Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS II

Sungai Jakarta Tercemar Parah

Status sungai di Jakarta berada dalam tahap mengkhawatirkan. Data penelitian Dinas LH Pemprov DKI membeberkan kualitas 61% sungai DKI tercemar berat. Beberapa terobosan dilakukan salahsatunya dengan membangun model sewerage system hingga meningkatkan edukasi masyarakat

Air di sungai Jakarta tercemar berat. Pernyataan itu merujuk penelitian yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI, Januari silam. Penelitian mengambil 90 titik sampel dari 20 sungai di Jakarta. Hasilnya, 61% sungai tercemar berat, 27% tercemar sedang, dan 125 sungai tercemar ringan. Indeks pencemaran tertinggi pada Sungai Ciliwung. Diikuti sungai lain: Mookervaart, Cipinang, Angke, Grogol, dan Sunter.

Hasil penelitian itu menggambarkan status gawat sungai-sungai di Jakarta. Dari hasil penelitian ditemukan pula kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel sungai di Jakarta. Selain dari paremeter kontaminan lain yang dominan semisal timbal (Pb), BOD, dan COD. Sejauh ini bakteri E. coli menjadi biang penyakit yang menyerang saluran pencernaan manusia seperti: kolera, tifus, disentri, diare, dan penyakit cacing.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji, tingkat pencemaran di sungai Jakarta sudah parah, tersebar di semua wilayah Jakarta. “Terutama di daerah permukiman padat. Misalnya Tambora, Tanjung Priok, Koja dan Cakung,” ia memaparkan.

Ada banyak penyebab buruknya baku mutu air sungai Jakarta. Di antaranya karena laku industri rumahan yang kerap membuang limbah ke sungai tanpa olahan. Faktor lain lebih karena banyaknya septic tank yang tidak komunal dan terstandardisasi. "Intinya, jika ada sungai yang ada home industry-nya, biasanya di situ kualitas baku mutunya enggak bagus,” kata Isnawa.

Tidak hanya Ciliwung yang menjadi top of problem pencemaran. Kemiripan yang sama juga ditemukan pada sungai-sungai lain. Dalam bahasa Isnawa, ada siklus beruntun dari hulu ke hilir untuk kasus pencemaran sungai ini. Bila hulunya sudah tercemar maka hilir juga akan sama. “Semua sungai yang ada di Jakarta enggak ada yang seratus persen (alirannya) dari Jakarta. Kita sangat tergantung apa yang dilakukan di daerah penyangga,” ia menambahkan.

Merujuk pada proyek penelitan pengembangan masterplan pengelolaan limbah domestik di Jakarta yang dilakukan oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) pada 2010, ada tiga kategori limbah yang menumpuk di sumber perairan Jakarta.

Pertama, limbah grey water. Yakni limbah air sisa dari kegiatan mandi dan cuci. Kedua, limbah jenis black water feses atau limbah yang berasal dari feses atau kotoran manusia. Ketiga, limbah industri.

Berdasarkan literatur JICA itu sebagian besar limbah di Jakarta berasal dari wilayah pemukiman (72,7%). Sementara limbah perkantoran atau komersial berkontribusi sebesar 17,3%. Limbah tersebut dominan menghasilkan buangan berupa grey water dan black water. Sementara limbah industri turut mengontaminasi dengan angka kontribusi sebesar 9,9%. "Ini juga fakta menarik bahwa ternyata sungai-sungai kita menjadi tempat pembuangan air limbah yang sebagian besarnya berasal dari permukiman, kegiatan kesehariannya kita," Isnawa menambahkan.

Solusi paling ideal untuk mengatasi masalah limbah di Jakarta adalah membangun sistem perpipaan air limbah yang dikenal sebagai sewerage system. Dalam konsep itu, semua limbah dari berbagai sumber dikumpulkan melalui pipa saluran khusus kemudian dialirkan ke pembuangan.

Kota-kota maju di dunia telah memiliki sewerage system tempat mengumpulkan dan menyalurkan semua limbah ke pembuangan. Sedangkan drainase dan sungai itu benar-benar untuk mengalirkan air dari hujan.

Pengamat lingkungan Ignasius Sutapa mengatakan, tata kelola sungai Jakarta harus menjadi fokus utama Pemerintah DKI. Ia menyebutkan masalah tata kelola air di Jakarta tidak boleh berhenti pada penanganan banjir, tapi juga terfokus pada penanganan lingkungan dan pencemaran sungai. “Water-related diseases itu kan banyak apabila lingkungan itu tidak terkelola dengan baik. Kalau dihitung angka kerugian akan lebih mahal,” tuturnya.

