Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Aksi GM Abaikan Langkah Trump

General Motors akan menutup lima pabrik di Amerika Serikat dan Kanada pada akhir 2019. Tapi memperbesar kapasitas pabrik di Meksiko. Trump meradang.

Dulu dibantu. Tapi setelah sukses, malah tak tahu diri. Begitulah citra buruk yang kini melekat di General Motors (GM), perusahaan otomotif asal Amerika Serikat.

Akhir November lalu, secara mengejutkan GM mengumumkan akan menutup total lima pabriknya. Tiga berlokasi di AS dan dua di Kanada. Sebanyak 14.000 karyawan terancam PHK akibat kebijakan itu.

Dalam penjelasan resmi, CEO GM, Mary Barra, mengatakan bahwa penutupan lima pabrik itu dilakukan demi efisiensi. Pasalnya kelima pabrik itu terus merugi. Bahkan hanya mampu berproduksi separuh dari kapasitas.

Salah satu pabrik yang akan ditutup, berlokasi di Michigan, misalnya, hanya berproduksi delapan jam sehari. Sementara itu, untuk bisa untung, tiap pabrik harus berproduksi minimal 16 jam per hari. “Kami sadar ini keputusan sulit, tapi kami harus memastikan bahwa GM akan terus ada sampai puluhan tahun ke depan,” kata Barra dalam wawancara dengan stasiun televisi Fox News.

Menurut hitungan GM, dengan penutupan lima pabrik itu, mereka bisa menghemat sampai US$6 milyar. Pada 2017, GM memang mencatatan kerugian sebesar US$3,9 milyar; meskipun pada 2016 GM untung besar setelah mencatatkan laba bersih (net profit) senilai US$9,4 milyar.

Keputusan itu disambut positif oleh para analis keuangan. Sehari setelah pengumuman itu, harga saham GM di Bursa Saham New York justru naik 5%, sinyal bahwa pasar menilai restrukturisasi yang dilancarkan CEO Mary Barra sudah tepat.

Hanya, untunglah, penutupan itu tidak mendadak. Manajemen GM menjelaskan bahwa eksekusi penutupan kelima pabrik itu baru akan dilakukan pada akhir 2019. Ini berarti, para pekerja di lima pabrik itu mendapat waktu setahun untuk mencari pekerjaan baru.

Tapi reaksi para pekerja jelas berbeda. Respons para politisi di AS dan Kanada juga berbeda. Perdana Menteri Kanada, Justrin Trudeau, mengungkapkan kekecewaannya atas penutupan dua pabrik GM di Kanada.

Respons lebih keras datang dari para politisi AS. Barra, 56 tahun, langsung dipanggil ke Washington untuk menghadap para senator AS yang marah. Wanita yang pada 2017 lalu mendapat kompensasi sebesar US$21,9 juta ini juga harus berhadapan dengan Presiden AS, Donald Trump, yang terang-terangan mengungkapkan kemarahannya.

Dua hari setelah pengumuman restrukturisasi GM, Trump langsung membuat komentar pedas di akun Twitter-nya. “Bila GM tidak mau mempertahankan lapangan kerja di AS, mereka harus mengembalikan US$11,2 milyar dana bailout dari uang pembayar pajak,” tulisnya pada Rabu, 28 November lalu.

Cuitan Trump tersebut mengacu pada penyelamatan yang dilakukan Pemerintah AS terhadap GM pada 2008 silam. Ketika itu, akibat krisis finansial di AS, GM melaporkan kerugian besar-besar sebesar US$38,7 milyar. Pemerintah AS di bawah Obama pun lalu mengucurkan bantuan dana talangan (bailout) sebesar US$13,4 milyar demi mempertahankan lapangan kerja di sektor otomotif.

Tapi dana bailout itu secuil itu tidak cukup. Setahun kemudian, GM menyatakan bangkrut. Lagi-lagi, Pemerintah AS turun tangan. Presiden Obama kembali mengucurkan dana bailout sebesar US$30 milyar hingga GM tidak bubar. Belakangan, kucuran dana sebesar US$30 milyar itu juga membengkak dalam realisasinya.

