Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Perang Jasa Antar Makanan

Upaya memperebutkan kue bisnis makanan antar makin memanas di Asia. Pertempuran terus berlangsung di Cina dan India. Di Indonesia dan Malaysia baru terjadi pemanasan. Lanskap bisnis restoran sudah berubah.

Gu Bonan, 29 tahun, adalah salah satu pengusaha restoran gaya baru di Cina. Dalam setahun ini, ia membuka delapan restoran di Shanghai. Nama restorannya 8Peppers, spesialis masakan pedas. Yang unik, restorannya cuma berupa ruangan dapur. Pekerjanya cuma juru masak. Tidak ada ruang untuk pengunjung dan tidak ada pelayan. Lantas, bagaimana cara menjual makanan?

Gu adalah tipe pengusaha restoran "gaya baru" di Cina. Sejak industri jasa pengantaran makanan (food delivery) di Cina berkembang pesat, defisini "restoran" tidak lagi mencakup ruang pengunjung. Gu menjual makanannya secara online dengan memanfaatkan jasa kurir makanan.

Pengendara motor dari dua perusahaan kurir makanan terbesar di Cina, Ele.me dan Meituan, parkir tidak jauh dari dapur mereka, terutama pada saat jam makan siang. Begitu ada pesanan, pengendara itu mendatangi dapur 8Peppers dan memesan. "Sekarang makin sedikit orang yang mau memasak," kata Gu seperti dilansir kantor berita AFP.

Gu bukan satu-satunya pengusaha restoran gaya baru. Su Xiousu, 34 tahun, adalah pengusaha restoran tipe lain lagi, yaitu restoran masakan rumah. Ibu satu anak ini memasak di rumahnya, lalu mengirimkannya ke pembeli lewat kurir. Xu adalah satu dari sekitar sejuta ibu rumah tangga yang tergabung dalam Hujia Chifan, aplikasi yang khusus menjual makanan antar yang dibikin di rumah (home made). Aplikasi ini juga menggunakan jasa kurir makanan.

Sejak 2014, sektor bisnis makanan di Cina memang berubah. Kue bisnis jasa antar makanan makin lama makin besar. Dari total 1,4 milyar penduduk Cina, sebanyak 350 juta di antaranya lebih suka memesan makanan antar daripada memasak sendiri. Tidak mengheran bila valuasi pasar bisnis makanan antar di Cina sangat masif, mencapai 297 milyar yuan pada 2017 lalu atau setara Rp629 trilyun. Pada 2018, angkanya diperkirakan meningkat menjadi 360 milyar yuan, atau setara Rp763 trilyun.

Dengan kue bisnis sebesar itu, persaingan di sektor jasa kurir makanan pun makin keras. Demikian kerasnya sehingga perusahaan kurir tidak ragu untuk "membakar" uang buat melenyapkan pesaing.

Pada April lalu, persaingan sektor jasa kurir makanan ini memasuki babak baru. Dua raksasa perusahaan online asal Cina: Tencent dan Alibaba, berhadap-hadapan. Para analis menyebut perang memperebutkan kue bisnis jasa antar makanan ini sebagai perang bisnis terbesar di Cina saat ini.

***

Alibaba membeli Ele.me, perusahaan jasa kurir makanan, dengan total nilai akuisisi mencapai US$9,5 milyar atau setara Rp138,6 trilyun pada April lalu. Menurut data iResearch China Food Delivery Report (2017), Ele.me merupakan perusahaan kurir makanan terbesar di Cina, dengan penguasaan pasar sebesar 41,7%. Posisi kedua dipegang Meituan Dianping, yang dimiliki Tencent, dengan penguasaan pasar sebesar 41%.

Akuisisi Alibaba terhadap Ele.me ini tak pelak menjadikan proxy war antara Alibaba vs Tencent dimulai, dengan bisnis jasa antar makanan sebagai medan pertempuran. Siapa yang menang? Sejauh ini belum terlihat tanda-tanda siapa yang menang atau kalah. Yang pasti, sejak Ele.me dibeli Alibaba, kedua perusahaan ini terlibat perang harga secara gila-gilaan. Keduanya menyubsidi harga makanan antar sehingga menjadi sangat murah, lebih murah dibandingkan dengan memasak makanan sendiri.

