Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Sandera Trump untuk menangkan Perang Dagang

Jika Meng Wanzhou diekstradisi ke AS, maka “genjatan senjata” perang dagang AS dan Cina bakal buyar. Ekspansi teknologi informasi komunikasi 5G Huawei menakutkan sejumlah negara maju.

“BEBASKAN Meng Wanzhou! We love you!” teriak Joe Luo di luar Gedung Mahkamah Agung British Columbia di pusat kota Vancouver, Kanada. Pengusaha bertubuh kekar itu memanfaatkan istirahat makan siang pada hari Senin lalu untuk memprotes penahanan Chief Financial Officer (CFO) Huawei, Sabrina Meng Wanzhou, yang ditangkap di bandara ketika transit di Vancouver untuk menuju Meksiko pada 1 Desember.

Saat sidang jaminan terhadap Meng tengah berlangsung, Luo terus membagikan poster yang bertuliskan “We Love You Huawei” kepada sesama pendukung Meng. “Kanada melakukan tindakan yang bodoh, mengotori tangannya sendiri, dan menyinggung hak asasi manusia!” katanya. “Para hakim di sini tidak patuh hukum. Tanpa hukum!” teriak seorang lelaki tua yang mengantre di luar pengadilan, seperti diberitakan oleh South China Morning Post pada Selasa, 11 Desember lalu. Sidang yang dibuka pada pukul 10.00 pagi waktu setempat itu dipenuhi ratusan warga yang berkumpul di ruang sidang. Sebanyak 149 kursi di galeri terisi penuh dan 100 orang tumpah di ruang tunggu.

Namun terselip juga sejumlah pengunjung yang mendukung penahanan bos Huawei tersebut. Salah satunya Gao Bing Chen, seorang blogger terkemuka anti-Partai Komunis. Mereka mengkritik Pemerintah Cina dan Huawei yang dituding sebagai perusahaan mata-mata. Namun jumlah pemprotes kalah jauh dari para pendukung Meng dan Huawei.

Kehebohan ini bisa jadi makin memuncak. Betapa tidak, Meng kini menghadapi kemungkinan ekstradisi ke Amerika Serikat (AS) dengan tudingan penipuan perbankan. Negeri Paman Sam itu menuduh Huawei menggunakan perusahaan cangkang yang ada di Hong Kong untuk menjual peralatan ke Iran, yang melanggar sanksi AS. Dalam tuduhan itu, disebutkan pula Meng dan Huawei “menyesatkan bank-bank Amerika tentang urusan bisnisnya” di Iran.

***

Di ruang sidang, tampak suami Meng, Liu Xiaozong, didampingi salah satu pengacara, duduk persis di belakang kursi Meng. Sidang Senin lalu adalah persidangan kedua setelah pada Jumat pekan lalu, 7 Desember, tertunda. Ternyata sidang hari Senin bernasib sama, hakim William Ehrcke mengumumkan untuk menunda lagi hingga Selasa pagi, 11 Desember. Meng pun dibawa masuk ke penjara, setidaknya satu malam lagi.

Pengacara Meng, David Martin, mengatakan suami Meng akan menjadikan dua rumahnya di Vancouver ditambah Can$1 juta (US$ 1,04 juta) dengan nilai total Can$15 juta (US$15,5 juta) sebagai jaminan. David Martin menegaskan Meng bersedia membayar perusahaan pengawasan untuk memantau dan memakai monitor mata kaki.

Sementara itu, saat dipanggil untuk melakukan pembelaan terhadap Meng, Scott Filer dari Manajemen Risiko Lions Gate mengatakan perusahaan sendiri yang akan segera bertindak jika kliennya melanggar kondisi jaminan. Di bawah proposal penahanan, ruang gerak Meng akan dibatasi hanya untuk Vancouver dan kota-kota di sekitarnya.

Namun melihat pengajuan jaminan itu, jaksa mendesak pengadilan untuk menolak permintaan tersebut. Jaksa sejak Jumat pekan lalu mengatakan para eksekutif Huawei memiliki sumber daya yang besar dan dorongan yang kuat untuk membebaskan Meng. Apalagi merujuk pada perkara tuduhan Meng melakukan aksi penipuan di AS, yang bisa memenjarakannya selama 30 tahun.

