Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Pohon Plastik “Tumbuh’’ Ngawur

Pemasangan pohon plastik di trotoar Jakarta menimbulkan reaksi negatif. Riwayat pengadaan mereka pun tidak jelas. Daripada memperpanjang polemik, hiasan jalan itu pun dicabut.

Niatnya mempercantik, tapi malah jadi pengusik. Begini riwayat singkat pohon-pohon plastik di trotoar jalan protokol ibu kota. Pekan lalu, tepatnya mulai 28 Mei, beredar foto-foto pejalan kaki yang terlihat terganggu oleh keberadaan pohon imitasi di trotoar jalan M.H. Thamrin. Hampir semua komentar tentang gambar-gambar tersebut bernada negatif. Ada warganet yang menyalahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena menaruh pohon plastik di trotoar untuk menghalangi pejalan kaki.

Komentar warganet pun semakin runcing setelah beredar informasi, anggaran untuk pengadaan pepohonan plastik itu mencapai Rp8,1 milyar. Dugaan besarnya anggaran itu muncul dari penelusuran di laman lpse.jakarta.go.id. Di situ, tertulis, pagu anggaran pengadaan tanaman dan bahan dekorasi mencapai Rp9 milyar dengan harga perkiraan sementara (HPS) sebesar Rp8 milyar.

Dari laman itu juga terlihat bahwa pemenang tender pengadaan tanaman dan bahan dekorasi tersebut adalah PT Cahaya Perisai Afiyah, dengan penawaran Rp8.104.049.250,00.

Perusahaan itu tercatat berada di Jalan Patriot Dalam, nomor 27A, RT 001 RW 001, Kelurahan Jakasampurna, Bekasi Barat, Jawa Barat.

Adanya informasi itu membuat komentar publik kian menjadi-jadi. Secara sederhana, pohon plastik itu bisa dibilang mahal dan mengganggu pula. ''Pohon plastik 8 M [milyar] menyampah di trotoar Jakarta,'' demikian cuitan seorang warganet yang dilihat GATRA di Twitter.

Di tengah kesimpang-siuran informasi, beredar juga kabar bahwa anggaran pengadaan pohon-pohon plastik itu sebesar Rp2,2 milyar. Kendati lebih kecil dari informasi sebelumnya, tetap saja jumlah itu terbilang fantastis. Apalagi menurut hitungan amatir, ada sekitar 48 pohon plastik yang ditanam di trotoar Jalan Medan Merdeka Utara, Medan Merdeka Barat, dan Jl. M.H. Thamrin.

Pemerintah DKI Jakarta terkesan tidak tahu-menahu tentang keberadaan pepohonan plastik itu. Kepada wartawan, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, mengaku bingung dengan pemasangan lampu berbentuk pohon tersebut. Sandiaga mengatakan, ia pertama kali melihat pohon/lampu itu sekembalinya ke Jakarta dari Makkah, Rabu pekan lalu. ''Saya liat di salah satu [media] online, tentang lampu yang baru dipasang. Kebetulan lihat ke kiri ada beberapa. Tapi kok bentuknya kayak begitu,'' kata Sandiaga kepada wartawan di Jakarta, Kamis pekan lalu.

Lebih lanjut, Sandiaga menyatakan, inisiatif untuk mempercantik kota Jakarta semacam itu tidak dibarengi dengan rencana yang matang. ''Kadang orang usaha, ambil inisiatif. Tapi kadang ada yang tidak terpikirkan dengan baik. Dan kita beri maklum, pengertian ke mereka. Kalau ambil inisiatif itu lebih baik disosialisasikan dulu ke kepala dinasnya,'' kata Sandiaga.

Sepengetahuannya, pemasangan lampu hias berbentuk pohon plastik itu adalah inisiatif Kepala Suku Dinas Perindustrian dan Energi Jakarta Pusat. Pohon itu adalah barang lama yang katanya biasa dipasang dalam rangka peringatan hari besar. Misalnya untuk acara hari ulang tahun Provinsi DKI Jakarta, 17 Agustusan, atau malam pergantian tahun.

