerap meminta Uni Eropa mengubah regulasi fiskalnya dan memperbesar peluang investasi publik demi pertumbuhan ekonomi. Dan seperti kebanyakan ekonom lainnya, Tria juga mengritik kebijakan ekonomi Jerman yang mempertahankan surplus neraca berjalannya.

Di posisi menteri luar negeri, Conte menunjuk Enzo Moavero Milanesi, mantan perwakilan Italia di Komisi Uni Eropa. Milanesi pernah dua tahun menjadi menteri di bidang Uni Eropa pada masa kabinet Perdana Menteri Mario Monti. Gestur penunjukan Milanesi ini mengisyaratkan niat pemerintah Italia untuk memuluskan hubungan mereka dengan Uni Eropa.

Walaupun Italia sudah punya kabinet dan pemerintahan yang tetap, masih ada masalah lain yang menanti mereka. Corak anti-Uni Eropa yang kental mewarnai pemerintahan Italia akan berhadapan dengan duet Prancis-Jerman yang bersemangat mendorong integrasi politik dan ekonomi.

Berikutnya, anggota koalisi The League juga akan mendapat kritik keras karena karakter xenofobia anti-asing dan imigrannya. Beberapa jam sebelum daftar kabinet diumumkan, Matteo Salvini mem-posting video di akun Facebook-nya. Isinya adalah seorang kulit hitam asal Afrika yang sedang mencabuti bulu burung dara, lalu ada tulisan ''Go Home!!'' di situ.

Pada masa kampanye, Salvini juga pernah berjanji untuk mengusir 500.000 imigran ilegal dari Italia. Janjinya itu mungkin bisa ia tepati, karena kini Salvini ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri Italia.

Anggota koalisi lain, yakni FSM juga mendapat jatah di pemerintahan baru. Luigi Di Maio, pemimpin FSM, menjadi menteri ketenagakerjaan dan pembangunan ekonomi. Dengan posisi ini, kemungkinan besar ia bisa memenuhi janji kampanyenya, yaitu menciptakan standar upah minimum nasional.

Cavin R. Manuputty
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com