Total, menurut hitungan Departemen Keuangan AS, Pemerintah AS telah menginvestasikan dana sebesar US$50 milyar ke GM agar perusahaan itu tetap eksis. Investasi itu dikompensasikan dengan kepemilikan saham pemerintah AS di GM sampai 61%.

Baru pada 2013, setelah GM stabil, Pemerintah AS menjual 61% saham itu dengan nilai rugi sebesar US$38,8 milyar. Total kerugian yang harus ditanggung Pemerintah AS sebesar US$11,2 milyar, yang berasal dari dana pembayar pajak. Besaran dana itulah yang kembali diungkit Trump dalam cuitannya.

Trump tidak cuma yang mengungkit masa lalu, bagaimana dulu Pemerintah AS telah banyak membantu GM. Ia juga mengacam akan menerapkan tarif 25% bagi mobil GM yang diproduksi di luar negeri.

Salah satu isu krusial di balik penutupan ini memang soal produksi GM di luar negeri, terutama di Meksiko dan Cina. Meski GM merencanakan menutup lima pabrik di AS dan Kanada, pada saat bersamaan GM disebut-sebut memperbesar kapasitas pabrik di Meksiko.

Sampai Oktober lalu, misalnya, pabrik GM di Meksiko sudah memproduksi lebih dari 700.000 unit kendaraan, terutama model SUV, lalu mengekspornya balik ke AS. Saat ini, GM sudah memiliki empat pabrik berkapasitas penuh di Meksiko.

Situasi itu yang membuat para politisi AS dan serikat buruh berang. GM dinilai tidak tahu terima kasih, ibarat kacang lupa kulit. Setelah dibantu pemerintah ketika bangkrut, lalu kembali stabil, justru kembali ke taktik lama, yaitu relokasi pabrik di luar negeri. Padahal, melawan praktik korporasi yang merelokasi pabrik ke luar negeri –hingga menghilangkan lapangan kerja di AS—merupakan salah satu kebijakan sentral pemerintahan Trump.

CEO Mary Barra memang tidak membantah tudingan bahwa mereka memperbesar kapasitas pabrik di Meksiko. Tapi ia menjelaskan bahwa ekspansi bisnis di Meksiko sudah diputuskan bertahun-tahun sebelumnya, dan tidak ada kaitannya dengan rencana restrukturisasi GM sekarang.

Keputusan GM untuk menutup pabriknya di AS dan Kanada dan lebih mengembangkan pabrik di Meksiko memang terasa seperti pengkhianatan. Setidaknya begitulah yang dirasakan serikat buruh.

Ketua serikat pekerja otomotif AS (United Automobile Workers) , Gary Jones, dalam pernyataannya mengecam betapa mudahnya GM lupa. “Meski dibantu ketika lagi susah, ditalangi dana pembayar pajak AS, kini mereka memalingkan punggunya dari para pekerja AS,” katanya.

Basfin Siregar

-----------Infografis -------------

Jatuh-Bangun Bisnis GM

2008

GM mengumumkan kerugian sebesar US$38,7 milyar

CEO GM saat itu, Rick Wagoner, bersama CEO Ford dan CEO Chrysler, menghadap Kongres dan meminta bantuan sebesar US$25 milyar untuk industri otomotif AS.

GM akhirnya menerima dana bailout sebesar US$13,4 milyar.

2009

Mei: GM kembali menerima suntikan dana bailout sebesar US$6 milyar

Juni: GM menyarakan bangkrut. Pemerintah AS mengucurkan dana talangan sebesar US$30 milyar, dikompensasi dengan kepemilikan 61% saham.

Juli: GM keluar dari kebangkrutan

2011
GM melaporkan keuntungan sebesar US$4,7 milyar untuk tahun keuangan 2010.

2013

Pemerintah AS menjual saham mereka di GM, dan mencatatkan kerugian sebesar US$11,2 milyar dibandingkan dengan total nilai bailout.

Mary Barra diangkat sebagai CEO.

2014
GM menginvestasikan US$ 5 miliar secara bertahap untuk pengembangan pabrik di Meksiko

2016
GM luncurkan mobil listrik

2017
GM mengumumkan mobil listrik dan-hibrida sebagai arah baru bisnis mereka.

2018
GM mengumumkan rencana penutupan lima pabrik, tiga di AS dan dua di Kanada.

Sumber: Riset GATRA
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com