Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Amunisi Capres di Media Sosial

Setelah pengumuman dan pendaftaran pasangan capres dan cawapres kontestan pilpres 2019, Prabowo-Sandiaga unggul di Twitter. Jokowi paling populer, namun menyisakan problem promosi Ma'ruf Amin di media sosial.

Tiga ratus dua puluh pemuda yang diproyeksikan bergabung dalam tim siber Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin berkumpul di Gedung MNC Grup, Jakarta, Kamis pekan lalu. Mereka yang berusia di bawah 35 tahun itu hadir untuk mengikuti pelatihan dan pembekalan awal. Sebanyak 200 orang dari mereka adalah relawan kepanjangan tangan sembilan parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK). Sisanya, relawan dari komponen politik lainnya.

"Jumlahnya belum pasti 320 orang. Akan ada workshop berikutnya,'' kata Wakil Sekretaris TKN-KIK, Verry Surya Hendrawan.

Pelatihan pertama tempo hari, menurut Verry, baru pada tahap penyusunan kriteria umum dan potensi personalia tim media sosial. Belum sampai pemaparan tugas-tugas yang dibebankan pada tim. Namun, sebelumnya, Sekretaris TKN, Hasto Kristiyanto, menyebut tim itu akan bertugas di barisan depan dalam menghadapi serangan isu-isu liar di medsos terhadap pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Tidak hanya menghalau serangan, menurut politikus PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, tim juga bekerja menggenjot kekuatan kampanye kubu KIK untuk mengangkat elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dalam sigi di medsos. Meski banyak menyimpan pertanyaan seputar metodologi, jajak pendapat dalam jaringan selepas pengumuman dan pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU, memperlihatkan popularitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di atas Jokowi-Ma'ruf di medsos.

Contohnya, dan yang menjadi bahan polemik paling menonjol, adalah hasil jajak pendapat oleh akun Twitter @ILC_tvOnenews yang hingga 10 Agustus 2018 menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 63% berbanding elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 26%. ''Bagi saya itu (hasil jajak pendapat ILC) tidak menggambarkan realitas. Itu tak ada metodologinya,'' kata Wakil Sekretaris TKN-KIK, Raja Juli Antoni, kepada wartawan.

Di luar kelemahan metodologi itu, suka atau tidak suka, peran media sosial begitu besar dalam memberi gambaran kemenangan elektoral dalam pemilu. Para praktisi media sosial menyebut kemenangan Barack Obama pada pilpres Amerika Serikat 2008 banyak disumbang oleh peran medsos. Demikian halnya kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton pada pilpres AS 2016.

Itu sebabnya, meski belum seoperasional kubu KIK, tim pemenangan Prabowo-Sandi juga mempersiapkan model kampanye media sosial dalam porsi yang sama besar dengan kampanye konvensional atau tatap muka. ''Anak muda lalu juga emak-emak tentu akan efektif kita konsolidasikan di dua tempat: medsos dan tatap muka,'' ujar Wasekjen Gerindra, Andre Rosiade, kepada Dara Purnama dari GATRA.

Direktur Eksekutif PoliticaWave, Yose Rizal, menjelaskan urgensi kedua kubu mempersiapkan amunisi untuk laga kontestasi pilpres 2019 di ranah medsos. Berdasarkan pengamatannya, sejak pilgub DKI 2012, melalui relawan pasangan Jokowi-Ahok, kontestasi politik berbasis kampanye digital sudah efektif memperlihatkan hasil signifikan. ''Hasilnya menunjukkan kesesuaian bahwa yang menang di medsos juga menang di dunia nyata,'' kata Yose.

PoliticaWave menyebutkan, sejauh ini Twitter dan Facebook sebagai platform utama yang digunakan dalam kampanye politik di Indonesia. YouTube dan Instagram tidak terlalu banyak digunakan.

Data lanskap digital Indonesia 2018 yang dikeluarkan We Are Social, menyebutkan, dari 265 juta penduduk Indonesia, 49% di antaranya (130 juta jiwa) adalah pengguna aktif medsos. Dan empat aplikasi jejaring sosial paling banyak digunakan orang Indonesia, secara berturutan, adalah Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter.

Dalam pantauan Yose, di Twitter, setelah pendaftaran kandidat capres-cawapres ke KPU tempo hari, pergerakan media sosial menyangkut elektabilitas, popularitas dan sentimen terhadap kedua pasangan masih sangat dinamis. Banyak warganet yang terkage-kaget dengan keputusan Jokowi memilih Ma'ruf Amin di tengah popularitas Mahfud MD sebagai kandidat cawapres kuat sebelumnya.

