Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Bisnis Pesan-Antar Makanan di Nusantara

Go-Food sebagai penguasa layanan kurir makanan Indonesia berbasis aplikasi daring hendak digeser Grab Food, yang ingin menguasai pasar Asia Tenggara. Positif buat pengembangan usaha UMKM, namun bisa berdampak pada perang harga yang bisa merugikan konsumen.

Selepas magrib, warung nasi goreng Chef Radli di kawasan Jalan Kapin Raya, Jatibening, Bekasi, mulai ramai dikunjungi pengendara Go-Jek. Mereka berjubel di depan pintu masuk, memesan nasi goreng dari tukang masak, yang mantan koki di sebuah hotel besar di Jakarta itu. Para driver Go Jek ini memang bukan mau membeli makanan buat dirinya sendiri. Mereka menyampaikan pesanan dari pelanggan.

Sudah hampir tiga tahun ini Chef Radli menggunakan jasa pemasaran lewat Go-Food, layanan pengiriman makanan yang disediakan aplikasi Go-Jek. Hasilnya, bisnis yang sudah dirintisnya sejak tahun 2002 itu terdongkrak omzetnya. ''Sekitar 30% lebih pesanan dari online,'' katanya.

Pria bernama asli Rady Supardi ini mengaku biasa buka dari jam lima sore hingga pukul empat dini hari. Sehari bisa ada sekitar 20 tukang Go-Jek yang memesan ke warungnya. Satu pengendara Go-Jek bisa pesan lima bungkus. ''Sistem online ini memang sangat membantu jualan saya,'' kata Rady, yang mengaku pernah ditawari Sultan Brunei untuk menjadi koki di istananya.

Penggunaan sistem pengiriman makanan secara online memang memicu gairah bisnis pengusaha sektor makanan skala kecil dan menengah (UMKM) untuk berkembang. Kemudahan dalam kerja sama, juga sistem yang menjanjikan promosi yang lebih luas, membuat para pedagang yang kebanyakan bermodal terbatas itu lebih nyaman menggunakannya.

Go-Food sendiri diluncurkan pada April 2015 lalu. Ketika itu, Go-Food sudah dapat dilayani oleh ratusan ribu armada Go-Jek terdaftar dan telah terintegrasi dengan lebih dari 15.000 tempat makanan di Jabodetabek dalam 23 kategori, mulai warung kaki lima hingga restoran mewah.

Selain Go-Food, perusahaan layanan daring transportasi Grab asal Malaysia, yang telah mengakuisisi bisnis Uber di Indonesia, juga tertarik masuk ke bisnis ini dengan merilis layanan Grab Food pada Mei 2016. Dua tahun kemudian, tepatnya Mei lalu, Grab Food mulai berencana memperluas wilayah jangkauan layanannya sampai 125 kota.

Sebelumnya, wilayah yang sudah mendapat layanan Grab Food adalah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), hampir semua kota besar di Jawa, Sumatera, hingga sebagian kota-kota besar di Kalimantan.

Go-Food dan Grab Food kini memperebutkan pasar yang besar. Tingkat konsumsi yang tinggi, juga pergeseran perilaku konsumen, menjadi alasan layanan seperti ini lebih cepat diterima sebagai solusi gaya hidup di kota-kota besar. Menurut hasil riset dari perusahaan analisis data asal Jerman, Statista, diperkirakan tahun ini pendapatan dari restoran yang menggunakan jasa pengiriman ini di Indonesia bisa mencapai US$1.833 juta. Sementara tingkat pengguna aplikasi pengiriman makanan secara online ini meningkat dari 4,1 juta pengguna di tahun 2016 menjadi 8 juta pengguna pada tahun ini dan 10 juta tahun depan.

***
Berbagai usaha kecil dan menengah sektor kuliner juga terbantu dengan hadirnya berbagai aplikasi yang memudahkan bertemunya penjual dan pembeli ini. Menurut penelitian yang dilakukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), yang diumumkan pada Maret lalu, 82% UMKM yang online mengalami peningkatan volume transaksi. Selain itu, 30% para pemilik usaha kuliner itu mengalami pengurangan biaya, setelah mereka bergabung dengan layanan seperti Go-Food. Selain itu, mitra UMKM dapat beroperasi lebih efisien dan mendapat pangsa pasar yang lebih besar.

