Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PARIWARA

Tidak ada Toleransi dalam Urusan Keselamatan

''Core business dalam industri penerbangan adalah safety. Tidak ada toleransi dalam urusan keselamatan, ini no go item, harus dipenuhi bila ingin terbang!''

Dalam rangka mengimplementasikan salah satu pilar dalam safety management system (SMS) yaitu safety promotion dan guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap dunia penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJPU), Kementerian Perhubungan RI, menyelenggarakan kampanye keselamatan penerbangan. Kampanye dilaksanakan pada masa angkutan udara Natal dan Tahun Baru 2019, yaitu pada 15 Desember 2018 sampai dengan 3 Januari 2019.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti, menegaskan bahwa keselamatan penerbangan mendapat tempat yang sangat prioritas. ''Core business kita dalam industri penerbangan adalah safety. Dalam penerbangan tidak ada toleransi dalam urusan keselamatan, alias harga mati untuk keselamatan," katanya

Polana menuturkan, kampanye keselamatan telah diawali dengan kegiatan ''Aviation Goes to School'' pada 6 Desember yang lalu. Dihadapan sekitar 500 siswa-siswi SMA se-Jabodetabek, Ditjen Perhubungan Udara menggandeng Badan Pengembangan SDM Perhubungan memperkenalkan dunia aviasi untuk menumbuhkan kecintaan sejak dini. Setelah dengan siswa siswi SMA, dilakukan penandatanganan ''safety commitment'' oleh para pimpinan operator penerbangan dengan Dirjen Perhubungan Udara dan disaksikan oleh Menteri Perhubungan pada Pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Tahun 2018, pada 6 Desember 2018.

Rangkaian acara kampanye keselamatan akan diikuti promosi bellow the line dengan melakukan tatap muka langsung dengan para calon pengguna jasa penerbangan. Acara itu diselenggarakan oleh para operator maskapai penerbangan yang bekerja sama dengan operator bandar udara di Terminal 1, 2 dan 3 Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

''Kita meminta seluruh kantor otoritas bandar udara dan kantor unit penyelenggara bandar udara, selama masa angkutan udara Natal dan Tahun Baru 2019 untuk menyelenggarakan safety campaign ini, berupa kegiatan 'Aviation Goes To School' dan 'Promosi Tatap Muka' dengan membuka booth di terminal bekerja sama dengan operator maskapai penerbangan di wilayah kerja masing-masing,'' ujar Dirjen Polana.

Dirjen Polana mengatakan, pengelolaan transportasi udara telah diatur secara terperinci baik yang terkait dengan pesawat , bandara, maupun lalu lintasnya. Semuanya memiliki standar keselamatan dan keamanan yang ditetapkan secara internasional oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau ICAO. Indonesia sebagai salah satu negara anggota ICAO berkewajiban untuk selalu mengikuti standar-standar tersebut dan mengimplementasikannya dalam menjalankan bisnis penerbangan di Tanah Air.

Aviation Goes to School Kegiatan "Aviation Goes To School" berlangsung pada 6 Desember 2018 diikuti oleh sekitar 500 peserta dari SMA se-Jabodetabek. Acara itu diselenggarakan di SMESCO SME Tower Jalan Gatot Subroto Jakarta. Penyelenggaranya adalah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan BPSDM Perhubungan dan civitas academica sekolah menengah atas di Jabodetabek. Dunia akademis dinilai sebagai agen perubahan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang transportasi udara yang mengutamakan keselamatan, keamanan, dan pelayanan.

Polana mengatakan, tujuan dari kegiatan Aviation Goes to School ini adalah memperkenalkan dunia penerbangan kepada generasi muda sedini mungkin supaya memunculkan ketertarikan dan kecintaan terhadap dunia penerbangan. ''Angkutan udara itu memiliki keunggulan dalam kecepatan dan mampu mengatasi kendala geografis. Namun sistem transportasi udara itu sangat kompleks: mengandalkan teknologi modern, menggunakan pesawat udara sebagai alat angkutan, bandara sebagai terminalnya, dan ruang udara sebagai jalannya. Transportasi ini membutuhkan sistem navigasi dan alat telekomunikasi yang canggih untuk memandu jalur penerbangannya,'' kata Polana.

Polana juga mengingatkan para pelajar yang akan ke melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat udara, untuk wajib menaati peraturan penerbangan dan mengikuti seluruh petunjuk yang diberikan oleh para petugas di bandara dan di dalam pesawat udara. ''Dengan menaati peraturan dan mengikuti semua petunjuk, berarti telah berkontribusi positif terhadap terciptanya keselamatan dan keamanan penerbangan,'' kata Polana.

