Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MULTIMEDIA

Solusi Lokal untuk Gaming Hemat

Skyegrid muncul sebagai disrupsi di industri video game. Tidak perlu keluar biaya besar untuk menikmati game berspesifikasi tinggi. Cita-citanya menjadi ekosistem game lokal.

Perkembangan teknologi saat ini membuat disrupsi, mungkin terjadi di berbagai lini. Salah satu yang baru-baru ini tak luput dari disrupsi itu adalah video game. Bila dulu bermain video game (gaming) berkualifikasi triple A (AAA) hanya bisa dilakukan via konsol atau komputer, kini sudah bisa dilakukan dengan ponsel pintar.

Terobosan di dunia gaming itu muncul dari Skyegrid, perusahaan rintisan (startup) yang digawangi Rolly Edward dan lima kawannya. Ketika ditemui GATRA di kantornya, dua pekan lalu, Rolly mengungkapkan keinginannya untuk membuktikan bahwa hobi main game bisa menghasilkan sesuatu. “Dari game juga bisa bikin uang,” kata Rolly.

Sambil mencontohkan operasional Skyegrid, atau dengan kata lain sambil bermain game, Rolly menjelaskan bahwa konsep Skyegrid adalah cloud gaming. Dengan konsep ini, penyedia game menjalankan game di servernya sendiri, lalu pengguna mengakses permainan tersebut via internet. Pengguna tidak perlu mengunduh atau menginstal game tersebut di komputer atau konsol mereka.

Saat bermain, perintah dari keyboard atau mouse si pengguna diteruskan lewat jaringan data, yang kemudian diterjemahkan menjadi gerakan atau aksi dari tokoh yang sedang dimainkan. Karena itu, pengguna Skyegrid tidak perlu perangkat keras berspesifikasi khusus untuk bisa memainkan game berperingkat triple A seperti Fortnite, Grand Theft Auto V, Ghost Recon, Asassins Creed Origins, Far Cry 5, dan masih banyak lagi.

Padahal, agar bisa memainkan game kualifikasi triple A tadi, pengguna membutuhkan konsol seperti Sony Playstastion 4 atau Xbox yang harganya minimal Rp3,5 juta. Atau butuh komputer berkualifikasi game yang harganya bisa di atas Rp10 juta. Belum lagi membeli CD atau software yang harganya ratusan ribu rupiah.

Kerepotan lain dari bermain game secara konvensional adalah kebutuhan untuk menyediakan perangkat keras pendukung, seperti kartu videografis (videographic card) dan ruang di hard disk.

Di Skyegrid, pengguna bisa memilih paket yang sesuai dengan kantong atau intensitas bermain game-nya. Meski saat ini mereka baru menyediakan satu paket, yakni Rp179.000 untuk 30 hari berlangganan. Dengan uang itu, pengguna bisa mengakses seluruh game yang ada di rak koleksi Skyegrid, dan juga ruang untuk menyimpan kemajuan gamenya. Sehingga pengguna tidak perlu bermain dari awal lagi bila game terputus di tengah jalan.

Rolly menuturkan, awalnya Skyegrid adalah proyek tugas akhir kuliahnya pada 2007 silam. Ketika itu, ia ingin membuktikan bahwa video game yang diinstal di satu PC bisa dimainkan secara realtime di PC lainnya. Butuh waktu sekitar 10 tahun bagi Rolly untuk mematangkan konsep Skyegrid.

Setelah mendapat investor, Skyegrid mulai masuk tahap beta testing pada Mei 2018 dan diluncurkan ke publik pada Agustus 2018. Akan tetapi, Rolly masih tutup mulut tentang investor dan besaran investasi yang sudah digelontorkan.

Dalam waktu sebulan, aplikasi Skyegrid sudah diunduh lebih dari 10.000 kali di Google Playstore. Dan hingga saat ini, mereka sudah mengoleksi hampir 70 judul di rak game-nya. Selain bisa dimainkan di ponsel, Skyegrid juga berbasis WebOS sehingga bisa dimainkan di komputer dengan sistem operasi Windows 7 ke atas atau MacOS. “Kalau di AppStore masih dalam tahap approval,” kata Rolly.