Survei yang melibatkan lebih dari 7.500 responden yang terdiri dari 3.315 pengemudi Go-Jek roda dua, 3.465 konsumen, serta 806 mitra UMKM ini juga memperlihatkan jika aplikasi layanan pesan-antar makanan mampu membantu meningkatkan kesempatan usaha bagi mitra UMKM yang baru berdiri. Sebanyak 57% dari mitra UMKM yang disurvei di sembilan wilayah (Jabodetabek, Bandung, Bali, Balikpapan, Yogyakarta, Makassar, Medan, Palembang, dan Surabaya) baru memulai usaha di tahun 2016 dan 2017.

Menurut Peneliti Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana, aplikasi on demand punya dampak sosial ekonomi yang signifikan bagi perekenomian, karena ada perubahan perilaku para pelaku ekonomi. Dampak ke perekonomian antara lain berupa meningkatnya pendapatan para pelaku ekonomi, omzet usaha bagi pebisnis, dan membesarnya volume perdagangan barang dan jasa. ''Juga berdampak pada perubahan kondisi sosial, misalnya aspek ketenagakerjaan berupa meningkatnya partisipasi kerja, meningkatnya kesejahteraan, dan masih banyak lagi,'' Dewa menambahkan.

Bisnis pesan-antar makanan ini juga menarik dikembangkan di kota kecil. Karena, jasa ini memberikan kemudahan dan kecepatan akses. Dari sisi produsen (merchant), jasa ini dapat meningkatkan produksi yang berujung pada meningkatnya profit, tanpa mereka perlu meningkatkan kapasitas gerai dengan memperbesar bangunan restoran, misalnya.
Dari sisi konsumen, jasa ini mempermudah hidup karena meminimalkan waktu perjalanan dan waktu tunggu seperti ketika membeli secara offline. Artinya, ini mengurangi biaya yang dibayarkan konsumen. Konsumen juga dimanjakan dengan pilihan yang lebih luas, karena berarti bisa memesan beberapa produk sekaligus tanpa tergantung pada lokasi outlet.

Menurut data yang dihimpun oleh Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), 30% perekonomian di Indonesia disumbangkan dari usaha kuliner, fashion atau mode, hingga kerajinan tangan. Sekitar 35% dari angka tersebut merupakan sumbangan dari usaha kuliner. ''Penghasilan kotor UMKM untuk usaha kuliner lebih kurang Rp130 trilyun per tahun, di mana 95% didominasi usaha mikro dan kecil,'' ujar Ketua Akumindo, Ikhsan Ingratubun, kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA.

Kecenderungan untuk usaha kuliner, menurut Ikhsan, meningkat akibat tren atau gaya hidup dan media online sebagai instrumen pemasar handal saat ini, yang berdampak langsung kepada jasa kurir atau usaha mikro transportasi online. Sedangkan hambatan pengembangan usaha ini, menurutnya, adalah apabila pemilik usaha masih belum paham akan penggunaan internet dan cara mengemas yang baik. ''Kalau tidak kreatif dalam membuat kemasan dan foto produk dalam mempromosikan secara online ya, susah,'' katanya.
Namun, persaingan bisnis pesan-antar makanan melalui aplikasi ini, di sisi lain, juga berefek pada kenaikan harga. Pemilik aplikasi biasanya memungut 20% hingga 30% dari transaksi yang dilakukan mitra bisnis makanannya. Agar tak rugi, para penjual kemudian memasang harga yang lebih mahal di aplikasi ketimbang jika pembeli datang langsung ke lapaknya.

Keadaan ini, dinilai Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), bisa merugikan konsumen. Karena itu, YLKI meminta supaya aplikator penyedia layanan pesan-antar makanan menjelaskan skema bagi hasil yang dijalankan dengan mitra mereka. Dengan mengetahui detail harga asli makanan dan berapa yang harus dibayarkan pada aplikator, pembeli akan memiliki pilihan yang lebih objektif.

Pungutan yang dilakukan kepada pengusaha kuliner ini juga bisa merugikan konsumen bila tidak ada aturan yang baku. Kasusnya bisa mirip dengan perang harga di bisnis antar penumpang di Go-Jek dan Grab. Misalnya saja, karena persaingan maka ada promosi bebas ongkos pengiriman. Namun, ongkos pengiriman ternyata tetap dibebankan kepada mitra. Hal ini tentu memperlihatkan daya tawar mitra terhadap perusahaan aplikator tidak ada. Solusinya tentu adalah mengalihkan beban itu kepada konsumen.

