Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Darmin Nasution: Ramuan Terakhir Darmin Atasi Defisit Dagang

Demi membenahi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), pemerintah kembali mengeluarkan paket kebijakan ekonomi ke-16. Paket ini berisi berbagai kebijakan yang diharapkan dapat menyegarkan cadangan devisia. Salah satunya, meningkatkan cadangan devisa lewat pengaturan devisa hasil ekspor (DHE). Para eksportir hasil sumber daya alam diwajibakan memasukkan dolarnya ke dalam sistem keuangan Indonesia (SKI). Nantinya, kebijakan ini akan dipayungi Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri Keuangan (PMK), dan Peraturan Bank Indonesia.

Selain itu ada kebijakan untuk menarik modal dari luar negeri ke Indonesia atau semacam penggoda investor. Pemerintah memberikan perluasan fasilitas pengurangan pajak penghasilan badan atau tax holiday dan merelaksasi daftar negatif investasi (DNI). “Untuk memberikan kenyamanan kepada pemilik dana sehingga mereka masuk,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Darmin Nasution, di Istana Negara.

Selama pemerintahan Joko Widodo, Darmin mengaku, kabinet ekonomi memang kurang inovatif memainkan kebijakan fiskal untuk menarik capital inflow. Nah, paket kebijakan ke-16 ini diharapkan bisa menarik lebih banyak lagi modal luar. Sehingga penguatan ekspor dan subtitusi impor lebih optimal. Alhasil, CAD bisa diperbaiki baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Berikut tanya-jawab Darmin dengan wartawan Istana Negara, termasuk Hendry Roris Sianturi dari GATRA, dalam konferensi pers di Istana Negara, Jumat pekan lalu:

Bagaimana paket ekonomi ke-16 ini bisa memperbaiki CAD?

Kalau investasi yang masuk ini jangkanya lebih menengah, tidak bisa langsung bulan depan. Tapi dengan ini semua akan menigkatkan kepercayaan investor pemilik dana, sehingga capital inflow akan berlanjut. Apalagi, market sudah yakin bahwa rupiah itu terlalu murah. Itu dia inti kebijakan ini supaya tidak terlalu lama.

Mengapa defisit perdagangan migas tidak dibenahi?

Ini memang tidak untuk migas. Kebijakan kita kan sudah dibuat, yaitu B20. Jadi kita nanti, dalam beberapa hari, kita sedang collect datanya dari Bea dan Cukai, raw datanya, jadi kita tahu impor solar berapa. Sekarang bunyinya kan masih BBM yang untuk semua.

Sejauh ini kebijakan mandatory B20 belum menunjukan dampak mengurangi defisit perdagangan sektor migas?

Kalau di dalam, kita sudah punya angka, tetapi kita mau lengkapi dengan impor Pertamina. Ada 12 importir lainnya, kita cari tahu juga, baru nanti kesimpulannya bisa keluar. Mungkin Senin atau Selasa bisa tahu.

Tapi untuk mengatasi defisit migas tidak bisa hanya dengan mandatory B20?

BBM ini kan digunakan oleh seluruh masyarakat kan? Jadi yang kita kurangi, hanya penghematan penggunaan solar. Kemudian harga non-subsidi sudah naik. Dua itu semestinya sudah cukup. Kita sekarang ini hanya fokus investasi, menambah confidence investor portofolio juga masuk.

Bukannya dengan relaksasi DNI, membuka keran invasi modal asing?

Meningkatkan PMA kita ke dalam negeri, tapi juga meningkatkan produksi dalam negeri dan menurunkan impor. Kita ingin investasi memang masih besar baik dalam negeri maupun PMA.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com