"Kalau saya masak sendiri, bisa habis 70 yuan untuk makan siang dan malam. Namun, dengan membeli lewat online harganya 50 yuan untuk dua kali makan," kata Finn Liu, seorang konsumen jasa antar makanan, seperti dilansir Financial Times.

Perang harga yang sudah berlangsung selama lima bulan ini memang menguntungkan konsumen, tapi mulai merugikan para pemain jasa antar makanan itu sendiri. Meituan-Dianping, misalnya, saat ini dikategorikan perusahaan besar dengan valuasi mencapai US$30 milyar (setara Rp437,8 trilyun). Mereka bahkan juga mencatatkan pemasukan sampai US$5,4 milyar atau setara Rp78,8 trilyun pada 2017 lalu.

Tapi, Meituan-Dianping belum menghasilkan profit. Kantor berita Reuters melaporkan, para investor masih mengategorikan Meituan-Dianping sebagai perusahaan rugi. Itu terjadi karena mereka menguras kocek untuk bersaing dengan Ele.me (Alibaba).

September 2018 ini, Meituan-Dianping sebenarnya berencana melakukan penawaran saham perdana (initial public offering-IPO) di bursa saham Hong Kong. Namun, dengan status perusahaan yang masih merugi karena perang harga, banyak analis meragukan keberhasilan IPO itu.

Sebenarnya, perang harga Meituan versus Ele.me bukan fenomena baru. Rakyat Cina sudah beberapa kali menyaksikan fenomena seperti itu. Lazimnya, perang harga akan terus berlanjut sampai salah satu pihak kalah modal, dan setelah itu barulah harga mencapai titik stabilitas. Itulah yang, misalnya, terjadi ketika aplikasi transportasi online, Uber, berperang melawan aplikasi lokal Didi Hailing pada 2014 lalu. Perang itu cuma berlangsung dua tahun. Pada 2016, Uber yang sudah "membakar" uang sampai US$1 milyar atau setara Rp14,5 triliun per tahun, akhirnya menyerah. Mereka keluar dan menjual bisnisnya ke Didi.

Setelah itu, fenomena berikutnya pun mudah ditebak. Ongkos taksi yang selama dua tahun sangat murah selama perang harga itu pun berakhir. Didi langsung menggenjot harga sampai 30% setelah Uber tersingkir. Perang jasa antar makanan antara Meituan dan Ele.me diyakini juga akan mengikuti pola tersebut.

***

Cina bukan satu-satunya negara yang lagi dilanda perang bisnis jasa pengantaran makanan. India juga mengalami fenomena serupa. Saat ini, di India, terdapat dua perusahaan lokal jasa pengantaran makanan: Zomato dan Swiggy, yang juga terus bersaing memperebutkan pangsa pasar pengantaran makanan yang diperkirakan mencapai US$700 juta atau setara dengan Rp10,2 trilyun.

Meski pangsa pasar sektor jasa pengantaran makanan di India tidak sebesar Cina--karena perbedaan jumlah populasi kelas urban--pertumbuhannya per tahun sangat pesat, yakni di kisaran 15%. Kedua perusahaan itu juga menerapkan taktik perang harga, didukung oleh dukungan dana para investor global.

Pada Februari 2018 lalu, misalnya, Zomato mendapatkan dana US$200 juta dari Ant Financial, anak perusahaan dari grup Alibaba. Sedangkan Swiggy, pada Juni lalu, menerima dana US$210 juta dari perusahaan internet asal Afrika Selatan, Naspers Ltd. dan grup investasi asal Hong Kong, DST Global.

Kedua perusahaan itu juga belajar dari taktik perang jasa pengantaran makanan di Cina, terutama konsep restoran yang tanpa ruang makan, alias tidak menerima makan di tempat. Konsep ini sebenarnya populer disebut cloud kitchen, yaitu restoran yang cuma terdiri dari dapur dan dibangun dengan tujuan spesifik melayani pemesanan lewat online.