***

CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, pernah menceritakan, setelah mempelajari pelanggan Go Food, ada kecenderungan orang Indonesia lebih senang makanan kaki lima, meski lokasinya harus masuk ke gang pedalaman. Lewat Go-Food, ia jadi tahu kebanyakan pengguna senang menggunakannya karena dapat menjangkau tempat makan kaki lima yang mereka sukai, meski lokasinya harus masuk ke pedalaman gang.

Dengan adanya perangai konsumen yang unik ini, penjual yang bermodalkan hanya gerobak atau memasak di rumah juga dapat bergabung dan membesarkan industri kuliner Indonesia.

Untuk membuat pengguna aplikasi Go-Jek tetap setia, Nadiem mencoba mengembangkan fitur rekomendasi. Nantinya, pengguna bisa mendapatkan saran makanan yang satu selera dari data pemesanan yang sebelumnya pernah dilakukan. Dengan berbagai jurus ini, layanan Go Food memang terus tumbuh.

Februari lalu layanan G0 Jek secara total telah menjangkau 127 kota besar maupun kecil di Indonesia. Sementara itu, pada tahun ini, mereka menargetkan akan mengekspansi ke 50 hingga 70 kota lainnya.

Chief Commercial Expansion Go-Jek, Catherine Hindra, megklaim Go-Food merupakan layanan pesan-antar makanan terbesar di luar Cina. Saat ini, menurutnya, sudah lebih dari 250.000 merchant yang bergabung dengan G0-Food, dan 80% di antaranya masuk kategori UMKM.

Catherine menambahkan, ekspansi perluasan di sektor UMKM sering terhambat pendanaan, SDM, pengetahuan bisnis, hingga penentuan lokasi jualan, terutama terkait dengan pembukaan cabang baru. Oleh karena itu, ia menambahkan, Go-Jek menghadirkan Go-Food Festival. Para pengusaha UMKM yang menjadi mitra Gojek bisa punya cabang di Go-Food Festival tanpa perlu menyiapkan dana besar untuk sewa tempat dan peralatan. "Mereka cukup menyediakan tukang masak dan bahan makanan, Go-Food Festival yang menyediakan tempat dan peralatan," ujarnya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Yang tidak kalah penting, Go-Food Festival membantu UMKM mendapatkan lokasi yang tepat untuk berjualan. Dengan memanfaatkan big data, tambahnya, providernya akan mengetahui kuliner apa yang cocok dan dinikmati oleh masyarakat sekitar lokasi Go-Food Festival dibuka. Tujuannya, agar semakin membantu UMKM supaya jualannya lebih laris.

***

Mengejar ketertinggalan dari Go-Food, Grab Food kini juga mulai serius memasuki pasar ini. Juni lalu, usai disuntik Toyota Motor Corporation sebesar US$1 milyar di Grab Holdings, perusahaan ini telah memperluas jangkauan layanannya dari dua negara ke enam negara. Menurut Mediko Azwar, Marketing Director, Grab Indonesia, aplikasi Grab telah diunduh sebanyak lebih dari 100 juta kali di perangkat pengguna. Hal ini menjadikan Grab sebagai penyedia layanan transportasi terbesar di Asia Tenggara. ''Saat ini, kami merupakan satu-satunya penyedia layanan pesan antar makanan di Malaysia, Singapura, Vietnam, Indonesia, Pilipina, dan Thailand,'' katanya.

Di Indonesia Grab memperlebar sayap dengan mengajak sektor perbankan untuk membantu pembiayaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) kuliner yang menjadi mitra Grab Food. Salah satunya adalah bersama Bank Mandiri untuk wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Sekitar 800 UMKM kuliner mitra Grab Food menjadi target awal yang mendapatkan pinjaman dari Bank Mandiri dengan plafon maksimal Rp200 juta per mitra dan bunga 7% per tahun.

Melalui kerja sama ini, Grab akan merekomendasikan rekanan Grab Food yang memiliki transaksi aktif kepada Bank Mandiri. Selanjutnya, Bank Mandiri akan menentukan outlet mana yang dapat memperoleh fasilitas kredit dengan skema KUR. Dengan riwayat transaksi aktif dari outlet yang direkomendasikan oleh Grab diharapkan dapat membantu Bank Mandiri meminimalkan peluang terjadinya non-performing loan di kemudian hari.

