Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Gerbang Pemangkas Ongkos Jasa Transaksi

Bank Indonesia mengharuskan semua bank menerbitkan kartu berlogo GPN. Manfaatnya mengurangi biaya fee kepada pemilik logo asing. Baru 1,71% nasabah yang memiliki GPN. Targetnya, 44 juta nasabah.

Tania Vany Ardianti tergolong responsif, terutama soal pengelolaan keuangan. Maka, ketika sejumlah bank mengeluarkan kartu debet baru, yakni Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), perempuan 21 tahun ini langsung mengganti kartu debet lamanya dengan kartu debet berlogo GPN.

Meski belum lama menggunakan kartu barunya itu, Tania mengaku puas. Kalkulasinya muncul. ''Kalau pakai kartu debet biasa, biaya transaksi antarbanknya 1-3%, dengan GPN ini hanya 0,15%. Itu sangat menguntungkan,'' katanya.

Tania berani menyatakan begitu karena telah membandingkan dua kartu debet dari dua bank berbeda miliknya. Satu kartu debet berlogo GPN, satu kartu lagi belum berlogo GPN. Meskipun begitu, Tania melihat ada juga kelemahan dari kartu debet GPN. ''Sepertinya tidak akan saya gunakan di luar negeri, karena kartu GPN belum support buat ke luar negeri,'' ujar Tania.

GPN merupakan sistem yang mengintegrasikan transaksi non-tunai antarbank yang diluncurkan Bank Indonesia sejak Desember lalu. Setiap bank yang beroperasi di Indonesia, wajib menerbitkan kartu debet berlogo GPN. Kartu ini menjadi pengganti kartu debet yang selama ini didominasi kartu debet berlogo provider asing, seperti Visa ataupun MasterCard.

Kartu berlogo GPN yang diterbitkan oleh penerbit domestik dapat terhubung dengan seluruh mesin electronic data capture (EDC) dan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). BI mengklaim dengan GPN, keamanan data nasabah lebih terjaga karena seluruh proses dilakukan di dalam negeri melalui jaringan layanan ATM bersama domestik, seperti ATM Bersama, Prima, Alto, dan Link.

Selain itu, kata Deputi Direktur Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional BI, Aloysius Donanto Herry Wibowo, biaya administrasinya lebih murah. Sebab, seluruh pemrosesan dilakukan di domestik dan bank tidak dikenai biaya lisensi logo.

Sejauh ini, baru 98 bank yang sudah disetujui BI untuk menerbitkan kartu berlogo GPN. Mereka sudah memesan pencetakan kartu. Namun, penerbitan kartu bergantung pada kecepatan vendor dalam mencetak. ''Sehingga bank belum dapat secara optimal memastikan ketersediaan kartu tersebut kepada nasabah,'' kata Donanto kepada GATRA.

Berdasarkan data per 31 Juli lalu, BI mencatat, sebanyak 758.543 kartu berlogo GPN sudah terdistribusi kepada nasabah melalui 68 bank yang telah mendapat izin penerbitan kartu berlogo nasional. Angka tersebut baru 1,71% dari target 44 juta kartu berlogo GPN pada tahun ini. BI juga senantiasa mengimbau nasabah untuk memiliki minimal 1 kartu berlogo GPN pada akhir 2021.

Menurut Donanto, kartu GPN memiliki beberapa manfaat, terutama bagi nasabah. Misalnya, biaya admistrasinya yang lebih murah. Saat ini, penghitungan penghematan atas penurunan biaya administrasi dari kartu berlogo GPN masih bersifat potensial karena review akan dilakukan seiring berjalanannya waktu dan penggantian kartu secara optimal.
Untuk tahun ini, terdapat potensi penghematan Rp44 milyar yang bersumber dari target distribusi yang disampaikan oleh seluruh bank sebanyak 44 juta kartu pada akhir tahun ini. Dari pihak perbankan, ada efisiensi Rp7,23 milyar per hari. Bila dikalikan 365 hari dalam setahun, penghematannya bisa mencapai sekitar Rp2,64 trilyun. ''Nilai tersebut merupakan potensi penghematan secara total industri, bukan satuan bank,'' ujar Donanto.

Angka tersebut bersumber dari seluruh merchant discount rate (MDR) yang sebelumnya dibayarkan kepada prinsipal global, termasuk di dalamnya adalah biaya lisensi. Selain itu, dengan adanya GPN, bank tak perlu berkompetisi dengan bank lain mengenai fasilitas kartunya. Dengan begitu, ongkos promosi pun terpangkas.

Soal kelemahan GPN yang tak bisa digunakan di luar negeri, Donanto menganjurkan nasabah menggunakan kartu kredit, bukan kartu debet . ''Kartu kredit relatif lebih aman dari segi keamanan, terutama dari risiko skimming,'' katanya.

Beberapa bank sudah menerbitkan kartu debet berlogo GPN, di antaranya Bank Mandiri. Kini, bank BUMN itu sudah mencetak kartu debet GPN untuk 500.000 nasabah. ''Target hingga akhir 2018 tiga juta nasabah,'' kata Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, kepada GATRA.

Menurut Rohan, kartu debet GPN Bank Mandiri sudah bisa digunakan di semua jalur EDC dan merchant yang bekerja sama dengan Mandiri. Namun, penggunaannya baru melingkupi kota-kota besar di Indonesia. Untuk EDC bisa digunakan kartu debit GPN, tidak perlu sampai harus mengganti mesin EDC. ''Hanya perlu mengubah setting-an,'' kata Rohan.

Penerapan GPN, lanjut Rohan, menghemat 1-1,5%. Sebagai ilustrasi, kartu debit Mandiri dengan logo Visa ataupun Mastercard, umpamanya, saat digunakan untuk belanja di dalam negeri sekalipun, pihak bank harus membayar biaya kepada Visa atau Mastercard sebesar 2-2,5%. ''Hanya karena ada logo Visa-nya. Walaupun tidak dipergunakan di luar negeri atau antarbank, bank tetap harus membayar royalti kepada Visa,'' tuturnya.

GPN tidak hanya dilakukan oleh bank lokal. Sejumlah bank asing yang beroperasi di Inddonesia juga menerbitkan kartu debet berlogo GPN. Sebut saja Strandard Chartered Bank (SCB). Bank asing asal Inggris ini bekerja sama dengan PT Rintis Sejahtera, selaku provider jaringan ATM Prima.

''Selain mencerminkan kepatuhan bank terhadap regulator, kerja sama ini disepakati dalam rangka mendukung program GPN,'' ujar Rino Donosepoetro, Chief Executive Officer SCB Indonesia. Sebanyak 31.000 nasabah SCB Indonesia, kini, bisa melakukan transaksi lewat ATM di 120.000-an jaringan Prima dan berbelanja di 770.000-an mesin EDC milik jaringan Prima.

Langkah serupa juga dilakukan Citibank Indonesia. Menurut keterangan resmi Citibank, proses penerbitkan kartu debet berlogo GPN selesai per Juni lalu. Seperti SCB, Citibank juga bekerja sama dengan PT Rintis Sejahtera

Aries Kelana, Fitri Kumalasari, Hendry Roris P. Sianturi, dan Putri Kartika Utami
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com