Polana juga memberikan penjelasan tentang pembangunan bandara-bandara baru di Indonesia serta jumlah pelayanan maskapai penerbangan yang meningkat. Hal itu merupakan hasil dari kerja pemerintah untuk menciptakan keterhubungan antar-wilayah di Indonesia. ''Kementerian Perhubungan telah membangun bandara-bandara di tempat terpencil, terdepan, rawan bencana dan terisoliasi agar jasa penerbangan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia,'' ujar Polana.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa aktivitas penerbangan yang tinggi, tentunya membutuhkan personel-personel penerbangan yang berkompeten di bidangnya dan tangguh. Untuk itu, Polana mengajak para peserta untuk memilih profesi dalam dunia penerbangan yang bisa dipilih sebagai cita-cita mereka kelak. ''Kalian bisa menjadi pilot, ahli teknik pesawat udara, air traffic controller, ahli yang membangun bandar udara dan manajemen bandar udara,'' kata Polana.

Masa Angkutan Natal dan Tahun Baru 2019
Memasuki masa libur panjang sekolah serta libur dalam rangka perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menetapkan 18 (delapan belas) hari masa angkutan udara Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang akan jatuh pada 20 Desember 2018 - 6 Januari 2019.

Polana menjelaskan bahwa ia telah megeluarkan Instruksi Dirjen Perhubungan Udara Nomor: INST 09 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Angkutan Udara Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 tanggal 26 November 2018 yang ditujukan kepada jajaran Ditjen Hubud dan para operator penerbangan untuk meningkatkan keselamatan, keamanan dan pelayanan penerbangan selama masa Nataru tersebut.
''Kepada para direktur, kepala kantor otoritas bandara (OBU), kepala kantor unit penyelenggara pelabuhan (UPBU), penyelenggara navigasi penerbangan, pimpinan badan usaha bandara (BUBU) dan pimpinan ground handling, saya minta untuk meningkatkan keselamatan, keamanan dan pelayanan penerbangan di seluruh wilayah dengan titik pengendalian pada 36 bandara,'' ujar Polana.

Polana mengatakan bahwa pihaknya telah membagi pengawasan tersebut ke dalam beberapa sub-sistem agar tiap-tiap unit dapat lebih fokus. Pertama, kepada airlines, Polana menginstruksikan untuk mengambil langkah-langkah antara lain untuk mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan, melakukan check and recheck kesiapan armada dan krunya, menyampaikan rencana operasi termasuk rencana penambahan kapasitas selama masa angkutan Nataru serta menggunakan semaksimal mungkin semua saluran informasi yang ada temasuk media sosial sebagai media penyebarluasan informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat pengguna jasa penerbangan.

''Airlines agar memberlakukan tarif sesuai aturan yang berlaku, memberlakukan sistem reservasi dan transfer/transit penumpang dengan efektif dan efisien dan jika terjadi keterlambatan agar airlines mematuhi ketentuan kompensasi keterlambatan,'' kata Polana.

Kepada para operator bandara, Polana telah menginstruksikan untuk mengoptimalkan sistem keamanan bandara dan sistem keamanan penerbangan. Para operator diminta untuk melakukan langkah-langkah untuk memastikan kemampuan dan kapasitas operasi bandar udara terkait fasilitas, personel dan prosedur serta meninjau dan memastikan tingkat keselamatan, keamanan dan pelayanan di bandar udara terkait operasi pesawat udara, penumpang dan barang.

''Saya minta para petugas di bandar udara lebih pro-aktif dalam membantu kelancaran pelayanan kepada penumpang dan meningkatkan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan,'' ucap Polana. ''Mengoptimalkan penggunaan slot bandar udara, bila ada perubahan jam operasi agar segera dipublikasikan melalui NOTAM.''

Kepada OBU, Polana berpesan agar mengawasi kesiapan bandara yang berada dibawah wilayah kerjanya secara keseluruhan termasuk peralatan dan personelnya. OBU juga diminta untuk mengawasi kesiapan operator penerbangan beroperasi di wilayahnya termasuk kesiapan armada dan crewnya.

''Kantor OBU saya minta untuk mengawasi keringatan harga tiket serta optimalisasi slot time di bandara. Segera bentuk posko dan bila ada peristiwa-peristiwa penting agar dilaporkan kepada posko pusat.'' kata Polana.

Bagi penyelenggara navigasi penerbangan, Polana meminta untuk mengoptimalkan sistem pelayanan navigasi penerbangan serta memastikan kemampuan dan kapasitas pelayanan nasvigasi penerbangan baik fasilitas, personel maupun prosedur pelayanan. Selain itu, penyelenggara navigasi penerbangan juga diminta untuk memastikan tingkat availability, reliability dan integrity dalam pelayanannya. Tugas penyelenggara navigasi penerbangan adalah memandu lalu lintas penerbangan, komunikasi penerbangan serta memberikan pelayanan informasi aeronautika, semua telah ada standar dan prosedur jyang wajib dipatuhi. Polana mengingatkan untuk mengantisipasi adanya gangguan frekuensi selama angkutan Nataru serta menjamin konektivitas komunikasi satelit tetap berlangsung dengan baik.

''Semua laporan hasil kegiatan dan data Nataru dapat disampaikan melalui aplikasi sisfoangud. Saya ingatkan, core business dalam penerbangan adalah safety. Kita punya 3S+1C (safety, security, services + compliance), namun yang terpenting adalah keselamatan.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com