Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Rambu-Rambu Data Privat di Benua Biru

Uni Eropa menerapkan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi yang bisa menjerat denda puluhan milyar dolar AS kepada Google dan Facebook. Amerika Serikat beraksi keras atas pemberlakukan regulasi ini.

Sehari setelah Uni Eropa memberlakukan General Data Protection Regulation (GDPR) pada 25 Mei lalu, dua perusahaan raksasa bidang teknologi informasi seperti Google dan Facebook, langsung merasakan dampaknya. Dengan dalih perlindungan privasi dan keamanan data pribadi, GDPR atau yang biasa disebut Undang-undang Perlindungan Data Pribadi, membuat mereka terancam denda sebesar US$9,3 milyar.

Perlindungan data pribadi disuarakan terutama oleh organisasi nonprofit, None of Your Business (NOYB) yang didirikan oleh pengacara asal Austria, Max Schrems. ''Banyak persetujuan yang disampaikan secara online atau dalam aplikasi yang disertai ancaman bahwa layanan itu tidak lagi bisa digunakan bila pengguna tidak menyetujuinya,'' kata NYOB dalam pernyataan yang dikutip Economic Times.

Kelompok tersebut mengampanye perlawanan privasi data terhadap Facebook sejak 2011 lalu. Hal itu juga dilakukan terhadap Google dan turunan Facebook seperti Instagram dan WhatsApp. NOYB menuntut regulator di Prancis, Belgia, Jerman, dan Austria untuk mendenda kedua perusahaan itu hingga maksimal 4% seperti halnya disyaratkan dalam undang-undang.

Bahkan, jika regulator Eropa sepakat dengan NOYB untuk memberikan denda lengkap, ada potensi penambahan denda yang bisa diajukan dalam gugatan. Induk Google Alphabet setidaknya masih harus keluar sebesar US$4,88 milyar. Sedangkan untuk Facebook serta Instagram dan Layanan WhatsApp masing-masing bisa dikenai US$1,63 milyar.
Undang-undang Perlindungan Data Pribadi diloloskan anggota Parlemen Uni Eropa di Brussel pada April 2016 lalu. Regulasi tersebut memungkinkan seseorang untuk lebih leluasa mengontrol penanganan atas data mereka, bagaimana pengumpulan, pemrosesan, dan penggunannya.

Bila terbukti melakukan pelanggaran dalam pemanfaatan data, suatu perusahaan akan dikenai sanksi. Tak tanggung-tanggung, besaran denda itu bisa sampai 4% omzet tahunan. Bila dinominalkan, bisa sekitar 20 juta euro atau US$23,4 juta.

Undang-undang itu juga memberi hak kepada semua warga negara Uni Eropa untuk melihat apa saja informasi yang dimiliki oleh perusahaan tentang dirinya. Dan mereka boleh meminta data itu untuk dihapuskan.

Pada sisi lain, perusahaan harus aktif meminta persetujuan untuk mengumpulkan dan menggunakan data pengguna. mereka juga diwajibkan menginformasikan ketika terjadi kebocoran data yang bisa berdampak pada penggunanya. Pemberitahuan itu harus disampaikan kepada otoritas yang mengawasi dalam batas waktu 72 jam, perusahan pelanggaran data itu juga harus diberitahukan. Peran tersebut akan melibatkan otoritas pengawasan yang bakal dibentuk di setiap negara Uni Eropa.

Setidaknya ada delapan hak data individu dalam GDPR. Pertama, hak akses untuk diberitahu. Seseorang berhak untuk mendapatkan pemberitahuan secara jelas tentang tujuan dari pengumpulan data dirinya. Kedua, hak akses melihat data. Dalam hal ini sang pemilik data harus diizinkan untuk melihat data yang dikumpulkan oleh perusahaan tersebut. Ketiga, hak memperbaiki, yaitu hak untuk mengoreksi data yang salah dalam catatan perusahaan.

Kemudian keempat adalah hak penghapusan atau hak untuk dilupakan. Meski tidak bersifat absolut, seorang individu berhak meminta penghapusan data pribadi yang disimpan. Kelima, hak membatasi pemrosesan''. Di sini memungkinan seseorang untuk membatasi pemrosesan file data pribadinya. Adapun hak keenam adalah hak atas portabilitas data. dengan hak ini seseorang bisa meminta data yang dikumpulkan perusahaan untuk dibagi ke tempat lain yang memberikan kesepakatan lebih baik.

Selanjutnya, yang ketujuh adalah hak atas objek. Dengan ketentuan ini seseorang berhak menolak dan mencegah datanya digunakan untuk tujuan tertentu. Misalnya data dalam pemasaran langsung, dimana ini bisa digantikan oleh klaim hukum. Terakhir adalah hak pengambilan keputusan. Dalam hal ini, profil sesorang bisa dilakukan lewat persetujuan eksplisitnya yaitu suatu kontrak yang disahkan oleh negara.

Dengan sudah efektif dan berlakuknya GDPR, Ketua Dewan Perlindungan Data Eropa yang baru, Andrea Jelinek berharap kasus-kasus pelanggaran penggunaan data pribadi akan segera diajukan dalam waktu dekat. ''Jika pengadu datang, kami akan siap,'' katanya kepada Financial Times.

Sinyal positif juga disampaikan oleh regulator data di Irlandia, Helen Dixon. Untuk penetapan aturan GDPR, pihaknya siap menggunakan ''alat lengkap'' terhadap perusahaan yang tak patuh. Terkait hal tersebut, markas Facebook dan Twitter di Uni Eropa memang ada di negara yang terbagi dalam 32 county tersebut.

Efek GDPR tak hanya terasa pada perusahaan besar seperti Google dan Facebook. Regulasi ini pun berimbas pada beberapa outlet berita Amerika Serikat. Beberapa di antaranya melaporkan bahwa layanannya tidak tersedia lagi di beberapa wilayah Eropa. BBC menyebutkan, hal itu berdampak terutama pada kelompok penerbitan media Tronc and Lee Enterprises Media Publishing. Beberapa yang masuk adalah New York Daily News, Chicago Tribune, serta LA Times, Orlando Sentinel dan Baltimores Sun. Namun tak berpengaruh bagi CNN dan New York Times.

Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Wilbur Ross, menyebut bahwa GDPR telah merugikan hingga milyaran dolar bagi perusahaan-perusahaan AS. Ia menilai panduan tentang penerapan undang-undang itu terlalu samar-samar. Karena itu, ia meminta Brussels mempertimbangkan kembali aturan itu.

''Penghormatan kami akan privasi tidak harus mengorbankan keamanan publik,'' kata Ross, sebagaimana dikutip Telegraph. Menurutnya, secara signifikan penerapan GDPR ini bisa mengganggu kerja sama transatlantik. ''Selain mengganggu kerja sama transatlantik, juga menciptakan hambatan yang tidak hanya dengan Amerika Serikat, tapi juga bagi semua orang di luar Uni Eropa,'' katanya.

Birny Birdieni
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.32 / Tahun XXIV / 7 - 12 Jun  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com