Kualitas baku mutu air sungai yang terus memburuk, menurut Ignasius, juga harus menjadi fokus perhatian. Pakar tata air yang juga peneliti dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI itu menyebut kualitas air baku di Jakarta rata-rata tercemar. Jakarta selama ini mengandalkan Ciliwung sebagai sumber air baku utama. Namun pada waktu kemarau debit air di Ciliwung menurun sementara aktivitas pembuangan limbah masyarakatnya terus berjalan. "Kalau Jakarta air bakunya sudah tercemar. Artinya, air baku itu sudah keluar dari standar yang diharapkan,” Ignasius menjelaskan.

Igansius mendukung jika Pemprov DKI mengupayakan gagasan sewerage system. Menurutnya, ciri negara maju adalah yang tidak mengizinkan ada limbah baik padat ataupun cair keluar dari rumah. ”Kalaupun keluar, dia masuk ke treatment. Tidak ada yang tiba-tiba throw-away masuk ke saluran air,” ujarnya.

Pembangunan sewerage system harus diimbangi dengan pemangkasan sumber tercemar. Sebaik apa pun teknologi yang digunakan di sungai, jika sumber pencemarannya tidak diatasi maka akan tetap terjadi masalah. Karena itu, masyarakat perlu diberi pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai. Jika masalah-masalah mendasar sudah berhasil diatasi, sungai dapat disulap menjadi objek wisata yang indah seperti sungai-sungai di Korea Selatan, Cina, dan Jepang.

Anggota Komisi D DPRD DKI, Bestari Barus, menegaskan bahwa pihak legislatif telah mendorong agar persoalan pengelolaan sungai di Jakarta terselesaikan. Bahkan menurutnya, Pemprov DKI sudah memiliki anggaran pengelolaan sungai dan pantai sebesar lebih dari Rp2 trilyun. Anggaran tersebut masih akan ditambah bila pemprov sepakat menjadikan pengelolaan sungai sebagai fokus. “DPRD dalam hal ini tidak pernah menghalangi atau mengadang anggaran untuk urusan yang penting ini,” ucapnya.

Bestari meminta Pemprov DKI berani membuat terobosan untuk penataan wajah sungai di Jakarta. Caranya dengan menggenjot penyerapan anggaran untuk proyek infrastruktur. Menurutnya, penyerapan anggaran infrastruktur DKI Jakarta 2017 masih belum maksimal. ”Tahun lalu ada Rp5,05 trilyun (anggaran) yang enggak dapat diserap dari sektor infrastruktur,” ia mengungkapkan.

Ke depan, Bestari melanjutkan, Pemprov DKI perlu mengalokasikan dana infrastruktur untuk membuat konsep teknologi yang mampu mengatasi sengkarut masalah sungai di Jakarta. Misalnya dengan menghadirkan teknologi atau model pengelolaan sungai yang sedikit di bawah Korea Selatan. ”Targetnya agar aliran 13 sungai yang ada di Jakarta ini tidak menjadi tempat sampah, tempat membuang keluh kesah. Tapi justru menjadi tempat tujuan wisata," kata politisi Partai NasDem itu.

Andhika Dinata dan Dara Purnama

++++

Hasil Penelitan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada Januari 2018 (untuk data sampel di 90 titik dari 20 sungai di Jakarta) sebagai berikut.

Sungai indikasi tercemar berat 61%, Sungai indikasi tercemar sedang 27%, Sungai indikasi tercemar ringan 12%.

Sungai tercemar berat :

Sungai Ciliwung (7 titik pencemaran)
Sungai Mookervaart (5 titik pencemaran)
Sungai Cipinang (4 titik pencemaran)
Sungai Angke (4 titik pencemaran)
Sungai Grogol (4 titik pencemaran)
Sungai Sunter (4 titik pencemaran)
Lainnya

Pemprov DKI sudah melakukan konsultasi publik untuk pembangunan JSS Jakarta Sewerage System. Dalam Masterplan tersebut direncanakan pembuatan 15 zona sewerage di DKI Jakarta. Dari 15 zona, 1 zona sudah eksisting di kawasan Setiabudi yang ditangani langsung oleh PD. PAL. Lainnya dalam perencanaan.

Sumber: Pemprov DKI

Cover Majalah GATRA edisi No.5 / Tahun XXV / 29 Nov - 5 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Infoproduk
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com