Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Fenomena Jelang Akhir Tahun

Indeks utama Wall Street terjun bebas lebih dari 2%. Memunculkan kekhawatiran anjloknya bursa saham lokal. Namun analis menyebut IHSG akan melaju mulus di akhir tahun.

Sepekan setelah pertemuan KTT G20 yang berlangsung di Buenos Aires, Argentina, indeks saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) tercatat melemah. Jatuh lebih dari 2% saat penutupan perdagangan pada Jumat, 7 Desember lalu. Pelemahan didominasi oleh saham-saham di sektor perbankan dan industri. Penyebabnya, terjadinya penurunan imbal hasil obligasi AS sebagai akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi. Buntutnya, pelaku pasar melakukan aksi jual saham secara masif. Mereka mengkhawatiran atas meningkatnya ketegangan perang dagang AS-Cina. Juga kenaikan tingkat suku bunga perbankan yang tak dapat diprediksi.

Mengutip Reuters, Jumat pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 558,72 poin atau 2,24% menjadi 24.388,95 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 62,87 poin atau 2,33% menjadi 2.633,08 poin. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite turun 219,01 poin atau 3,05% menjadi 6.969,25 poin.

Selain isu resesi, ekonomi AS dituding menjadi penyebab rontoknya saham-saham unggulan di Wall Street. Pelaku usaha global juga dikejutkan dengan kabar penangkapan CFO Huawei Technologies, Meng Wanzhou, oleh otoritas Kanada atas permintaan AS. Pelaku pasar menaruh perhatian atas kasus tersebut yang semakin mengaburkan optimisme tentang “gencatan senjata” perang dagang antara AS dan Cina.

Bagaimana dampaknya pada Indonesia? Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam pekan ini mengalami tekanan searah dengan pergerakan bursa saham di kawasan Asia. Pada Selasa malam pekan ini, IHSG dibuka melemah 34,77 poin atau 0,57% menjadi 6.076,59 poin. Di atas kertas, IHSG masih bertahan di atas 6.000 poin. Namun laju indeks saham sejalan dengan bursa Eropa dan mayoritas bursa Asia. Bila bursa saham Asia melemah, maka bursa saham IHSG juga ikut terkoreksi.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menerangkan, tumbangnya saham Wall Street yang diikuti penurunan sejumlah pasar saham Asia jelas akan berdampak pada laju IHSG. “Secara sentimen berpengaruh, karena pelaku pasar modal kita lebih banyak melihat bagaimana pergerakan saham di luar,” ujar Reza kepada GATRA.

Padahal, menurutnya, tidak ada korelasi langsung antara melemahnya bursa saham AS dan kondisi saham di Indonesia. Menurutnya, yang kerap terjadi adalah reaksi psikologis dari pelaku pasar yang turut andil menciptakan kondisi pasar modal yang lemah. “Karena mereka [pelaku pasar] gampang panikan, maka ketika bursa saham global melemah sudah antipati duluan,” ia menerangkan.

Reza menyebut kasus penangkapan Boss Huawei tidak menjadi faktor determinan dalam memengaruhi pasar domestik. “Dengan tertangkapnya petinggi Huawei ini, para pelaku bursa saham di Amerika cenderung melakukan aksi jual. Itu akhirnya direspons negatif oleh bursa saham kita, padahal enggak ada hubungannya,” ucapnya.

Banyak analisis menyebutkan bahwa dampak pelemahan saham global akan menghantam saham perbankan dan perusahaan berkapitalisasi besar. Namun, sentimen itu tidak terlalu berpengaruh pada kondisi saham di IHSG. Sepanjang pekan ini, saham perbankan seperti BCA dan BRI kukuh pada posisi top gainers di IHSG. Perusahaan BUMN, seperti Telkom dan Waskita Karya, mampu menerobos bursa saham teraktif. Di lingkaran korporasi, ada Astra yang menunjukkan pergerakan cukup oke.

Menguatnya saham BCA dan BRI, Reza menerangkan, lebih pada ketepatan strategi pelaku pasar yang mencoba memanfaatkan pelemahan saham perbankan sebelumnya. Menurut Reza, pelaku pasar perbankan saat ini lebih rasional dan taktis dalam mengambil keputusan. “Dengan penguatan perbankan hari ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mencoba untuk memanfaatkan pelemahan yang terjadi sebelumnya,” Reza menguraikan.

Demikian juga penguatan saham konstruksi oleh Waskita Karya, yang menurutnya dipengaruhi oleh sentimen percepatan pembangunan infrastruktur menjelang akhir tahun. “Juga ada berita pembayaran sejumlah proyek infrastruktur ke emiten konstruksi, itu jelas berpengaruh,” kata Reza.

Sementara itu, menguatnya saham Astra dan Telkom, sambung Reza, lebih dipengaruhi oleh fenomena akhir tahun atau window dressing. Pada momen akhir tahun, pelaku pasar cenderung mempercantik portofolio serta membangun optimisme bahwa konsumen akan menginvestasikan sejumlah uangnya di akhir tahun untuk membeli mobil atau kendaraan baru. Bahkan ada yang berencana meningkatkan layanan internet cepat (IndiHome), TV langganan, dan jaringan telekomunikasi. “Kondisi itu jelas berpengaruh positif pada saham Astra dan Telkom,” ia menjelaskan.

Pengamat pasar modal Christofer Wibisono berpendapat, dalam kondisi resesi ekonomi AS, pelaku pasar harus mampu memilah sektor industri yang paling sedikit terkena pengaruh dari sentimen negatif saham di AS. “Pelaku usaha sebaiknya fokus pada sektor yang dominan pada permintaan pasar domestik. Contoh sektor yang dominan adalah basic consumer dan infrastruktur,” ucapnya.

Christofer menyebutkan pada akhir tahun akan terjadi peningkatan bursa saham domestik di kisaran 3%–4%. Peningkatan itu, menurutnya, dikenal sebagai fenomena “Rally Santa Claus”, yakni tren kenaikan harga saham di bulan Desember yang umumnya terlihat selama pekan terakhir perdagangan sebelum Tahun Baru.

“Tentu di akhir tahun diharapkan ada [fenomena] Santa's Rally. Menurut saya akhir tahun ini saham akan ditutup positif di kisaran 6.200–6.300 poin,” ujar Direktur Centralink Wisesa Group itu, optimistis.

Andhika Dinata
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com