Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Adu Kuat di Media Sosial

Empat bulan terakhir, Prabowo Subianto lebih banyak dibicarakan di medsos ketimbang Jokowi. Pendukung Prabowo di medsos bertumpuk dengan pendukung #2019GantiPresiden. Relawan Jokowi lebih cair dan menyebar.

Pada pilpres 2014, distribusi informasi yang dilakukan relawan pendukung Prabowo Subianto bersifat terpusat dengan pola one to many, seperti garis komando. Sementara itu, karakteristik relawan Joko Widodo lebih cair, menonjol, dan tidak punya satu kesamaan isu atau tagar (tanda pagar). ''Pola yang sama terlihat menjelang pilpres 2019,'' kata Direktur PoliticalWave, Yose Rizal.

Menjelang pilpres 2019, pendukung Prabowo cenderung overlay (menumpuk) dengan akun yang mendukung #2019GantiPresiden. Karakteristik garis komando tampak dari konsistensi mengusung tagar yang itu saja untuk menyertai berbagai event dan isu. Misalnya, ketika Prabowo menerima mandat pencapresan dari Gerindra April lalu, tagar #2019GantiPresiden tampil paling menonjol dengan akun-akun influencer yang relatif sama. Tidak mengherankan jika tagar ganti presiden itu kerap jadi trending topic di platform Twitter.

#2019GantiPresiden bermula dari pernyataan Sekjen Partai Keadilan Sejahtera Mardani Ali Sera dalam sebuah acara talkshow di televisi. Gerakan yang bermula di media sosial itu lalu mendapat dukungan tokoh dan politisi nonpendukung pemerintah sebelum akhirnya dideklarasikan secara offline di Jakarta pada awal Mei lalu.

Tagar ini berulang kali menjadi trending topic di dunia maya. Pada kurun 17-20 Mei 2018, misalnya, #2019GantiPresiden mencapai total reach 289,18 juta. Sementara itu, pada kurun yang sama #Jokowi2Periode mencapai total reach 56,55 juta. Capaian itu dipantau dari beberapa paltform medsos seperti Facebook, YouTube, Instagram, dan Twitter, plus media massa online.

Sementara itu, di sisi pendukung Jokowi tidak ada tagar yang dominan dan terus-menerus dipakai oleh influencer-nya. Contohnya, #Diasibukkerja dan #jokowi2periode. Dan dari sisi sokongan akun, sifatnya lebih menyebar ketimbang pendungn Prabowo di dunia maya. Menurut Yose, situasi itu mengisyaratkan ada beberapa kubu relawan yang berusaha eksis dengan mengusung tagar masing-masing. ''Interaksi antar-kelompok relawan pendukung memang ada, tapi ada banyak juga jaringan di dalamnya,'' ia menjelaskan.

Jaringan relawan Jokowi di media sosial pun, Yose melanjutkan, sudah bisa terbaca. Misalnya, akun Ulin Yusron, Guntur Romli, Addie M.S., dan lainnya, hingga akun resmi parpol seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kerap mencuit tentang Jokowi dan dapat dikatakan sebagai influencer untuk isu-isu seputar Jokowi.

Karakteristik pendukung Jokowi di medsos yang lebih tersebar, pada titik tertentu memberikan keuntungan tersendiri. Karena didukung oleh berbagai basis relawan yang tidak memiliki keseragaman komunikasi, maka jangkauannya pun lebih luas. ''Pendukung Jokowi menjangkau banyak network yang berbeda,'' katanya.

Masalahnya, hingga saat ini, dalam analisis PoliticalWave, tagar politik #2019GantiPresiden masih unggul daripada tagar-tagar lain. Meskipun bukan merupakan satu bentuk dukungan secara langsung kepada Prabowo, tagar itu memperlihatkan garis koordinasi oposisi yang konsisten, ''Jika dihitung berdasarkan akun dukungan murni, Prabowo masih kalah jauh oleh Jokowi di media sosial,'' Yose menambahkan.

