Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KOLOM

Gencatan Senjata Setengah Hati antara Trump dan Xi

Tanggal 1 Desember 2018 di G20 Summit di Buenos Aires, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan petinggi Cina Xi Jinping menyetujui moratorium peningkatan tarif impor selama 90 hari untuk memberikan kesempatan negosiasi di antara keduanya. Sayangnya, gencatan senjata perang dagang tersebut serasa dipaksakan atau setengah hati. Pendekatan mediasi tersebut tidak selalu berhasil bahkan investor tidak antusias menyambut gencatan tersebut. Terbukti dari turunnya indeks Dow Jones rata-rata sebesar 800 poin pada 4 Desember lalu. Apalagi sekarang pasar makin skeptis dengan insiden ditangkapnya Chief Financial Officer Huawei, Meng Wanzhou, atas tuduhan melanggar sanksi AS terhadap Iran.

Oleh: -b-Tri Winarno
Ekonom senior Economic Research Group and Monetary Policy Departement, Bank Indonesia

Ada banyak contoh sebelumnya tentang pendekatan kedua presiden adidaya tersebut untuk menurunkan ketegangan perang dagangnya, tetapi dari berbagai contoh tersebut tidak banyak memberikan harapan. Pada Februari 1930, League of Nations melakukan konferensi internasional di Geneva untuk mengatasi merebaknya "ideologi" protectionism yang ditengarai menghambat perkembangan skala produksi global dan menyumbat pemulihan ekonomi Eropa dan semakin menggejala di mana proteksionisme digunakan sebagai senjata perang ekonomi antar negara di Eropa. Tiga puluh negara mengirimkan delegasinya. AS, walaupun belum menjadi anggota Liga Bangsa-Bangsa, juga mengirimkan dubesnya di Paris, Edward C. Wilson.

Di awal negosiasi, komite ekonomi Liga Bangsa-Bangsa (Economic Committee of the League) merancang perjanjian yang intinya agar dilakukan gencatan senjata perang dagang selama dua tahun. Tetapi para delegasi tidak mau menandatangani draf perjanjian tersebut dan juga menolak versi peredaan ketegangan perang ekonomi yang diajukan Prancis. Negara-negara baru yang mempunyai rencana industrialisasi yang ambisius tidak siap membatalkan program ekonominya (mirip ambisi Cina dalam ''Made in China 2025''). Negara-negara yang mengalami defisit transaksi berjalan yang kronis berkeberatan menandatangani draf perjanjian tersebut selama tidak ada komitmen yang kuat dari negara-negara yang surplus neraca transaki perdangannya (mirip dengan keluhan AS dibawah Trump)

Tidak ada kesepakatan ekonomi yang berarti dalam konferensi tersebut. Bahkan, ketika AS memberlakukan tarif Smoot-Hawley empat bulan kemudian karena desakan politik domestik AS, pemerintah Eropa yang marah merespons dengan cara yang sama. Akhirnya, dunia dilanda resesi berat, semua sengsara, dan miskin sehingga menghantarkan dunia pada perang besar.

Sebelum depresi besar di AS, pemberlakuan tarif Smoot-Hawley berjalan sesuai rencana dan mulus. Tetapi menjelang resesi besar, tekanan untuk melakukan proteksionisme semakin membesar sehingga permintaan domestik ekonomi AS semakin anjlok yang akhirnya terjerat dalam resesi besar. Dan biang keladi utama nya adalah kebijakan proteksionisme berupa peningkatan tarif impor.

***

Saat ini, tatkala pasar properti AS mulai membeku dan kondisi pasar uang mulai mengetat, tanda-tanda resesi AS sudah mulai di depan mata. Bersama dengan penurunan pasar modal, gejala resesi AS tersebut akan meningkatkan tekanan pada Trump untuk berbuat sesuatu agar ekonominya menguat lagi. Dan kemungkinan Trump akan melakukan sesuatu yang berakibat buruk pada Cina.

Masalah utama pada pertemuan di Jenewa 1930 adalah para delegasi yang hadir berbekal pandangan yang berbeda tentang apa yang harus disepakati, persis seperti saat ini tatkala pada pertemuan antara Cina dan AS di G20 Summit di Argentina. Di satu sisi pemerintahan Trump menuntut perkembangan yang cepat terhadap penurunan defisit transaksi perdangannnya sedangkan Cina berpendapat harus terjadi pengurangan secara bertahap. Di satu sisi, Gedung Putih memberikan waktu 90 hari untuk melakukan perundingan, sedangkan pihak Cina tidak secara spesifik menyebut masalah penetapan waktunya (time frame).