Sementara itu, dari kubu Prabowo, sentimen soal Jenderal Kardus versus Jenderal Baper juga melahirkan flktuasi sentimen di kalangan warganet. ''Masih dinamis. Tapi tanggapan atas Jokowi-Ma'ruf Amin lebih bergejolak,'' katanya.

Temuan Indonesia Indicator lebih rinci. Menurut Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang perbincangan dan sentimen terhadap dua pasangan calon di Twitter dan Facebook relatif berimbang. ''Kondisi ini dipastikan akan terus terjadi hingga pilpres 2019,'' katanya.

Di Twitter pada kurun waktu 10-18 Agustus 2018, terdapat 776.078 perbicangan dari 99.755 akun yang membahas Jokowi-Ma'aruf dan 624.730 percakapan dari 65.723 akun yang membicarakan Prabowo-Sandiaga.

Dalam hitungan terpisah, dari lebih 98.000 akun yang membicarakan Jokowi, sang petahana meraup 44% sentimen positif dan 28% sentimen negatif. Sementara dari lebih 52.000 akun yang membicarakan Prabowo, sang penantang mendapat 47% sentimen positif dan 19% sentimen negatif.

Keunggulan koalisi pendukung Prabowo di medsos juga tampak pada sentimen positif terhadap sosok cawapres Sandiaga Uno yang mengail 46% sentimen positif dan 19% sentimen negatif. Adapun Ma'ruf Amin dengan 39% sentimen positif dan 29% sentimen negatif,

''Emosi negatif netizen pada Ma'aruf Amin sempat meninggi pada tanggal 11 dan 15 Agustus. Hal ini dipicu oleh pernyataan dari Mahfud MD,'' kata Rustika kepada Riana Astuti dari GATRA.

Meski ''tertinggal'' di Twitter, secara umum (dengan mempertimbangkan platform Facebook dan Instagram), hingga 18 Agustus lalu, Jokowi-Ma'aruf mendapat perhatian warganet sebanyak 57,5% lebih unggul daripada Prabowo-Sandi yang hanya memperoleh 42,5%. ''Penentuan pemenang belum bisa dipastikan,'' Rustika melanjutkan.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan fasilitas pemonitoran media sosial Drone Emprit, pada periode 17 - 21 Agustus 2018, di Twitter, keunggulan Prabowo-Sandi (sebagai pasangan calon) jauh di atas Jokowi-Ma'ruf. Percakapan tentang Prabowo-Sandi sebanyak 135.000 kali, sementara Jokowi-Ma'ruf diperbicangkan 74.000 kali. "Prabowo-Sandi lebih populer di Twitter,'' kata analis Drone Emprit, Hari Ambari.

Meski begitu, jika ditinjau per nama calon, Jokowi paling populer dengan satu juta percakapan. Disusul oleh Prabowo dengan 326.000 mentions, Sandiaga dengan 203.000 percakapan dan paling buncit, Ma'ruf Amin dengan 59.000 obrolan. Dari data itu, menurut Hari, promosi Ma'ruf Amin di media sosial menjadi pekerjaan rumah bagi tim pemenangan Jokowi.

Secara umum, Drone Emprit menyimpulkan bahwa di media sosial, saat ini, kedua kubu pendukung pasangan calon masih saling serang dan bertahan. Melalui, antara lain, tagar ''#Polling (yang banyak memenangkan Prabowo-Sandi di medsos)'', ''#2019GantiPresiden'', dan ''#2019PrabowoSandi'', media sosial terekam lebih agresif mempromosikan Prabowo-Sandi dibandingkan petahana.

Pola yang diterapkan para promotor Prabowo-Sandi itu pada sisi lain terbaca sebagai serangan agresif terhadap Jokowi-Ma'ruf di media sosial. Tidak mengherankan jika tagar yang menonjol dan populer terekam dari sisi petahana adalah, antara lain: ''#Polling'' dan ''#2019GantiPresiden", selain yang cenderung positif terhadap petahana seperti ''#Jokowi'' dan ''#Pilpres2019''. ''Jika kondisi seperti ini bertahan, ada potensi pilpres 2019 akan lebih ketat dari pilpres 2014,'' kaya Hari.

Bambang Sulistiyo, Aditya Kirana, Andhika Dinata, dan Hidayat Adhiningrat P.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com