Perhitungan Ismail Fahmi berbeda dengan PoliticalWave. Menurut Founder PT Media Kernels Indonesia, alat buatannya yang bernama Drone Emprit mencatat pergerakan akun-akun influencer yang sering membicarakan topik pencapresan di Twitter. Pencatatan ini menggunakan keyword: ''Jokowi'', ''Joko Widodo'', ''Gatot'', ''Prabowo'', dan menggunakan filter ''capres''. "Hanya yang mengandung kata 'capres' yang diambil, biar fokus ke intention pencapresan," ujarnya.

Dari pencatatan yang dilakukan oleh Drone Emprit, sejak 1 Maret 2018 hingga 2 Juni 2018, topik "Capres-Jokowi" dibicarakan sebanyak 55.330 kali dengan rincian 15.046 kali oleh media online Indonesia dan 40.264 oleh akun-akun Twitter. Sementara itu, topik "Capres-Prabowo" dibicarakan sebanyak 83.774 kali dengan rincian 19.673 kali oleh media online Indonesia dan 64.101 oleh akun-akun Twitter. Lalu, topik "Capres-Gatot" dibicarakan sebanyak 18.775 kali dengan rincian 5.731 kali oleh media online Indonesia dan 13.044 kali oleh akun-akun twitter.

Dari data tersebut terlihat bahwa "Capres-Prabowo" merupakan topik yang paling banyak dibahas dan yang paling kecil adalah topik "Capres-Gatot".

Berdasar pada Social Network Analysis: Retweet Network yang ditangkap oleh Drone Emprit, terlihat bahwa untuk kata kunci "Prabowo", akun yang terlihat paling berpengaruh dalam pembahasannya di media sosial @fadlizon dengan 3.578 retweet dan reply. Berikutnya ada akun @ABDULRANIRASJ11, @ustadtengkuzul, dan lainnya.

Untuk keyword "Jokowi", akun yang terlihat paling berpengaruh dalam pembahasannya di media sosial (most enggaged users) adalah akun @ABDULRANIRASJ11 (dengan 966 retweet dan reply), lalu ada @DPP_LPI; @fadlizon (dengan intensi negatif), dan lainnya. Sementara itu, untuk kata kunci ''Gatot'', akun yang terlihat paling berpengaruh dalam pembahasannya di media sosial adalah sejumlah portal berita online.

Akun @fadlizon adalah akun Twitter milik Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Ketua DPP Partai Gerindra ini memang dikenal aktif di media sosial. Dalam catatan Drone Emprit, tweet Fadli Zon dengan kata kunci "Prabowo" yang paling banyak ditanggapi adalah tweet pada 15 April 2018, yang berisi:

"Nggak benar alias fiktif. N sdh jd FAKTA bhw @prabowo capres @Gerindra . @MRomahurmuziy urus partai n capresnya sendiri sj jgn sok tau."

Kicauan itu disebar untuk menanggapi ucapan Ketua DPP PPP,Romahurmuziy, yang mengatakan bahwa Probowo sedang berusaha melobi Jokowi untuk menjadi cawapres. Partisipasi akun @fadlizon yang tinggi terhadap pembicaraan tentang Jokowi sebagian besar berisi tentang bantahan itu yang mendapat tanggapan akun lain.

Lainnya, dibandingkan Gatot Nurmantyo, pemilik akun @ABDULRANIRASJ11, Abdul Rani Rasjid, belakangan banyak mengisi lini masa pengguna Twitter. Akun ini cukup populer menghiasi pembicaraan di gugus percakapan Jokowi dan Prabowo. Abdul kerap mengumbar unggahan yang memancing reaksi warganet karena kepercayaan dirinya untuk maju sebagai capres di 2019.

Melalui akun Twitter-nya, Abdul bahkan terang-terangan membandingan dirinya dengan dua kandidat calon presiden 2019 yang pendukungnya sudah mulai gontok-gontokan itu. Abdul dengan rasa percaya diri yang cenderung nekat seperti jeda yang mengingatkan pada para pendukung bakal kandidat capres di media sosial untuk lebih santai menyambut pemilu 2019. Jari boleh panas, tapi hati harus tetap dingin.

Bambang Sulistiyo, Aditya Kirana, dan Hidayat Adhiningrat P.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.32 / Tahun XXIV / 7 - 12 Jun  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com