Begitu pula, tatkala Gedung Putih menyatakan Cina akan melakukan pembelian sangat substantif terhadap produk-produk AS seperti hasil pertanian, energi, dan barang industri, Cina menyatakan akan mengimpor barang lebih banyak dari AS. Bisa jadi, kesepakatan tersebut tidak akan ada tindak lanjut yang memadai, mengingat ekonomi Cina akan tetap tahan terhadap goncangan perang dagang dengan dukungan dari kebijakan fiskal dan moneter yang robust.

Yang lebih mengkawatirkan adalah perbedaan persepsi terkait dengan hak kepemilikan intelektual. Menurut penyataan dari AS, Cina akan segera bernegosiasi tentang transfer teknologi yang dipaksakan dan hak kepemilikan intelektual. Sebaliknya, pejabat Cina menyatakan hanya akan ada kerja sama yang menyangkut masalah perdagangan.

Padahal, reformasi rezim hak kepemilikan intelektual adalah keprihatinan AS yang sangat mendalam. Di AS, keprihatinan itu menyeruak hingga ke tingkat konstituen Trump. Namun memperkuat proteksi hak kepemilikan intelektual akan merubah fondasi model perekonomian Cina. Karena itu, terkait dengan isu hak kepemilikan intelektual mustahil akan disepakati dalam tempo tiga bulan sejak G20 Summit di Buones Aires.

***

Lantas, negosiasi apa yang akan terjadi antara Trump dan Xi? Salah satu skenario yang paling mungkin adalah Cina akan membeli tambahan kedele dari AS. Kemudian, Trump akan menepuk dada serta mengklaim kemenangan besar atas Cina dalam perang dagangnya. Tidak terjadi perubahan yang substansial, tetapi paling tidak pertikaian diplomatik, komersial, dan ketidakpastian hubungan antara kedua gajah tersebut akan berakhir. Lagi-lagi sudah ada contohnya tentang hal itu, yaitu tentang renegosiasi North American Free Trade Agreement, yang telah berakhir seperti skenario di atas. Melempem tak ada perubahan yang berarti, dan tahu-tahu dinyatakan selesai, dan hanya berubah nama.

Atau alternatifnya, seperti hasil perjanjian nuklir Trump dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Yaitu, Cina mengumumkan atau pemerintahan Trump berimajinasi bahwa Cina telah mengumumkan suatu transformasi yang mendasar tentang perekonomiannya. Tetapi faktanya, teroboson itu hanya ilusi. Kenyataannya, tidak terjadi perubahan yang substantif dalam sikap Cina terhadap tuntutan AS. Namun ketika Trump dan penasehatnya sadar faktanya demikian, maka ketegangan antar keduanya memuncak lagi dan perang dagang akan mulai lagi.

Skenario yang mana yang paling mungkin? Sebagaimana yang terjadi pada 1930, jawabnya tergantung arah ekonomi AS ke depan. Kalau ekspansi ekonomi AS berlanjut, sebagaimana yang terjadi selama renegosiasi NAFTA, maka Trump akan cenderung menerima konsesi semu, yang Trump akan klaim bahwa AS telah memenangkan perang dagang. Tetapi kalau arah ekonomi AS ke depan menunjukkan tanda-tanda melemah menuju resesi, maka Trump akan cari kambing hitam untuk dijadikan biang keroknya. Dan dalam kasus ini, kita dapat menebak dengan pasti siapa yang jadi korban: Cina.

Adanya gencatan senjata antar dua gajah tersebut akan berdampak positif terhadap emerging markets begitu pula terhadap Indonesia. Karena dengan adanya gencatan senjata antara AS dan Cina akan memberikan kepastian ekonomi yang lebih besar terhadap akselerasi perekonomian global.

Dan yang paling penting bagi perekonomian AS adalah dengan adanya gencatan senjata, tekanan ke inflasi tidak terlalu kencang sehingga kenaikan tingkat bunga di AS akan semakin mengendor. Sehingga dampaknya terhadap emerging markets, termasuk Indonesia, adalah adanya arus modal asing balik ke kawasan emerging markets. Dengan demikian melalui mekanisme transmisi keuangan, mata uang emerging markets, termasuk rupiah, ke depan akan semakin terapresiasi terhadap dolar AS. Yang ujung-ujungnya akan mendorong perekonomian Indonesia lebih bertenaga sehingga mampu bangkit dari stagnasi.

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com