Menurut situs theeconomictimes.com, perang jasa antar makanan di Cina menunjukkan bahwa konsep cloud kitchen sangat efektif menekan harga. Selain itu, harga makanan antar yang lebih murah juga akan membantu perusahaan yang masih terus "beroperasi rugi" karena terlibat perang harga. Karena itu, baik Zomato maupun Swiggy juga aktif bekerja sama dengan para restoran untuk membangun cloud kitchen demi menunjang bisnis mereka.

Bila Cina dan India masih terus dilanda perang jasa antar makanan, bagaimana dengan Indonesia? Sama juga. Bahkan, tidak hanya Indonesia, beberapa negara Asia Tenggara lain, seperti Malaysia, Thailand dan Pilipina, juga dilanda perang serupa. Bisa dibilang, sektor jasa antar makanan saat ini merupakan salah satu bisnis paling penuh persaingan di Asia.

Foodpanda, raksasa perusahaan jasa pengantaran makanan asal Jerman, misalnya, beroperasi di Malaysia, Thailand, dan Filipina. Di Indonesia, perusahaan ini terpaksa mengibarkan bendera putih karena kalah persaingan melawan GoFood dan GrabFood. Foodpanda masuk ke Indonesia pada 2012, dan pada 2016, mereka hengkang, mengalihkan perhatian ke negara lain.

***

Sinyal bahwa bisnis perlahan akan makin bergeser dari offline menuju online sebenarnya sudah diprediksi pada 2016 lalu. Ketika itu, pada akhir 2016, firma riset McKinsey menerbitkan laporan berjudul "The Changing Market for Food Delivery". Isinya menyatakan bahwa pola bisnis pengantaran makanan kini sudah berubah.

Dulu, bisnis online jasa pengantaran makanan biasanya menganut konsep aggregator, yaitu situs yang menghimpun berbagai data restoran. Sesuai namanya, situs aggregator hanya menghimpun, lalu meneruskan pesanan ke restoran. Pihak restoran yang kemudian mengantarkan pesanan tersebut kepada pelanggan.

Tapi, secara perlahan-lahan, model bisnis itu makin ditinggalkan. Model kedua adalah model perusahaan jasa pengantar makanan yang memiliki jaringan logistik tersendiri. Restoran hanya memasak, selanjutnya perusahaan jasa pengantar makanan yang akan menjemput dan mengirimkan makanan kepada pelanggan.

Model kedua ini akan menggilas model pertama. Yang utama, menurut McKinsey, karena faktor waktu. Model kedua mampu mengantarkan makanan lebih cepat. Survei yang dilakukan McKinsey menunjukkan bahwa kebanyakan konsumen tidak akan menoleransi bila makanan tersebut tiba melebihi sampai satu jam setelah pemesanan.

Survei tersebut, yang dilakukan terhadap 16 negara dalam periode enam bulan, menemukan bahwa pasar jasa antar makanan di Amerika Serikat dan Eropa relatif lebih matang (mature) dibanding di Asia atau Timur Tengah. Ini terlihat dari perbedaan porsi transaksi online versus offline dalam hal pembelian makanan. Di Eropa, porsi transaksi online pembelian makanan sebesar 42%-56% dari semua total transaksi pembelian makanan. Asia dan Timur Tengah diperkirakan juga akan menuju ke sana.

Memang, tidak semuanya berupa dampak positif. Dampak negatif dari perubahan lanskap bisnis jasa pengantaran makanan ini juga ada. Di Cina, misalnya, restoran-restoran kecil yang masih beroperasi secara tradisional dalam artian melayani pengunjung untuk makan di tempat, makin tertekan oleh model bisnis mereka. Perubahan memang sering meminta korban.

Basfin Siregar

***

Para Pemain Jasa Antar Makanan di Asia
Cina: - Ele.me - Meituan - Baidu
India: - Swiggy - Zomato - Foodpanda - FreshMenu - UberEats
Malaysia: - DahMakan - Mammam - Shogun2u - FoodTime - Honestbee - DeliverEat - UberEats -FoodPanda
Thailand: - Line Corp - Foodpanda - UberEats
Filipina - Foodpanda -Chooks-to-go - Grabfood
Vietnam - Foody - Lala - GrabFood
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com