Akses game via ponsel pintar itulah yang membedakan Skyegrid dengan plaform cloud gaming lainnya. Karena konsep cloud gaming itu sebenarnya bukan barang yang baru-baru amat. Sebelumnya sudah ada penyedia layanan serupa, misalnya NVIDIA GeForce Now, Parsec, Vortex, Liquidsky, atau Emago yang merupakan buatan lokal. Meski sudah lebih dulu ada, platform penyedia cloud gaming itu hanya bisa dijalankan di komputer, baik itu PC maupun laptop.

Bagi pengggemar game, Skyegrid bisa menjadi solusi bermain game tanpa harus berinvestasi mahal di peranti keras pendukung. Bermain game juga bisa dilakukan di mana saja lewat ponsel pintar.

Di luar keunggulannya, cloud gaming seperti Skyegrid juga punya kelemahan. Salah satu yang paling vital adalah ketergantungannya pada konsistensi jaringan internet. Di saat koneksi sedang payah, sensasi bermain game akan terganggu karena gerakan tokohnya patah-patah.

Agar bisa merasakan permainan yang mulus di PC, Rolly menyarankan agar pengguna memiliki jaringan berkapasitas minimal 10 megabyte per second (Mbps). Sedangkan untuk ponsel pintar, disarankan terhubung pada jaringan berkapasitas minimal 1 Mbps.

“Cita-cita kami tidak berhenti pada cloud gaming, tapi juga menciptakan ekosistem game lokal,” kata Rolly, mewakili tim Skyegrid. Ia berharap popularitas Skyegrid bisa memikat pengembang game lokal Indonesia untuk turut memajang permainan mereka di rak koleksi Skyegrid. Bila itu dilakukan, maka game lokal akan bisa diakses gamers dari seluruh dunia. “Kami jadi etalase game lokal,” ia menimpali.

Perkembangan menjadi publisher game itulah yang menurut Chief Commercial & Business Development Officer Skyegrid, Erwin Pandjaitan, berpotensi menjadi sumber uang atau monetisasi Skyegrid ke depan. “Tapi sekarang, kami fokus menggaet pengguna sebanyak-banyaknya terlebih dahulu,” kata Erwin.

Bagi pengembang game, Skyegrid dan perkembangan cloud gaming pada umumnya juga punya sisi positif. Yakni, bisa menghemat biaya produksi karena tidak perlu lagi pengembangan khusus bagi tiap-tiap konsol. Sebelumnya tiap game butuh pengembangan khusus agar bisa dimainkan di konsol atau PC, tapi dengan gloud gaming pengembang cukup membuat satu game dan bisa dimainkan lintas platform.

Inovasi yang awalnya bersifat disrupsi ini diprediksi juga akan menjadi masa depan video game. Karena kabarnya, raksasa teknologi informasi seperti Microsoft, Google, atau pengembang game besar seperti Electronic Arts juga berencana mengembangkan lini cloud gaming.

Pada saat peluncuran Skyegrid pada Agustus lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang turut hadir mengungkapkan bahwa konsep startup ini adalah contoh dari economy sharing. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga berharap agar Skyegrid bisa merangsang pengembang game lokal. Sehingga Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen saja di industri game ini. "Kita akan dorong game ini suatu saat menjadi devisa besar di negara kita," kata Rudiantara.

Senada dengan Menkominfo, Direktur Infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Muhammad Neil El Himam, menuturkan bahwa Skyegrid sangat mungkin menjadi nafas baru bagi industri game, khususnya pengembang game lokal di masa depan.

Berdasarkan data yang ia miliki, per 2017 lalu nilai pasar video game di Indonesia diperkirakan mendekati US$900 juta, atau sekitar Rp13 trilyun. Sedangkan porsi lokal kurang dari 5%. "Saya berharap, keberadaan Skyegrid bisa terus menggenjot porsi lokal, dari 5% jadi 10%, 20%, dan seterusnya, hingga para developer lokal tuan rumah di negeri sendiri,” kata Neil, yang juga hadir di peluncuran Skyegrid.

Cavin R. Manuputty

Cover Majalah GATRA edisi No.5 / Tahun XXV / 29 Nov - 5 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Infoproduk
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com