Kali ini, pohon plastik itu muncul untuk menyambut Lebaran, HUT Jakarta, 17 Agustusan, dan Asian Games nanti. ''Bagus bila mereka ambil inisiatif. Tapi sayangnya ini menghalangi jalan. Sudah sempit, ini diletakkan lagi seperti itu,'' kata Sandiaga. Ia pun mengatakan, kepala dinas terkait sudah meminta anak buahnya untuk mencopot pohon plastik tersebut.

Kabar tentang anggaran milyaran untuk pengadaan pohon plastik, dibantah oleh Sandiaga. Menurutnya, Rp8,1 milyar di LPSE adalah untuk pengadaan pohon di wilayah lain. Adapun anggaran Rp2,2 milyar, menurutnya, juga bukan untuk pepohonan plastik itu, melainkan untuk mempercantik kota dalam rangka persiapan Asian Games. Proyek pengadaannya pun masih dalam tahap pelelangan.

Pada kesempatan berbeda, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga belum bisa memberi kepastian mengenai asal-usul dan kejelasan pohon-pohon plastik itu. Jumat pagi pekan lalu, Anies mengaku bahwa pemasangan pohon plastik dilakukan oleh Suku Dinas Perindustrian dan Energi Jakarta tanpa seizin dirinya. ''Ngawur itu, idenya siapa?'' kata Anies kepada wartawan, seusai menghadiri upacara peringatan hari lahir Pancasila di kompleks Kementerian Luar Negeri, Pejambon, Jakarta Pusat.

Menurutnya, pegawai Suku Dinas memasang pohon-pohon plastik itu tanpa pemberitahuan dan tanpa izin. ''Begitu kami lihat, langsung dicabut,'' kata Anies. Alasan pencabutan itu, menurut Anies, karena belum ada koordinasi antara Gubernur DKI Jakarta dengan Suku Dinas di Kotamadya Jakarta Pusat.

Umur pohon plastik itu pun hanya empat hari. Setelah beredar banyak komentar negatif, mereka dicopot dari trotoar oleh pemerintah DKI Jakarta.

Terkait soal anggaran, Anies menegaskan bahwa pohon plastik itu tidak masuk dalam program pengadaan tahun 2018 ini, seperti yang ditampilkan di laman LPSE. ''Ini suka pada pura-pura kaget. Seakan baru ada sekarang,'' katanya. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, pohon plastik itu bukan barang baru, melainkan stok lama yang ada di gudang Pemprov DKI Jakarta.

Setelah polemik kadung merebak, Anies mengatakan bahwa pohon plastik itu sudah dikembalikan ke gudang. Tentang anggaran pengadaan, ia berjanji akan mencari tahu lebih rinci hal-ihwal pohoh-pohon tersebut. ''Nanti saya cek [anggarannya]. Saya tidak mau berspekulasi,'' katanya. Bila informasi yang diperolehnya sudah lengkap, Anies akan menjelaskannya kepada publik. ''Ini bukan sekadar ramai di media sosial. Ini kita menjalankan pemerintahan,'' katanya.

Salah satu unsur masyarakat yang menentang keberadaan pohon plastik di trotoar itu, Koalisi Pejalan Kaki, merasa miris. Sebaba pepohonan asli di jalan protokol ditebangi dan pohon tiruanlah yang kini bermunculan.

Alfred Sitorus, Ketua Koalisi Pejalan Kaki, menyatakan bahwa pihaknya tidak menentang upaya Pemerintah Provinsi yang berniat memperindah trotoar. Akan tetapi, ia berharap upaya itu tidak menghilangkan fungsi trotoar. Kepada wartawan, Alfred menyampaikan saran kepada Pemprov DKI, bila ingin memperindah trotoar, lakukanlah dengan memanfaatkan pohon hidup yang ada. Bisa juga dengan memasang lampu hias di pohon asli yang berdiri di kanan-kiri trotoar.

Cavin R. Manuputty
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com