***

Tak pelak lagi, penangkapan Meng telah memicu kembali ketegangan perdagangan AS-Cina di saat kedua negara berusaha menyelesaikan perselisihan soal hak intelektual teknologi dan strategi industri Beijing. Kedua negara terus berusaha untuk menjaga isu tersebut secara terpisah. AS telah memberlakukan tarif US$250 milyar untuk produk impor Cina dan menuduh Cina mencuri teknologinya dan memaksa perusahaan AS untuk menyerahkan rahasia dagang.

Lalu ada tarif senilai US$200 milyar dari impor dijadwalkan meningkat dari 10% menjadi 25% pada 1 Januari 2019. Tetapi usai makan malam pada 1 Desember dengan Presiden Cina Xi Jinping di Buenos Aires, Argentina, Presiden AS Donald Trump setuju untuk menunda kenaikan tarif selama 90 hari, dengan membeli waktu untuk negosiasi lebih lanjut. Genjatan senjata pun disepakati.

Namin, tuduhan berlapis Amerika terhadap Huawei memang tak main-main. Perusahaan pemasok global terbesar peralatan jaringan untuk perusahaan telepon dan internet itu telah menjadi target kekhawatiran keamanan AS, Selandia Baru, dan Australia karena hubungannya dengan Pemerintah Cina. AS telah menekan negara-negara sekutunya yang lain untuk membatasi penggunaan teknologi Huawei dan memperingatkan mereka akan potensi terjadinya pengawasan serta pencurian informasi.

Insiden penangkapan itu telah membuat pasar bergolak. Senin, 10 Desember lalu, pasar saham di seluruh dunia turun lagi. Selain itu, pada akhir pekan lalu, Cina resmi melakukan protes. Wakil Menteri Luar Negeri Cina, Le Yucheng, memanggil Duta Besar Kanada John McCallum dan Duta Besar AS Terry Branstad. Le memperingatkan kedua negara bahwa Beijing akan mengambil langkah berdasarkan tanggapan mereka.

Ditanya pada hari Senin apa langkah-langkah itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lu Kang mengatakan, “Itu sepenuhnya tergantung sisi Kanada itu sendiri.” Lu menuduh sejumlah negara –yang tidak disebutkan namanya—telah menghipnotis, dengan apa yang disebut sebagai “ancaman”. “Saya harus memberi tahu Anda bahwa tidak ada satu pun bukti yang pernah mereka sajikan untuk mendukung tuduhan mereka,” katanya. Dia mengatakan, AS telah menciptakan hambatan bagi operasi normal perusahaan berdasarkan spekulasi yang cukup tidak masuk akal.

G.A. Guritno

***

Ongkos Mahal Mencopot Huawei

Pemerintah Kanada tengah meninjau lagi keamanan nasional untuk menentukan apakah harus mengharamkan produk Huawei dari jaringan seluler 5G. Kanada belum memiliki aturan untuk melarang teknologi Huawei. Sejauh ini, baru Amerika Serikat (AS), Australia, dan Selandia Baru yang telah melarang semua produk Huawei.

Betapa tidak, Kanada memang harus berpikir dua kali untuk mencopot Huawei. Dua perusahaan telekomunikasi Kanada, Telus dan BCE, harus menanggung sekitar US$1 miliyar atau Rp14 trilyun jika membongkar semua perangkat buatan Huawei dan ZTE dalam jaringan telekomunikasinya. Hal itu berdasarkan perhitungan para eksekutif Telus dan BCE. Sementara itu, Rogers yang bermitra dengan Ericsson tidak banyak terbebani. Ericsson adalah pesaing utama Huawei di 5G.

Huawei mengklaim sepertiga populasi di dunia terhubung perangkatnya. Ekspansi Huawei dan ZTE saat ini dinilai sebagai bagian dari OBOR (One Belt One Road) Tiongkok. Menghadapi kemajuan pesat teknologi Cina ke berbagai negara membuat AS mengkhawatirkan dua hal. Pertama, potensi pencurian data dan pengawasan yang dilakukan oleh Cina. Kedua, potensi terjadinya penyerobotan atau diretas oleh Cina atas perangkat IoT yang berkerja secara otomatisasi.