Sebagai tahap awal, program ini akan menyasar sekitar 1.000 outlet rekanan Grab Food di kota Bodetabek), untuk selanjutnya meluas ke kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Selain itu, ada program pembiayaan Faedah Mikro bersama BRISyariah bagi para merchant Grab Food di Yogyakarta dan Surabaya. Dengan program ini, mitra UMKM akan mendapatkan akses pembiayaan dari Bank BRISyariah melalui dua skema, yaitu KUR Mikro dan KUR Kecil.

Melalui skema KUR Mikro, rekanan Grab Food dapat mengajukan pinjaman maksimum sebesar Rp 25 juta dengan sistem bagi hasil dan masa kepemilikan selama tiga tahun. Sementara itu, rekanan Grab Food dapat mengajukan melalui skema KUR Kecil dengan pinjaman mulai dari Rp25 juta hingga Rp200 juta dengan sistem bagi hasil, dan masa kepemilikan hingga lima tahun.

Mitra Grab Food juga akan mendapat keuntungan lebih, termasuk jaminan sertifikat lahan dan memiliki fasilitas pembiayaan dengan minimum 70% dan pembiayaan maksimum 100% dari nilai aset.

Pengembangan Grab Food dan Grab Pay memang punya tujuan serius. Layanan Grab Food dijadikan sebagai penunjang platform keuangan milik Grab. Grab Pay akan tersedia di negara-negara besar di Asia Tenggara pada akhir tahun 2018.

Penggabungan dengan Uber juga membuat Grab berambisi menjadi platform online-to-offline (O2O) nomor satu di Asia Tenggara sekaligus menjadi pemain utama dalam bisnis layanan pesan-antar-makanan. Di Indonesia sendiri, menurut Mediko Azwar, layanan Grab Food sendiri telah memiliki 60.000 merchant, yang tersebar di 28 kota di seluruh Indonesia.

Target selanjutnya adalah meluncurkan layanan Grab Food di seluruh negara di Asia Tenggara. Termasuk mengembangkan layanan Grab Food ke lebih banyak kota di Indonesia. ''Kami juga menghadirkan inisiatif untuk mendukung tujuan perusahaan yaitu menciptakan peluang pendapatan bagi 100 juta wirausahawan mikro di Asia Tenggara pada 2020,'' ia memaparkan.

Mukhlison S. Widodo, Putri Kartika Utami, dan Fitri Kumalasari

= = =

Fakta Seputar Bisnis Antar Makanan berbasis Aplikasi
Pendapatan Bisnis Pengiriman Makanan
Gerai Makanan Melalui Jasa Pengiriman 2016 US$1.175 juta 2017 US$1.492 juta 2018 US$1.833 juta 2019 US$2.171 juta
Platform (Aplikator) 2016 US$59.6 juta 2017 US$97.8 juta 2018 US$150.2 juta 2019 US$211.9 juta

Pengguna Jasa Pengiriman Makanan
Gerai Makanan Melalui Jasa Pengiriman 2016 27,4 juta 2017 33,38 juta 2018 39,3 juta 2019 45 juta
Platform (Aplikator) 2016 4,1 juta 2017 6 juta 2018 8,3 juta 2019 10,9 juta
Sumber: statistika.com

***

Go-Food:
-Beroperasi di 127 kota di Indonesia -Bekerjasama dengan 250.000 gerai makanan -Kontribusi ekonomi melalui kemitraan dengan UMKM hingga Rp1,7 trilyun bagi perekonomian nasional (Survei LD FEUI) -60% pengguna layanan anak muda. Di mana 35% di antaranya berada di rentang usia 18-25 dan 25% berusia 26-35 tahun. -Aneka menu nasi ayam dan nasi bebek, piza juga pasta menjadi yang paling banyak di pesan saat jam makan.

Grab Food
-Suntikan dana terbesar sepanjang sejarah dari Toyota Motor Cpro sebesar US% 1 milyar -Beroperasi di setidaknya 28 kota di Indonesia -Memiliki kerjasa sama dengan 60.000 merchant -Bekerja sama dengan bank membantu keuangan UMKM -Integrasi Grab Pay dengan Grab Food untuk menguasai pasar Asia Tenggara
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com