Jika Huawei terkena sanksi AS, maka pasokan komponen mereka dari AS akan tersendat, misalnya kerja sama dengan Qualcomm di teknologi 5G. Namun apakah AS benar-benar serius. Larangan penjualan tujuh tahun dari Departemen Perdagangan AS kepada ZTE membuat perusahaan Cina itu menutup operasinya di AS.

Tapi begitu Presiden Cina, Xi Jinping meminta Presiden AS Donald Trump ikut campur tangan, larangan itu pun dicabut. Dan ZTE setuju membayar denda hingga US$1,4 milyar, mengganti anggota dewan, dan menempatkan petugas kepatuhan AS.

G.A. Guritno

***

Simpul Besar Kasus Huawei

• Meng Wanzhou ditangkap di Vancouver ketika transit dari Hong Kong menuju Meksiko

• AS punya waktu 60 hari untuk membuktikan Meng bersalah dan mengekstradisi ke AS

• Meng dituduh ikut berkonspirasi untuk menipu perbankan AS

• Surat perintah penangkapan pengadilan New York keluar pada 22 Agustus.

• Jaksa penuntut Kanada John Gibb-Carsley menyebut Meng rutin ke AS untuk mengunjungi anaknya yang bersekolah di Boston

• Meng berhenti berkunjung setelah Departemen Hukum AS mulai menyelidiki Huawei, sejak Maret 2017.

• Namun para eksekutif Huawei tetap berkunjung ke AS. Hal ini menyiratkan kalau Meng punya posisi berbeda di Huawei

• Meng juga dewan direksi Skycom, perusahaan berbasis di Hong Kong

• Skycom sebagai perpanjangan tangan Huawei diduga berbisnis dengan Iran antara 2009-2014. Keduanya memakai logo perusahaan yang sama

• Huawei bekerja sama dengan bank asal AS jadi dianggap melanggar sanksi embargo terhadap Iran secara tak langsung

• Huawei mengatakan memiliki sedikit informasi dan tak mengetahui apakah Meng melanggar hukum

• Huawei percaya pada sistem hukum AS dan Kanada dan mengikuti semua hukum dan regulasi yang berlaku di negara tempat mereka beroperasi.

• Pengacara Meng, David Martin membuka slide presentasi tahun 2013 untuk bank di Hong Kong yang menyebut Huawei tak melanggar sanksi dagang AS.

• Kanada tidak memberitahu Cina soal penangkapan Meng

• Cisco mengingatkan staf AS jika berkunjung ke Cina, khawatir pembalasan atas kasus Huawei

***

AS Membidik Perangkat Huawei

• AS mendesak Kanada tidak menggunakan teknologi 5G Huawei

• AS menilai Huawei sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.

• Awal 2018 AS diduga meminta operator setempat, AT&T dan Verizon, membatalkan kemitraan dengan Huawei untuk merilis Mate 10 Pro

• AS memperluas upaya melawan Huawei di negara yang sudah memakai peralatan jaringan Huawei, termasuk Jerman, Italia, dan Jepang

• Jepang melarang pemerintahan memakai produk Huawei dan ZTE demi keamanan siber.

• AS pertimbangkan peningkatan bantuan keuangan untuk telekomunikasi, jika negara itu berjanji tidak memakai produk asal Cina

***

Pangsa Pasar Smartphone

Lain-lain: 33,8%

Samsung: 20,3%

Huawei: 16,6%

Apple: 13,2%

Xiaomi: 9,7%

Oppo: 8,4%

Sumber: Global Shipment, Quartal 3, 2018

***

Pangsa Pasar Jaringan Huawei

Huawei pimpin pasar peralatan jaringan telekomunikasi di wilayah Eropa dan Asia Pasifik. Nokia memimpin pasar di Amerika Utara, disusul Ericsson.

Huawei: 22%

Nokia: 13%

Ericsson: 11%

ZTE: 10%

*Diolah berbagai sumber
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com